Tidak semua orang mampu memaknai jika hidup adalah sebuah anugrah yang diberikan sang pencipta. Kekecewaan, penderitaan hidup, penghianatan terkadang membuat sebagian orang berputus asa dan berusaha mengakhiri hidup. Seperti yang dialami Katie Stubblefield, beberapa permasalahan dalam hubungan dan kehidupan sekolahnya membuatnya tak mampu lagi untuk menjalani hidup. Ia kemudian nekat menembak kepalanya dari bawah dagunya.

Beruntung, Katie selamat dari insiden tersebut dan menjalani berbagai perawatan untuk kesembuhan dirinya. Keluarga selalu mendukung dan memotivasi Katie hingga ia mendapat kesempatan untuk memperbaiki wajahnya. Simak kisah perjuangan hidup Katie, sebuah pengorbanan meraih hidupnya kembali. Baca uraian Hipwee News & Feature sampai habis ya!

Katie mengalami insiden percobaan bunuh diri saat masih berusia 18 tahun. Beruntung ia bisa diselamatkan

Katie saat remaja. via video.nationalgeographic.com

Advertisement

Pada bulan Maret tahun 2014 dan saat Katie masih berusia 18 tahun, ia mencoba bunuh diri dengan senjata api yang ia tembakkan lewat bawah dagunya. Robert Stubblefield, kakak Katie yang mendengar suara tembakan segera membawa Katie ke rumah sakit untuk menyelamatkannya. Bukan hal mudah untuk menyelamatkan Katie, ia sempat beberapa kali dipindahkan dari rumah sakit Oxford, Mississippi, diterbangkan ke Memphis, Tennessee dan kemudian ditransfer ke Rumah Sakit Cleveland.

Dikutip melalui CNN, alasan hubungan asmara yang dikhianati hingga permasalahan keluarga dan sekolahnya diduga kuat menjadi motivasi Katie mengakhiri hidup. Tentu hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi emosional remajanya yang masih labil kala itu.

Usaha penyelamatan Katie tidaklah mudah. Operasi mengembalikan fungsi pernapasan, fungsi menelan, dll membuat ia kehilangan ‘wajah’

Kondisi wajah sebelum transplantasi. via www.nationalgeographic.com

Luka tembakan jarak dekat menyebabkan sebagian kepalanya hancur. Tim dokter berusaha sebaik mungkin agar bentu kepala Katie tetap tidak berubah. Meski pengihatannya tidak bisa dikembalikan layaknya semula, namun dokter berusaha memperbaiki letaknya, memperbaiki hidung, mulut, dan dagunya agar bisa berfungsi. Awalnya Katie bahkan dikhawatirkan tidak akan selamat oleh dokter akibat lukanya yang begitu parah.

Advertisement

Beberapa prosedur perawatan membuat Katie ‘kehilangan’ wajahnya. Dokter harus melakukan pembedahan terhadap wajahnya untuk memperbaiki fungsi dan organ kepalanya. Meski Katie tak mampu melihat wajahnya dengan jelas di cermin, ia bisa merasakan wajahnya yang membengkok dan tidak lagi berbentuk. Ia bahkan hanya mengingat samar-samar insiden yang menimpanya kala itu dan fokus pada pemulihan kesehatannya hingga bertahun-tahun.

Setelah 3 tahun menanti, Katie akhirnya menjalani transplantasi untuk perbaikan wajahnya. Menurutnya ini adalah saat ia membuka lembaran baru dalam hidup

Wajah donasi yang akan dipindahkan ke Katie. via video.nationalgeographic.com

Katie yang kehilangan wajah membuatnya masuk daftar antrian untuk menjalani operasi transplantasi wajah. Pada 2017, permohonan transplantasi wajah kemudian disetujui dan dilakukan. Meski nggak bisa mengembalikan wajahnya seperti semula, namun transplantasi wajah akan membuat bentuk wajahnya lebih baik. Kembali memiliki mulut dan dagu serta hidungnya.

Donatur wajah Katie yang telah meninggal dan bersedia menyumbangkan jaringan wajahnya.

Operasi transplantasi wajah adalah prosedur medis dengan mengubah semua atau sebagian wajah pasien dengan jaringan wajah orang lain. Termasuk kulit, tulang, hingga pembuluh darah dari donatur. Apa yang dijalani Katie untuk transplantasi wajah adalah memperbaiki kening, kelopaj mata, cekungan di mata, hidung, pipi, beberapa bagian gigi, dan bagian dagunya. Operasi yang ia jalani selama 31 jam dan merupakan perjuangan hidup dan matinya untuk kedua kali, akhirnya berhasil.

Berkat dukungan dari orang tua dan kerabat, operasi Katie sukses. Kini ia menjalani lembaran baru dalam hidupnya

Kondisi Katie pasca pemulihan. via newsamed.com

Katie kini mampu menyentuh wajahnya dan ia merasa sangat bersyukur atas apa yang ia dapatkan. Meski ia tetap harus menjalani beberapa prosedur medis dan pemulihan, ia tampak sangat senang dengan apa yang ia dapatkan sekarang. Dikutip melalui dokumentasi National Geographic, bagi Katie ini adalah sebuah permulaan dari babak baru.

Beruntung, keluarga dan kerabat selalu mendukung Katie bagaimana pun situasinya. Ibu Katie merawatnya di rumah, menyiapkannya makan dan mempersiapkan obatnya setiap hari. Sang ayah juga selalu menghibur dan memberikan motivasi untuknya. Sedang sang kakak, adalah orang pertama yang mengusahakan Katie agar dapat menerima transplantasi wajah.

Seberat apa pun permasalahan dalam hidup, pada dasarnya apa yang kita jalani saat ini adalah sebuah anugerah. Mampu hidup dan menghirup udara segar hingga saat ini adalah hadiah paling berharga yang tidak dapat dimiliki oleh semua orang. Seperti Katie, seperti itulah hidup layak disyukuri. Bukan untuk selalu ditangisi apalagi untuk diakhiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya