Tak Bisa Bertahan, Sekolah di Kenya Beralih Fungsi Jadi Peternakan Ayam dan Ladang Sayur. Nasib Guru Semakin Miris

Sekolah tutup corona

Beberapa bulan lalu, para siswa masih datang langsung ke sekolah. Mereka bisa belajar bersama di kelas dan bermain dengan teman-temannya. Tetapi sejak pandemi corona merebak, kondisinya berubah drastis. Banyak sekolah di berbagai belahan dunia yang terpaksa ditutup sampai kondisi aman. Dampak ini juga dirasakan di Kenya, Afrika Timur.

Advertisement

Sejak Maret silam, sekolah-sekolah di Kenya terpaksa ditutup. Bahkan rencananya baru dibuka lagi pada Januari 2021. Lalu bagaimana nasib para guru? Di tengah keterbatasan, mereka harus melakukan segala cara agar bisa memperoleh penghasilan.

Sekolah-sekolah di Kenya ditutup akibat pandemi corona. Agar bisa bertahan, seorang pemilik terpaksa mengubah sekolahnya menjadi peternakan ayam

Ruang kelas dijadikan kandang ayam via www.bbc.com

Kini tak terdengar lagi celotehan para murid di Mwea Brethren School. Pasalnya, kegiatan belajar dan mengajar di sana telah terhenti sejak virus corona merebak. Para murid diminta untuk belajar mandiri di rumah masing-masing. Sedangkan para guru kehilangan pekerjaan dan tak mendapat penghasilan. Mereka pun memutar otak agar tetap bisa bekerja.

Dilansir dari BBC, Joseph Maina sebagai pemilik telah mengubah sekolahnya menjadi peternakan ayam. Meja dan kursi disingkirkan agar kelas-kelas bisa dijadikan kandang. Sebagian kelas juga digunakan untuk menyimpan pakan ayam dan peralatan beternak. Setiap hari, Joseph dan dua orang lainnya merawat ayam-ayam agar sehat dan bisa dijual. Tentu kegiatan ini sangat berbeda dibandingkan saat masih aktif menjadi guru, tetapi Joseph tak mempunyai pilihan.

Di wilayah lain, ada sekolah yang terpaksa diubah menjadi ladang sayur. Mereka berkebun dengan keras demi mencari sesuap nasi

Berkebun di halaman sekolah via www.bbc.com

Sekolah bernama Roka Preparatory telah berdiri selama 23 tahun di Kenya. Tetapi akibat pandemi corona, sang pemilik yang bernama James Kung’u terpaksa mengubah sekolahnya menjadi ladang sayur. Berbagai jenis sayuran tumbuh di lapangan yang dulu dijadikan taman bermain murid-murid. Setiap hari, James mengurus kebunnya bersama dua pegawai sekolah yang masih sanggup dipertahankan. Mereka juga beternak ayam untuk memperoleh penghasilan.

Sayangnya, tak semua guru bisa mendapat kesempatan seperti itu. Banyak yang harus bekerja serabutan agar bisa bertahan hidup

Guru dan murid di Kenya via www.flickr.com

Guru-guru yang bekerja sebagai peternak dan pengurus ladang masih dianggap beruntung. Sebab masih banyak sekali guru yang nasibnya terlunta-lunta akibat pandemi corona. Menurut Kenya Private Schools Association (KPSA), ada 133 sekolah di negara ini yang terpaksa ditutup. Sekitar 95% atau lebih dari 300.000 staf di sekolah negeri harus menjalani unpaid leave alias tidak bekerja dan tidak dibayar.

Advertisement

Sebagian kecil sekolah berusaha mengadakan sistem belajar online. Tetapi, biaya sekolah yang dibayar terlalu sedikit sehingga sulit mencukupi kebutuhan hidup. Meskipun para guru bersedia melakukan apa pun, pihak sekolah tak sanggup menyediakan pekerjaan dan memberi bayaran pada mereka. Jadi mereka harus berjuang sendiri agar tetap hidup.

Salah satunya adalah Macrine Otieno, seorang guru yang sudah mengajar selama enam tahun. Dia berubah haluan menjadi nanny atau pengasuh demi membayar sewa rumah dan kebutuhan anaknya. Sedangkan guru bernama Gloria Mutuku memutuskan untuk meminjam uang demi modal usaha. Dia menjadi wirausahawan yang menjual kebutuhan sehari-hari selama sekolah ditutup.

Dalam kondisi yang memprihatinkan, para guru membutuhkan uluran tangan dari pemerintah. Tetapi bantuan yang diberikan belum bisa menolong semua

Ruang kelas di Kenya via www.flickr.com

Selama ini, sekolah telah membantu pemerintah untuk mendidik anak-anak di Kenya. Jadi saat para guru mengalami kesulitan finansial, KPSA berharap pemerintah memberi bantuan sebesar $65 juta atau sekitar Rp950 miliar. Mereka juga ingin agar para guru tetap diberi pekerjaan.

Tetapi sayangnya, pihak kementerian Kenya baru memberi bantuan berupa pinjaman uang untuk orang-orang yang memenuhi syarat. Pinjaman ini dikhawatirkan tidak cukup untuk membantu semua sekolah di Kenya. Kalau pemerintah tak segera memberi bantuan lain, para guru bisa bernasib semakin buruk.

Kondisi di Kenya memang memprihatinkan. Begitu pula di Indonesia, banyak guru yang kehilangan penghasilan gara-gara sekolah ditutup. Seandainya ingin membantu, kita bisa memberi donasi untuk disalurkan pada orang yang membutuhkan. Sedikit bantuan dari kita bisa berarti begitu banyak bagi mereka.

Sudah waktunya kita lebih peduli, kenal, dan memahami virus corona yang sudah hidup di antara kita. Dapatkan E-book Panduan Normal yang Baru di sini.
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE