Belum lama ini kita dikejutkan dengan kabar media sosial berlogo “P” warna merah yang akan segera tutup. Yup, Path, medsos yang mungkin telah menemani masa-masa galau sebagian dari kita, dengan fitur-fitur uniknya untuk posting foto, lagu yang sedang didengarkan, film yang sedang ditonton, atau buku yang sedang dibaca, baru aja mengumumkan kalau mereka akan ‘tutup usia’ bulan Oktober besok. Kabar ini disikapi oleh netizen Instagram yang langsung kompak throwback momen-momen di Path mereka lewat fitur Instastory.

Sebagian orang mungkin udah nggak kaget dengan berita ini. Soalnya semenjak Instagram terus memperbarui fitur-fiturnya, pengguna Path memang langsung menurun drastis. Kemungkinan, inilah yang jadi alasan Path akhirnya harus tutup. Tapi kalau lihat sejarah media sosial sejak zaman Friendster, bisa jadi suatu saat medsos yang ada sekarang juga bakal bernasib sama: tutup usia. Sebenarnya ada nggak sih tanda-tanda ‘kiamat’nya media sosial? Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum infonya buat kamu. Simak, yuk?

1. Orang, khususnya remaja sebagai mayoritas pengguna medsos, sudah mulai aware sama kecanduan gadget yang bisa menjangkit mereka kalau terus-terusan memakai media sosial

Orang udah pada aware sama dampak buruk kecanduan gadget via www.wsj.com

Advertisement

Dulu, waktu media sosial dan internet baru muncul, hal yang selalu pengen orang lakukan adalah mengeksplorasinya. Pagi, siang, malam, dihabiskan dengan menghadap layar komputer. Masih ingat ‘kan dulu waktu zaman boomingnya Friendster? Pasti kalian sampai rela nyuri-nyuri waktu kelas TIK buat buka Friendster. Kalau internet udah semudah sekarang, pasti dulu kalian rela deh seharian cuma main Friendster.

Tapi sekarang, dimana eranya emang udah jadi era medsos, banyak orang jadi lebih peduli sama dampak yang ditimbulkan dari kecanduan gadget. Mulai dari gangguan kesehatan, sampai mental. Nggak sedikit dari mereka yang mulai mengurangi aktivitasnya di dunia maya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih di dunia nyata.

2. Saking udah muak sama yang namanya hoaks, sekarang tingkat kepercayaan orang terhadap media sosial udah semakin menurun

Udah muak sama hoax! via firstdraftnews.org

Belum lagi menjamurnya berita bohong di internet dan media sosial, tanpa sadar masalah ini justru bisa menurunkan kadar kepercayaan orang terhadap media sosial itu sendiri. Kita pasti males ‘kan kalau tiap buka Instagram yang dilihat cuma hoaks, ujaran-ujaran kebencian saling menjatuhkan, atau gosip-gosip artis nggak mutu? Ini juga bisa lho bikin pengguna lama-lama mundur teratur. Mungkin nggak semua Instagram orang isinya gitu ya, tapi hal-hal negatif semacam itu bisa jadi semacam virus lho, orang yang awalnya mungkin nggak tertarik begituan, karena lingkungan medsosnya gitu jadi ikut-ikutan deh.

3. Selain itu, kemunculan medsos-medsos baru juga ditengarai bisa berarti ‘kiamat’ bagi ‘pemain-pemain’ lama di dunia jejaring sosial

Bakal banyak terobosan baru via crossingtheline.co

Advertisement

Tanda lainnya bisa dilihat dari kemunculan jejaring sosial baru. Namanya juga teknologi, kalau nggak ada inovasi ya bakal mati. Tapi untuk potret ‘kiamat’nya medsos, bisa jadi inovasinya justru bukan media sosial baru, tapi teknologi lain yang lebih fresh. Nggak pernah ada yang tahu gimana teknologi makin berkembang di depannya. Siapa tahu di masa depan ilmuwan bisa menciptakan terobosan teknologi yang benar-benar bisa menggantikan media sosial lama. Mungkin aja ‘kan…

4. Secara umum, Facebook yang dicap sebagai medsos paling populer aja sudah mengalami penurunan pengguna. Dari sini sebenarnya udah bisa dinilai sih, perilaku orang bermedia sosial lama-lama juga bakal berubah

Pengguna Facebook aja udah mulai menurun via www.rd.com

Dilansir dari Medium, secara umum pengguna Facebook saat ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun-tahun awal ia berjaya. Dari sini sebenarnya udah bisa dilihat kalau medsos sekelas Facebook aja, yang rajin banget menambah fitur-fitur baru demi bisa bertahan, akan ada masanya mengalami penurunan pengguna baru. Katanya sih hal ini dipengaruhi oleh perilaku orang bermedia sosial yang juga banyak berubah. Dari yang awalnya over-sharing, lalu jadi over-consuming, karena capek sendiri akhirnya malah jadi nggak peduli sama sekali. Kalian gitu juga nggak sih? Capek karena emang terlalu banyak konten yang bisa dikonsumsi?

Sekarang sih ‘juragan-juragan’ teknologi boleh aja memutar otak sedemikian rupa, berpikir keras gimana biar platform medsosnya bertahan di tengah gempuran inovasi teknologi yang makin masif dan canggih. Tapi mungkin di dalam hatinya terdalam, sebenarnya mereka juga khawatir apa jadinya kalau pengguna mulai bosan terus-terusan menghadap layar dan scrolling timeline. Akankah di masa depan ada medsos yang bisa dipakai hanya dengan kedipan mata?? :))

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya