Belum lama ini banyak media memberitakan soal hijrahnya puluhan warga Ponorogo ke Malang karena termakan isu kiamat. Mereka berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggalnya di Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan untuk berlindung dari kiamat yang katanya akan terjadi pertama kali di daerah tersebut. Nggak cuma pindah aja, mereka bahkan menjual seluruh aset termasuk rumah, buat bekal ke Malang.

Setelah ditelusuri, kabarnya ada 1 orang bernama Katimun yang memprovokasi ke-52 warga itu untuk mencari perlindungan ke sebuah Pondok Pesantren di Malang. Katimun sendiri diketahui sering menggelar ceramah di Desa Watubonang itu. Mungkin dari situlah ia kemudian menyebarkan ajaran-ajaran sesat. Dan ternyata, bukan cuma doktrin tentang kiamat saja yang ia tanamkan ke warga di sana. Inilah 5 ajaran sesat Katimun lainnya yang mendorong banyak warga Ponorogo bedol desa.

1. Ajaran Katimun yang diklaim bernama Thoriqoh Musa ini mengatakan kalau kiamat akan terjadi sebentar lagi. Dan daerah pertama yang kena adalah Desa Watubonang

Termakan ajaran Thoriqoh Musa via news.detik.com

Advertisement

Katimun menanamkan kepercayaan bahwa kiamat akan terjadi dalam waktu dekat. Warga Desa Watubonang pun jadi kalang kabut. Dilansir dari Detik, mereka akhirnya memutuskan pindah ke Ponpes Miftahul Fallahil Mubtadin, Desa Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang. Kepindahan mereka ke sana juga didasari oleh pernyataan Katimun kalau Ponpes tersebut nggak akan terdampak kiamat seperti daerah lainnya. Katimun sendiri diketahui merupakan jamaah Ponpes itu.

Katimun juga mengimbau warga untuk menjual seluruh asetnya di Ponorogo sebagai bekal di akhirat atau dibawa dan disebarkan ke pondok. Dari 52 warga yang hijrah, katanya sih belum semua asetnya laku.

2. Selain doktrin kiamat, warga juga diberitahu akan adanya huru-hara saat bulan Ramadan besok. Untuk itu, mereka disuruh membeli pedang di seorang kiai

Kondisi rumah Katimun di Ponorogo via news.detik.com

Katimun mengatakan kepada jemaahnya bahwa Ramadan besok akan terjadi huru-hara. Ia juga menyuruh warga membeli pedang seharga Rp1 juta di seorang kiai. Kalau nggak membeli, warga diimbau untuk menyiapkan senjata di rumah, buat pegangan.

3. Tak hanya itu, Katimun juga menyebarkan isu kemarau panjang yang akan terjadi selama 3 tahun

Rumah salah satu warga yang sudah kosong via suarakumandang.com

Advertisement

Belum cukup membuat warga geger, Katimun juga mengatakan kalau tahun 2019 sampai 2021 besok akan ternyata musim kemarau panjang. Untuk itu, seperti dikutip Detik, warga diminta menyetor gabah sebanyak 500 kilogram per orang untuk bekal musim paceklik.

4. Katimun juga mewanti-wanti jemaahnya agar melarang anak-anak sekolah. Katanya kalau orangtua nggak menuruti, anak boleh mengkafirkan orangtuanya sendiri

Banyak siswa yang tiba-tiba menghilang via www.youtube.com

Anak-anak para jemaah Katimun dilarang untuk pergi ke sekolah. Kalau larangan itu nggak dituruti, anak-anak boleh menganggap orangtua mereka kafir. Ini sejalan dengan pernyataan Taman, guru di SDN 2 Watubonang, yang mengatakan kalau 10 anak didiknya tiba-tiba menghilang dari sekolah. Nggak ada izin maupun pamitan secara resmi. Kata Taman, kemungkinan ini karena anak-anak didiknya mengikuti orangtua mereka hijrah ke Malang. Kasihan, padahal beberapa ada yang mau ujian nasional lo.

5. Para jemaah aliran sesat ini juga kabarnya disuruh mengibarkan bendera tauhid di depan rumahnya, serta membeli foto pengasuh pondok untuk jadi benda pusaka! Astaga…

Disuruh mengibarkan bendera tauhid via suarakumandang.com

Dikutip Kompas, Katimun kabarnya juga memerintahkan jemaahnya untuk mengibarkan bendera tauhid di depan rumahnya. Alasannya untuk mengusir bala dan memberi keselamatan saat huru-hara terjadi. Mereka juga disuruh membeli foto pengasuh pondok senilai Rp1 juta dan dipasang untuk jadi benda pusaka. Ya ampun, ini sih jelas nggak masuk akal!

Menyikapi kasus ini, Bupati Ipong Muchlissoni sampai melapor ke Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, MUI, dan aparat kepolisian lo. Katanya sih Pemkab Ponorogo bersama ormas Islam dan MUI sudah turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman, tapi hasilnya nihil. Saat ini fokus mereka lebih ke warga yang belum terdoktrin, supaya nggak ikut-ikutan arus aliran sesat Katimun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya