Tingginya Kasus Bunuh Diri Karena Pekerjaan, Buat Pemerintah Jepang Turun Tangan Pangkas Jam Kerja

Masih ingat dengan Matsuri Takahashi, seorang pekerja di Jepang yang tewas bunuh diri setelah lembur 105 jam per bulannya? Berkaca dari itu, dunia bisnis di Jepang sedang berbenah. Perdana Menteri Shinzo Abe, melalui progam Abenomics Plan- nya, sedang menggencarkan reformasi dalam dunia kerja.

Dalam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Jepang ini, pemerintah Jepang akan mengurangi jam kerja dan memberikan batasan waktu lembur. Selain itu, pemerintah juga akan mendesak perusahaan swasta untuk membayarkan upah lembur sesuai dengan jam kerja aktual. Selama ini ternyata upah lembur dibayarnya ‘suka-suka’, lho. Lemburnya 40 jam, dibayarnya 22 jam. Siapa yang tidak sedih?

“Perusahaan benar-benar merampok karyawan, baik gaji maupun waktu istirahat.” Ungkap Toko Shirakawa, anggota panelis kerja pemerintahan, seperti yang dikutip dari Japantimes .

Namun, berapapun bayarannya, kerja seharusnya tetap ada batasannya guys. Jam kerja terlalu panjang dan tekanan kerja yang terlalu berat akan berakibat buruk bagi kesehatan. Padahal untuk bisa bekerja, kamu butuh tubuh yang sehat ‘kan?

1. Sebenarnya himbauan untuk mengurangi jam kerja ini sudah sering dilakukan. Sayangnya demi promosi dan kenaikan pangkat, lembur gratisan pun ikhlas dijalani

lembur sukarela asal dapat promosi

Memaksakan badan untuk sukarela lembur demi dapat promosi via www.theatlantic.com

Soal etos kerja, orang Jepang memang tak perlu ditanya. Disiplin tinggi dan semangat bekerja membuat orang Jepang sering kerja ‘sukarela’ sampai tengah malam. Pembayaran uang lembur yang nominalnya tidak setara dan sering ditunda-tunda, ternyata tidak menyurutkan semangat kerja orang Jepang. Mereka membidik ‘promosi’ yang biasanya hanya bisa didapatkan setelah mengerjakan proyek besar.

“Tidak pernah mempermasalahkan klaim jam lembur karena itu akan membuat proyek saya kelebihan pengeluaran, dan itu akan mengganggu kesempatan saya untuk mendapat promosi,” kata seorang IT engineer yang namanya tidak mau disebutkan kepada Japantimes.

Yah kalau begini, tak heran bila himbauan dari parah ahli ataupun pemerintah sering masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Padahal bila beban kerja dan kelelahan sudah mulai membebani, siapa yang rugi?

2. Selain penduduknya gila kerja, Jepang juga terkenal dengan biaya hidup yang selangit. Meski tidak layak, banyak pekerja yang tinggal di warnet atau sembarang tempat

Biaya hidup tinggi, membuat gaji tinggi pun tak sepadan

Biaya hidup tinggi, membuat gaji tinggi pun tak sepadan via pulitzercenter.org

Seperti yang kita ketahui semua, Jepang terutama Tokyo termasuk kota yang biaya hidupnya paling tinggi. Soal gaji memang boleh tinggi. Bayangkan saja, di Jepang seorang petugas keamanan bisa mendapatkan gaji 230.000 yen, yang setara dengan 24 juta. Gaji 20 juta di Indonesia yang sudah bisa membuat kamu bisa travelling sekali sebulan, belum bisa untuk apa-apa di Jepang. Karena ini juga banyak fenomena pekerja yang tinggal di warnet demi menghemat biaya. Di Jepang, gaji yang besar itu ternyata belum bisa untuk menyewa tempat tinggal. Mungkin ini juga yang membuat orang Jepang gila kerja.

Bukan cuma berakhir kasus bunuh diri, jam kerja yang terlalu panjang ini sebenarnya juga bikin perekonomian Jepang stagnan lho. Terlalu sibuk kerja, membuat mereka nggak sempat belanja

Sibuk bekerja, tak sempat belanja. Apalagi bahagia

Merugikan semua pihak, satu negara jadi susah bahagia karena kebanyakan kerja via pulitzercenter.org

Ngomong-ngomong soal jam kerja yang terlalu panjang, Matsuri Takahashi hanyalah salah satu dari korban Karoshi (kematian akibat kerja yang berlebihan). Banyak kasus-kasus serupa yang membuat dunia bisnis Jepang yang identik dengan disiplin dan semangat kerja tinggi, ternyata dipenuhi catatan hitam.

Jam kerja yang panjang ini ternyata juga membuat perekenomian mengalami kejenuhan. Stagnan dan tidak berkembang. Ya bagaimana lagi? Terlalu sibuk bekerja, mereka tidak sempat lagi untuk belanja ataupun menghabiskan uang. Belum lagi gaji yang tak sebanding dengan pengeluaran ditambah upah lembur yang tak segera dibayarkan. Inilah yang membuat ekonomi Jepang stagnan, karena konsumi publik tidak jalan.

Mau apapun alasannya, keseimbangan work-life tetap saja perlu. Pencapaian kepuasan hidup tak hanya dari pekerjaan saja, tapi juga cara menikmati hidup

Sesekali kamu perlu meliburkan diri

Sesekali kamu perlu meliburkan diri via stylemelondon.blogspot.co.id

Namun tetap saja sebesar apapun uang yang didapatkan, tidak akan mampu mengganti waktu istirahat yang terlalaikan. Sama seperti makanan dan minuman, istirahat dan kebahagiaan adalah kebutuhan wajib manusia. Istirahat yang tidak terpenuhi sangat mungkin berakibat fatal. Karena itu, work-life balance tetap harus diupayakan. Dengan begitu, waktu hidupmu yang singkat ini tidak akan habis di balik meja kerja. Di luar ruangan, banyak hal-hal baru dan seru untuk dilakukan. Kepuasan hidup manusia tentu tak hanya dari dunia kerja. Sederhananya, work hard play hard.

Tak hanya soal cinta, bekerja pun perlu logika. Untuk apa bekerja keras, bila justru tak bisa kita nikmati hasilnya?

Untuk apa bekerja keras, kalau tertawa saja tak bisa?

Untuk apa bekerja keras, kalau tertawa saja tak bisa? via japanstreetlens.tumblr.com

Soal cinta, baiklah, boleh kita percaya bahwa kadang-kadang cinta tak ada logika. Tapi jangan sampai bekerja juga dilepaskan dari logika. Meski harus bekerja keras mengejar kebutuhan hidup atau sekadar menambah pundi-pundi tabungan supaya bisa pelesiran bagai sosialita, tetap saja waktu istirahat harus diperhatikan. Tanggung jawab pekerjaan jelas harus dipenuhi, tapi tanggung jawab kepada diri sendiri untuk hidup dengan layak juga patut dipikirkan. Karena kita butuh tubuh yang sehat untuk bisa bekerja ataupun menikmati hasilnya.

Ngomong-ngomong, seminggu ini kamu sudah lembur berapa jam?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE