Pasien Positif Covid-19 di Cirebon Tulis Surat Terbuka untuk Presiden & Menkes. Ini 5 Curhatannya

Surat terbuka pasien positif corona

Seiring dengan terus bertambahnya pasien yang dinyatakan positif virus corona, semakin banyak juga pasien-pasien positif yang mencurahkan isi hatinya lewat media sosial, atau sekadar membagi cerita tentang bagaimana rasanya terjangkit Covid-19. Kamu pun mungkin sempat juga membaca atau menyimak beberapa di antaranya. Belum lama ini, pasien bernama Riki Rachman Permana, menulis surat terbuka yang ditujukan untuk Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan Terawan. Di dalamnya berisi segala curahan hatinya sebagai pasien terdiagnosis virus corona.

Advertisement

Setelah membaca isi surat tersebut, sepertinya Riki nggak hanya bermaksud menyampaikan keluhan beserta masukan dari sisi pasien, tetapi juga berusaha mewakili apa yang kita semua rasakan soal penanganan wabah corona di Indonesia. Buat kalian yang belum baca, kali ini Hipwee sudah merangkum poin-poinnya untuk kamu. Kita simak bersama, yuk!

Riki merupakan pasien positif Covid-19 yang dirawat di RSD Gunung Jati Cirebon. Ia menulis surat terbuka untuk Presiden dan Menkes dari balik ruang isolasi. Surat itu pun viral di media sosial Twitter

Surat yang ditulis Riki dari balik ruang isolasi itu bertanggal 26 Maret 2020. Lewat surat itu, Riki ingin menyampaikan sejumlah keluhan sekaligus masukan selaku pasien yang positif Covid-19. Surat itu nampaknya juga bisa mewakili suara publik secara luas. Berikut ini poin-poin penting yang disampaikan Riki melalui suratnya.

Advertisement
  1. Butuh waktu sangat lama untuk pasien mengetahui status penyakitnya, apakah positif atau negatif corona. Satu pasien saja (untuk kasus Riki) bisa memakan waktu minimal 7 hari, terhitung dari pengambilan sampel sampai diketahui hasilnya. Ini karena sampel harus dikirim ke Balitbangkes Kemenkes di Jakarta, baru hasilnya dikirim kembali ke rumah sakit bersangkutan. Itu pun masih harus melewati Pemprov, Dinkes setempat, baru ke RS. Padahal kalau hasil bisa diketahui lebih cepat, akan memudahkan pihak RS memberi pengobatan sekaligus memetakan persebarannya lebih cepat.
  2. Tim dokter seringkali disibukkan dengan urusan birokrasi. Di saat mereka harusnya terus fokus menangani pasien positif, banyak dokter yang diharuskan ikut rapat membicarakan wabah ini bersama pejabat publik, kayak dinas kesehatan, wali kota, dinas pendidikan, dan lain-lain. Padahal tanpa rapat-rapat itu pun waktu dan tenaga tim medis sudah terkuras habis-habisan. Seharusnya jika memang ingin membicarakan mengenai wabah ini, pejabat publik lah yang mendatangi RS sekaligus meninjau langsung penanganan pasien-pasien di sana. Atau memanfaatkan video call.
  3. Masalah lain yang juga jadi masalah hampir seluruh tim medis di Indonesia adalah kurangnya Alat Pelindung Diri (APD). Menurut Riki, hal yang sama pun dialami tim medis di RS tempatnya dirawat. Jika pemerintah belum lama ini memutuskan menambah jumlah RS untuk merawat pasien corona, seharusnya itu juga dibarengi dengan penyediaan APD untuk tenaga medis yang tentu akan bertambah pula jumlahnya.
  4. Riki juga sedikit menyorot pengiriman karangan bunga ke RS-RS untuk memberikan semangat kepada tim medis. Sejujurnya, hal tersebut kurang berfaedah. Akan jauh lebih bijak kalau dana pembelian karangan bunga dialokasikan untuk menyuplai APD ke RS-RS, mengingat jumlah pasien yang mesti diisolasi terus bertambah.
  5. Terakhir, pemerintah agaknya juga perlu memikirkan insentif tambahan untuk tim medis yang telah berjuang menangani pasien-pasien di rumah sakit. Memang, jasa mereka mungkin nggak bisa diukur lewat uang saja, namun insentif bagaimana pun bentuknya tetap akan layak diberikan sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Sedih sih setelah membaca lengkap surat yang ditulis Riki tersebut. Terlebih untuk poin nomor 1, bisa jadi hal tersebut lah yang membuat angka kematian di Indonesia terus naik. Malah sekarang juga banyak korban meninggal yang masih berstatus PDP

Pemakaman pasien positif Covid-19 via surabaya.tribunnews.com

Saat artikel ini ditulis, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Indonesia sudah menyentuh angka 114, dilansir dari situs infeksiemerging milik Kemenkes. Tapi itu hanya pasien yang sudah didiagnosis positif sebelumnya. Sedangkan yang masih berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) juga banyak yang meninggal. Seperti di Kudus, ada pasien 69 tahun, dirawat karena stroke. Namun kondisi menurun dan ditetapkan PDP setelah dijenguk anaknya yang ternyata baru dari Jakarta. Pihak RS mengatakan kalau pasien itu sudah di-swab, namun hasilnya belum keluar. Selain di Kudus, ada juga pasien PDP meninggal di Bogor, Gresik, Purworejo, Dumai, dan lain-lain.

Melihat banyaknya kasus meninggal nggak cuma pasien yang beneran positif aja, tapi juga yang masih PDP, sebaiknya pemerintah bisa lebih agresif lagi menerapkan tes besar-besaran dan mempercepat alur pemeriksaan di laboratorium. Belajar dari Korsel yang bisa dengan cepat menurunkan jumlah pasien terjangkit lewat serangkaian tes massal dan penanganan yang tanggap, mestinya kalau bisa melakukan hal serupa, Indonesia juga bisa memperlambat persebaran, atau malah menghentikannya hingga nggak ada pasien baru lagi. Kita bantu doa, yuk, Guys!

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE