Sebenarnya bukan sekali dua kali saja sih kita mendengar penerbangan Lion Air delay atau bahkan mengalami pembatalan. Saking seringnya penerbangan Lion Air bermasalah, kita seakan-akan sudah menerimanya sebagai hal yang lumrah atau memang risiko terbang murah. Bukan juga pertamakalinya ada sanksi yang dijatuhkan untuk menertibkan sistem maskapai ‘Singa Merah’ yang tampaknya amburadul ini. Tapi bukannya membaik, seperti keadaan justru bertambah parah.

Lihat saja serangkaian insiden yang terjadi hanya dalam waktu beberapa hari terakhir ini. Dari pesawat rute Singapura-Jakarta yang justru akhirnya mendarat di Johor Baru Malaysia, penumpang ditinggal pesawat, lalu ratusan penumpang terlantar di Cengkareng karena setidaknya ada 6 delay, dan yang terakhir bocornya bahan bakar di Surabaya. Haduh-haduh, rekor tersendiri sih kalau ini! Insiden beruntut itu sepertinya jadi tanda bahwa benar-benar ada yang salah dalam sistem maskapai populer Indonesia ini. Tapi sebenarnya ini bukan cuma masalah Lion Air sendiri saja sih, semua pihak terkait dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) dan kita sebagai konsumen juga harus berkaca dan menyadari betapa buruknya sistem penerbangan Indonesia.

Insiden ini itu bagai menunggu bom waktu yang pasti akan meledak. Tahu ada permasalahan yang menumpuk, tapi solusi tidak pernah efektif dan sanksi kurang tegas

Delay itu sudah jadi pemandangan setiap hari  via detikfokus.com

Advertisement

Menurut survei dari Airline Ratings, pada tahun 2016 yang lalu tercatat 9 dari 10 maskapai terburuk di dunia semuanya ada di Indonesia. Wow banget ya ‘pencapaian’ negara kita! Bahkan pihak Lion Air yang dimintai responnya oleh pihak Liputan6, mengaku tidak ambil pusing akan hasil survei tersebut dan menganggapnya tidak kredibel. Padahal survei Airline Ratings itu telah berlangsung selama 50 tahun dan menjadi sumber referensi berbagai media besar internasional seperti CNN. Padahal penting lho namanya menerima kenyataan sebelum akhirnya bisa introspeksi diri dan berkembang.

Itu dari sisi maskapainya, belum lagi pemerintah yang seharusnya menjadi penegak peraturan agar semua sistem bisa berjalan tertib. Atas serangkaian kasus Lion Air yang baru saja terjadi, Kemenhub telah menjatuhkan sanksi dan memberi waktu 2 bulan lamanya untuk segera berbenah. Sanksi seperti ini juga telah beberapa kali dijatuhkan pada Lion Air sebelumnya, tapi buktinya masih nihil. Pesimis sih kalau sanksinya tetap begini-begini saja, maskapai ini terdorong untuk berubah.

Padahal sistem transportasi udara itu menyangkut keselamatan dan keamanan banyak orang. Jika pemerintah tidak bertindak tegas untuk menertibkan sistem penerbangan, ya nasib kita sebagai penggunanya yang jadi taruhan 🙁

Meski telah berkali-kali tersandung masalah dan gagal berbenah, mirisnya Lion Air tetap saja bisa menjual tiket pesawat. Mungkin karena masyarakat Indonesia merasa tak punya pilihan lain

Berkali-kali dikecewakan, tetap kembali gunakan Lion Air. Pasrah  🙁 via okezone.com

Advertisement

Melihat bagaimana pihak Lion Air santai saja ditempeli predikat sebagai salah satu maskapai terburuk di dunia, tampaknya sedikit banyak masalah ini juga ada hubungannya dengan kita sebagai pengguna. Ya bagaimana lagi selain mereka yang mencari tiket murah, banyak juga rute penerbangan-penerbangan perintis atau ke kota kecil yang hanya dilayani Lion Air, Kal-Star Aviation, Sriwijaya Air, TransNusa, dan  Xpress Air. Yang semuanya masuk ke dalam daftar 10 maskapai terburuk di dunia tahun 2016 di atas.

Padahal yang namanya maskapai low cost itu bukan selalu harus berarti tidak aman dan tidak tepat waktu alias delay terus lho. Lihat saja maskapai-maskapai low cost negeri tetangga kita Australia seperti Jet Star. Catatan safety-nya bagus dan juga tertib sehingga bisa masuk 10 besar maskapai low cost terbaik di dunia dalam survei yang sama. Berarti pastinya masih banyak ruang untuk perbaikan. Boleh saja bikin konsep penerbangan murah, tapi bukan berarti menyepelekan keselamatan penumpang. Oh ya waktu penumpang juga tak boleh seenaknya dibuang dengan delay, mentang-mentang murah.

Haduh, tapi mungkin isu ini tuh memang refleksi dari permasalahan bangsa yang lebih luas. Ketika ‘jam karet’ sudah diterima sebagai norma, pastilah sulit menertibkan sistem sebesar ini

Sulit ditertibkan via tempo.co

Keterlambatan memang tampaknya jadi masalah semua orang di negeri ini. Entah karena kemacetan jalan yang tidak bisa diprediksi atau hanya enggan datang duluan, waktu kesepakatan janjian seakan-akan selalu ditambahi ekstra 10-30 menit. Dengan mental yang seperti itu, sebenarnya tidak mengherankan jika semua sistem yang kita punya di Indonesia itu molor, tidak efektif, dan bahkan dipenuhi korupsi karena tidak tertib.

Ya memang sih maskapai seperti Lion Air itu perlu segera berbenah dan Kemenhub juga perlu menjatuhkan sanksi yang lebih tegas. Tapi tidak ada salahnya jika kita semua menggunakan kesempatan ini untuk refleksi diri, yang suka telat itu bukan cuma Lion Air tetapi sebagian besar orang Indonesia. Bagi yang rajin dan nggak pernah telat, boleh kok bela diri ;p

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya