Di dunia, kurang lebih konsumsi kopi mencapai 5 milyar cangkir setiap harinya. Khususnya di Indonesia, keberadaan kopi mungkin sama umumnya dengan air putih. Warung-warung kopi berserakan, membangun perekonomian sekaligus merekatkan hubungan sosial. Bagi pecintanya, kopi adalah stimulan wajib di pagi hari sebelum otak bisa bekerja dengan baik.

Namun sebagai pecinta kopi, kamu harus waspada. Vice News melaporkan prediksi para ilmuwan bahwa di tahun 2050, lebih dari 50% kopi di dunia akan lenyap.

Apa pasal?

Produksi kopi terus mengalami penurunan tajam, terutama di wilayah Amerika Latin. Misalkan di Meksiko, produksi kopi menurun dari 50%, 30%, hingga kini tinggal 10% hanya dalam waktu 3 tahun

Daun tanaman kopi yang ‘karatan’ via www.nytimes.com

Kabar buruk muncul dari perkebunan kopi di seantero dunia. Di Meksiko, petani-petani kopi sedang dirundung duka karena ancaman gagal panen lagi dan lagi. Dalang terbesar dari ancaman kepunahan kopi di negara-negara Amerika Latin ini adalah persebaran penyakit kopi disebut Rust. Bercak-bercak cokelat seperti karatan menyebar pada daun, batang, hingga akhinya membuat tanaman mati sepenuhnya.

Advertisement

Akibatnya, petani kopi di Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya menebang lebih dari 50% dari tanaman kopi di perkebunan mereka. Karena wabah tersebut, produksi kopi di Meksiko selama 3 tahun terakhir mengalami penurunan drastis. Dari yang tadinya 100% menjadi 50%, 30%, hingga sekarang hanya 10%.

Disamping wabah penyakit, tanaman kopi juga terancam perubahan iklim yang makin tak menentu. Terutama untuk menanam varietas unggulan Arabica yang butuh kondisi optimum

Daripada tidak panen, banyak yang beralih menanam kopi Robusta via photoshelter.com

Disamping wabah penyakit Rust, kondisi semakin parah dipicu oleh perubahan iklim yang melanda bumi. Cuaca yang berubah-ubah, musim hujan yang tidak bisa diprediksi membuat jamur lebih mudah berkembang biak dan menyebar. Petani-petani kopi yang dulu bisa menggantungkan hidup pada hasil panen, kini tidak lagi. Terutama untuk jenis kopi Arabica yang memiliki nilai jual tinggi. Kopi-kopi Arabica hanya bisa tumbuh dengan kondisi cuaca yang ideal. Maka dari itu daripada gagal panen karena cuaca yang tak tentu, banyak petani yang beralih ke varietas yang lebih kuat menghadapi wabah dan perubahan iklim yaitu Robusta. Tapi tentu saja, nilai jual kopi Robusta tak setinggi Arabica.

Perubahan iklim yang punya dampak global juga ancam produksi kopi Indonesia. Tak separah Amerika Latin dan Afrika karena mayoritas kopi Indonesia adalah Robusta, produksi tetap diperkirakan turun

Tetap mengalami penurunan produksi karena cuaca yang tak menentu via beritadaerah.co.id

Indonesia sebagai negara pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam, memang mungkin tak terpukul separah negara-negara Amerika Latin dan Afrika. Namun Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia atau AEKI terus memprediksi penurunan produksi dari tahun ke tahun karena fenomena cuaca seperti El Nino dan La Nina sebagaimana dilansir AntaraNews. Jadi sebenarnya tak ada negara penghasil kopi yang aman dari wabah penyakit maupun ancaman cuaca. Produksi kopi dunia memang terancam punah.

Bisakah kamu bayangkan dunia tanpa kopi? Bahkan sebagian besar dari masyarakat modern sulit bisa bangun di pagi hari dan beraktivitas jika belum minum kopi. Ancaman punahnya kopi ini sama saja seperti ancaman terhadap peradaban manusia. Sebenarnya kopi hanyalah satu dari banyak hal yang akhirnya harus kita relakan jika kerusakan iklim dibiarkan pada levelnya saat ini. Maka dari itu menjaga dan merehabilitasi lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus segera dilaksanakan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya