Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, kemacetan jadi momok yang menghantui produktivitas dan efisiensi waktu warga ibu kota. Setelah lebih dari dua dekade tertunda, proyek pembangunan transportasi massal Mass Rapid Transit (MRT) akhirnya dimulai dan dijadwalkan akan selesai pada pertengahan tahun 2019. Saat ini pembuatan terowongan jalur Selatan-Utara tahap I sudah mencapai 50%, yakni dari stasiun Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Dengan kecepatan mengebor 8-10 meter per hari, diharapkan seluruh sistem terowongan akan selesai pada akhir tahun ini.

Kita tunggu saja nanti apakah MRT akhirnya bisa jadi solusi kemacetan yang selama ini kita impikan. Nah sambil menunggu realisasi adanya subway di Indonesia, tak ada salahnya kita belajar hal-hal apa saja sih yang harus kita perhatikan atau etika ketika menggunakan subway. Biar tertib dan beradab gitu ceritanya. Nggak ada salahnya juga belajar dari negara-negara yang sudah punya budaya subway yang baik seperti Singapura dan Jepang. Nih rangkuman Hipwee, disimak bareng yuk!

1. Demi keselamatan sendiri, penumpang MRT di Jepang selalu berdiri di belakang baris aman. Nggak mau ‘kan nyawa melayang karena kecerobohan?

Garis kuning itu bukan sebatas pembatas, artinya beda-beda lho via howibecametexan.com

Seperti dalam stasiun-stasiun kereta biasa di Indonesia, stasiun subway di Jepang juga punya garis kuning pengaman. Di Jepang, calon penumpang tertib menunggu di belakang baris aman. Di Indonesia, garis aman ini biasanya berwarna kuning yang terletak di pinggir peron. Sayangnya, garis aman ini seringnya diabaikan entah karena saking keponya kereta sudah datang atau belum atau memang saking penuhnya stasiun hingga tak ada tempat lagi untuk berdiri.

Ngomong-ngomong, kamu sudah tahu belum fungsi tegel berpola di belakang garis aman yang baru-baru ini diberlakukan di stasiun Jabodetabek? Ternyata garis kuning bukan sekadar hiasan, melainkan berfungsi sebagai petunjuk bagi tunanetra. Ada dua simbol yang tertera, yaitu garis lurus yang berarti ‘jalan’ dan titik-titik yang berarti ‘stop’.

Advertisement

Garis kuning berpola ini dibuat khusus untuk menuntun tuna netra via news.okezone.com

2. Di Jepang untuk masuk kereta harus antre berbaris rapi dan silih berganti antara yang masuk atau keluar

Antre untuk naik kereta via hotel.jalan2.com

Di Jepang, sebelum naik kereta kita harus berbaris rapi di belakang garis aman. Dengan begitu, naik kereta bisa satu persatu dengan teratur dan tak perlu berebutan. Tentunya setelah membiarkan penumpang turun untuk turun terlebih dahulu. Bila tiba gilirannya namun kereta sudah berangkat, maka kamu harus naik kereta selanjutnya. Jadi kalau kamu memang buru-buru harus datang pagi-pagi supaya dapat antrian depan ya. Kalau di Indonesia, bila tak kuat dan teguh melawan arus, kamu yang hendak turun bisa saja terdorong masuk lagi karena penumpang naik yang tak sabaran. Besok kalau sudah punya subway, dibudayakan antri bergantian ya.

3. Meski sudah ada tempat duduk khusus, lansia di Jepang justru banyak yang bakal menolak jika sudah ditempati duluan. Jadi sebaiknya memang selalu dikosongkan

Orang tua di Jepang tidak suka dikategorikan ‘tidak mampu’ via sirabee.com

Penempatan kursi-kursi khusus bagi ibu hamil, lansia, atau orang yang sedang terluka memang dibutuhkan dalam angkutan umum yang rawan berdesakkan. Seperti halnya dalam kereta subway, pasti ada area khusus di pojok-pojok gerbong. Kursi-kursi itu memang seharusnya senantiasa dikosongkan untuk orang-orang yang berhak. Tidak terbatas pada area khusus itu saja, jika melihat ada orang tua yang tidak kebagian tempat duduk maka sudah seharusnya kamu menawarkan kursimu. Justru uniknya di Jepang, lansia Jepang ternyata tidak suka dipandang lemah dan bakal lebih sering menolak jika ditawari kursi yang sudah terlanjur diduduki. Meski menolak, ada baiknya kamu tetap menyingkir dan berdiri menjauh biar harga dirinya tidak terluka.

4. Serupa dengan di Singapura, bangku prioritas memang diperuntukan bagi penumpang yang berhak. Tak perlu ditegur atau diminta dulu seperti di Indonesia

Bangku proritas ya untuk prioritas via www.kompasiana.com

Sama seperti di Indonesia, kereta di Singapura juga memiliki bangku prioritas yang diperutukan bagi perempuan hamil, manula, orang dengan disabilitas, ataupun orang yang cidera. Bedanya, di Singapura, orang yang merasa tidak termasuk dari kategori di atas tidak akan menggunakan bangku prioritas meskipun sedang kosong. Kalau di Indonesia? Wah, terkadang orang yang membutuhkan pun sering tak mendapat bagian karena bangkunya sudah dipakai orang lain. Begitulah wujud KRL di Jabodetabek, yang jadi wujud sederhana keganasan manusia.

5. Lalu kalau kamu naik eskalator di Singapura, jangan berjajar meskipun rame-rame bareng teman. Kosongkan bagian kanan, karena itu untuk orang yang berjalan

Naik eskalator di sisi kiri kalau tidak mau cepat-cepat via chirpstory.com

Di Singapura, naik eskalator untuk ke peron pun ada aturannya. Naiklah di sebelah kiri, karena bagian kanan diperuntukan bagi orang-orang yang berjalan. Hal ini dikarenakan banyak orang Singapura yang tetap berjalan meski tangganya juga berjalan. Mungkin karena terburu-buru oleh waktu. Jadi walaupun kamu sedang ramai-ramai dengan teman, sebaiknya hindari berdiri bersisihan saat di eskalator dan ngobrol dengan asyiknya.

6. Di Jepang, kalau nggak mau dihujani tatapan sinis penumpang lainnya, jangan menelepon atau berbincang keras-keras di kereta

HP harus silent via www.modifikasi.com

Di KRL, terkadang kita menemui ada penumpang yang berasa sedang di rumah sendiri. Ngobrol keras-keras dengan teman seolah seluruh penumpang di kereta berminat mendengar obrolannya. Digabungkan dengan situasi yang berdesak-desakan dan rasa lelah sepulang bekerja, hal-hal semacam ini tentu mengganggu. Nah orang Jepang nampaknya menyadari betul hal ini. Di kereta, kamu tidak boleh menelepon ataupun ngobrol keras-keras agar tidak mengganggu penumpang lain. Bila panggilan mendesak dan terpaksa diangkat, bicara harus pelan-pelan dan minta izin untuk menelepon lagi bila sudah sampai di stasiun tujuan.

7. Hati-hati dengan tanda ‘no food’ di Singapura. Kalau melanggar, siap-siap miskin karena dendanya lumayan besar

Melanggar aturan hukumannya denda via anyhowhantam.blogspot.co.id

Larangan makan dan minum ini juga sama seperti yang berlaku di KRL Jabodetabek. Tujuannya tentu untuk menjaga kebersihan lingkungan kereta dan supaya tidak mengganggu penumpang lain. Namun masih banyak yang melanggar, terutama saat kereta sedang lengang dan tidak ada penjaga. Bila ketahuan pun, paling hanya teguran dari petugas yang didapat. Tapi di Singapura, ketahuan makan dan minum di kereta hukumannya adalah membayar denda yang tak tanggung-tanggung besarnya. 500 $SG hingga 1000 $SG adalah denda yang harus kamu bayar.

Ngomong-ngomong soal kereta di Jepang dan Singapura, kedua negara tersebut terkenal dengan keretanya yang tepat waktu. Bahkan di Jepang, kereta Shinkansen yang terkenal itu mencatat rekor keterlambatan paling lama hanya 0,3 menit sepanjang sejarahnya. Sementara di Jebodetabek, terkadang KRL terlambat hingga satu jam sehingga penumpang membludak luar biasa. Well, selagi kita perbaiki kedisiplinan dalam transportasi umum, semoga pemerintah juga punya solusi untuk memberikan layanan transportasi yang lebih baik lagi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya