Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Indonesia tidak begitu akrab dengan buku. Pasalnya tahun 2012 lalu, UNESCO menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Artinya dari 1000 penduduk hanya ada satu orang saja yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio seperti ini, maka bisa disimpulkan jika diantara 250 juta penduduk Indonesia, hanya ada 250 ribu orang yang punya minat baca. Bukankah fakta ini sangat mengejutkan ketika disinkronkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014? Yah semoga saja dari delapan puluhan juta pengguna internet itu, ada yang setia menggunakan koneksi internetnya untuk membaca lewat Kindle atau bentuk e-book lain.

Rendahnya tingkat literasi bisa jadi masalah serius buat masa depan bangsa ini. Maka dari itu sudah seharusnya jadi tanggung jawab bersama untuk kembali menggiatkan membaca supaya generasi penerus Indonesia cerdas. Dari pemerintah yang tidak hanya membangun perpustakaan, tetapi juga rutin meng-update buku-bukunya. Atau mungkin orang tua harus lebih sering memberi hadiah buku dibandingkan beli Ipad baru. Tapi ternyata di tengah lesunya budaya membaca Indonesia ini, masih ada pejuang literasi yang tak kenal lelah mengajak generasi muda untuk rajin membaca. Inilah salah satu kisah inspiratifnya.

Indonesia adalah negara kepulauan dimana seringkali fasilitas pusat tidak sampai ke daerah pelosok, termasuk perpustakaan. Demi menjangkau wilayah terpencil itu, ada perahu pustaka

Perahu ajaib milik warga Sulawesi Barat via wartakita.id

Di Sulawesi Barat, ada perpustakaan terapung yang dikenal sebagai Perahu Pustaka. Alasan dibuatnya ialah karena lebih dari 10% penduduk dewasa di Sulawesi Barat diketahui tidak bisa membaca. Sementara di banyak desa kawasan tersebut, satu-satunya buku yang tersedia adalah salinan Al-Quran. Karena Sulawesi lebih banyak kepulauan, maka perpustakaan akan lebih berguna jika bisa bergerak di lautan dan berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Dan karena transportasi laut ialah yang utama di sana, maka perpustakaan dalam perahu dirasa sebuah pilihan yang tepat untuk memperbaiki kualitas generasi masa kini. Orang lokal menyebutnya perpustakaan yang berjalan di sebuah perahu tradisional baqgo.

Yuk kenalan dengan sosok inspirasional di belakang gerakan revolusioner ini, Muhammad Ridwan Alimuddin. Misinya sederhana, biar anak pelosok juga bisa membaca

Ini dia pemuda Mandar yang tularkan semangat membaca ke pelosok Indonesia via www.goodnewsfromindonesia.id

Advertisement

Seorang wartawan lokal bernama Muhammad Ridwan Alimuddin mantap menggabungkan dua kegemarannya, buku dan perahu. Tujuannya memang sangatlah sederhana, yakni membawa buku-buku anak yang menyenangkan dan berwarna-warni ke desa nelayan terpencil dan pulau-pulau kecil di kawasan Sulawesi Barat. Sebab angka melek huruf yang rendah dan kegemaran membaca yang tidak ada, maka Ridwan pun berniat mengajarkan suka cita membaca pada anak-anak di pelosok Indonesia ini. Segera setelah perahu pustaka selesai dibuat, dia bergegas mengundurkan diri dari kantornya. Ya inilah ambisi pribadi seorang Ridwan Alimuddin.

Sejak akhir Agustus 2015, perahu ini sudah berlayar menyambangi pulau-pulau terpencil di Polewali Mandar. Lalu pada 23 April 2016, perpustakaan ini mulai misi besarnya seberangi 3 lautan

Ah semoga literasi Indonesia tak terpuruk lagi via www.astralife.co.id

Sejak akhir Agustus 2015 lalu, Perahu Pustaka telah berlayar menyambangi pulau-pulau terpencil di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Perahu Pustaka ini akhirnya diberi nama Pattingalloang, yang diambil dari Karaeng Pattingalloang yang merupakan tokoh intelektual dan seorang Perdana Menteri dari Kerajaan Gowa Tallo pada abad ke-17 silam. Kemudian pada 23 April 2016 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Buku Internasional, perahu ini nekat berlayar melewati tiga perairan. Yaitu Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Bone. Pelayaran ini sukses ditempuh selama 20 hari. Di pulau-pulau terpencil itu, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh selama dua hingga tiga hari dan menggelar buku-buku bacaan di dermaga maupun di tepi pantai.

Setahun berjalan, Agustus 2016 lalu Ridwan Alimuddin kembali meluncurkan Perahu Pustaka kedua yang diberi nama Perahu Membacaku

Ini nih Perahu Pustaka edisi II via news.rakyatku.com

Seolah ingin mengulang sukses yang sama dan semakin optimis meningkatkan minat baca anak negeri, mantan jurnalis ini pun meluncurkan perahu baru setahun setelahnya. Perahu Pustaka II dibuat lantaran adanya donasi dari rekan Ridwan di Jakarta. Berbeda dari yang pertama, perahu kedua ini difokuskan untuk beroperasi jarak dekat saja di pesisir Teluk Mandar. Ukurannya juga lebih kecil dan tanpa ada kamar seperti pendahulunya.

Sebelum menggalakkan Perahu Pustaka, sejatinya Ridwan Alimuddin telah membuat perpustakaan tetap di kampung halamannya yang terletak di Pambusuang, pesisir pantai Sulawesi Barat. Sudah ada ribuan buku yang menjadi magnet bagi banyak siswa SMA setempat dan bahkan mahasiswa. Sepeda motor dan becak digunakan untuk mengirim buku melalui jalan darat, sementara ATV dan atau sepeda motor roda empat digunakan untuk menjangkau desa-desa pegunungan terpencil, beberapa diantaranya bahkan hanya bisa dicapai dengan menyeberangi sungai-sungai menggunakan rakit bambu.

Tahun 2016 lalu, Indonesia mendapat peringkat literasi nomor dua dari bawah. Apa iya dengan kenyataan seperti ini kita tidak juga berbenah?

Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki nasib bangsa ini via bbc.com

Data terbaru, menurut World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari total 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, sebuah negara di kawasan selatan Afrika. Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Diantaranya ialah perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan dan ketersediaan komputer. Fakta ini juga sejalan dengan survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia. Survei terakhir yang berlangsung tahun 2012 lalu menyatakan, hanya 17,66% anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%. Miris ya?

Penelitian lain dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) yang merupakan studi internasional tiga tahunan tentang prestasi literasi membaca. Kompetensi membaca anak-anak Indonesia melalui studi ini juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 396 poin di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015. Peningkatan tersebut hanya mengangkat posisi Indonesia 6 peringkat ke atas bila dibandingkan posisi peringkat tahun 2012.

Untuk meningkatkan budaya literasi, Indonesia butuh orang-orang macam Ridwan Alimuddin lebih banyak lagi. Yang dengan ikhlas dan sukarela mau meninggalkan pekerjaannya untuk memperbaiki kualitas intelektual bangsa ini. Indonesia butuh banyak program untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarakatnya, utamanya yang ada di pelosok tanah air. Semoga kemampuan literasi Indonesia semakin meningkat lagi ya, sehingga generasi penerus nantinya juga makin siap menghadapi persaingan dengan negara-negara lainnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya