Apakah kamu seorang coffee addict yang bisa sakit kepala bila tidak minum kopi dalam sehari? Lalu apakah kamu adalah anak muda yang selalu kesulitan menyisihkan uang untuk tabungan masa depan padahal sebenarnya gajinya lumayan besar? Kalau kamu bertanya-tanya apakah ada hubungan antara minum kopi dan susahnya menambah tabungan, itu benar.

Penelitian SurveyMonkey yang dirilis oleh sebuah perusahaan aplikasi investasi “Acorns” mempublikasikan hasil bahwa setengah dari generasi millennial menghabiskan lebih banyak uangnya untuk minum kopi daripada menabung untuk hari tua. Wow! Memangnya minum kopi semahal itu?

Sudah jadi rahasia umum bahwa masalah kronis bagi generasi millennial adalah hilangnya budaya menabung. Ternyata, salah satu faktornya adalah kopi!

Salah satu biang kerok kegagalan millennial untuk menabung via www.newboldcorp.com

Bagi generasi millennial, kopi telah berkembang menjadi sesuatu yang sangat penting. Semakin banyak kalangan muda yang tak bisa memulai harinya tanpa secangkir kopi atau berkunjung ke kafe favorit. Meski secara ilmiah kopi memang telah terbukti bisa jadi stimulan dan baik untuk kesehatan, tapi berkembangnya budaya ngopi yang kelewat konsumtif harus diwaspadai. Ternyata bagi generasi millennial, kebutuhan akan kopi jauh lebih besar daripada tabungan masa depan. Dalam survei ini, terlihat bahwa 44% perempuan berusia 18-35 tahun, menghabiskan uang lebih besar untuk membeli kopi pagi daripada tabungan selama setahun. Sementara untuk laki-laki yang berusia sama, jumlahnya lebih rendah 10%.

Akibatnya, banyak kaum millennial yang tidak bisa pensiun cepat karena belum cukup tabungan. Bergeser dari umur pensiun ideal 65 tahun, sekarang umut 70-72 tahun lebih realistis

Belum cukup tabungan untuk menikmati hari tua via www.huffingtonpost.com

Advertisement

Sebagaimana yang dilaporkan oleh Vice, survei juga menunjukkan bahwa 41% dari millennial yang berusia 24 hingga 35 tahun, berspekulasi bahwa mereka belum bisa menikmati kenyamanan finansial untuk pensiun sebelum usia 65 tahun. Menurut Jacob Funk Kirkegaard dari Peterson Institute untuk Ekonomi Internasional, karena gaya hidup yang demikian, rencana pensiun yang paling realistis untuk generasi millennial adalah 70-72 tahun.

Kopi memang bukan sekadar minuman biasa, karena memiliki nilai sosial yang luar biasa. Mendampingi obrolan sore sampai identik dengan kesempatan PDKT

Kopi jadi sarana bersosialisasi via www.pinterest.com

“Ngopi yuk!”

Pada dasarnya, kopi memang salah satu jenis minuman. Kamu bisa menambahkan fungsi stimulan bila kopi selalu menjadi temanmu begadang dan melembur pekerjaan. Tapi secara sosial, kopi juga punya fungsi yang signifikan. Dengan ajakan ngopi, kamu bisa PDKT, temu kangen dengan kawan lama, atau berjumpa dengan orang-orang baru. Dari bangku-bangku kafe dan cangkir-cangkir kopi, ide-ide bisa didiskusikan dan barangkakali banyak hal-hal besar yang berasal dari sana. Kopi menjadi sebuah media sosialisasi, yang dibutuhkan untuk menjalin relasi.

Lambat laun kopi pun terus berubah fungsi. Bukan lagi cuma teman nongkrong atau begadang, tapi juga sarana eksistensi di dunia digital dengan foto-foto di Instagram

Kopi untuk posting-an Instagram via www.neckbreakinstyle.com

Seiring perkembangan zaman, fungsi kopi pun mengalami berkembang. Munculnya berbagai media sosial, menjadikan kopi sebagai salah satu sarana eksistensi. Kopi apa yang kamu minum hari ini? Apakah americano? Atau espresso? Ataukah cappuchino dengan tambahan sirup hazelnut? Apapun kopimu, jangan lupa difoto sebelum diminum dan unggah ke akun Instagram. Jangan lupa juga menambahkan sedikit caption yang elegan semacam “Life without coffee is scary”. Lalu kamu resmi menjadi anak gaul masa kini yang culture abis!

Dahulu dua atau tiga ribu bisa membawa kopi ke hadapanmu. Kini membeli kopi bisa menghabiskan puluhan ribu. Entah demi rasa atau gengsi saja

Kopi tubruk ala warkop via www.lintasgayo.com

Pada generasi orang tuamu barangkali minum kopi bisa dibuat sendiri. Atau kalaupun beli, di warung kopi harganya tak lebih dari 2000 Rupiah. Tapi di generasi kita ini, tentu tidak keren bila kita posting di IG foto secangkir kopi tubruk buatan penjual angkringan ataupun kopi susu sachet yang kita seduh di kosan. Menjamurnya tradisi ngopi melahirkan pula kedai-kedai kopi populer. Kopi yang seharga 2000 Rupiah menjelma menjadi puluhan ribu. Wajar mahal. Sebab yang kamu beli bukan sekadar kopi, tapi juga merek dan gengsi.

Padahal saat ini perkebunan kopi sedang menghadapi ancaman kepunahan. Jangan kaget bila harga kopi semakin mahal

Kopi bakal jadi barang langka yang main mahal

Sementara permintaan kopi semakin meningkat setiap tahunnya, kabar buruk datang dari perkebunan kopi di Brazil. Sejak tiga tahun yang lalu panen kopi selalu mengalami penurunan hingga diprediksi tahun 2050 nanti stok kopi di dunia akan berkurang setengahnya. Gagal panen ini dipicu oleh berbagai penyakit yang menyerang kopi akibat dari perubahan iklim dan global warming. Turunnya produksi kopi yang berkebalikan dengan permintaan kopi jelas akan membuat harga kopi melambung tinggi. Jadi siap-siap saja keluar uang lebih banyak lagi.

Namun bagi seorang pecinta, ngopi adalah kebahagiaan termurah di dunia ini. Kopi adalah ‘doping’ yang tidak membahayakan. Kopi bisa dinikmati dengan ataupun tanpa teman dalam segala suasana. Bila kopi mahal tak terbeli, kopi sachet-an pun sejatinya bisa menggantikan. Bagi kaum millennial yang butuh banyak hiburan, hasil survei ini jelas bukan kabar yang nyaman di hati.

Kalau kamu, pilih minum kopi atau nabung buat masa pensiun, guys?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya