Tagar #UninstallBukalapak Viral karena CEO-nya Mendoakan ‘Presiden Baru’ dengan Data yang Keliru

Tweet CEO Bukalapak dikira singgung kubu Jokowi

Masih membekas di ingatan soal tagar #YangGajiKamuSiapa yang sempat menjadi trending di ranah politik beberapa hari lalu. Eh, semalam kembali muncul tagar yang tak kalah hebohnya di jagat Twitter. Kali ini namanya #UninstallBukalapak. Kalau menurut pantauan Hipwee siang ini sih, tagar yang menduduki peringkat kedua di trending Twitter Indonesia tersebut sudah dicuitkan sebanyak 62,5 ribu kali. Hm…kira-kira kenapa ya sampai ada tagar yang menjurus untuk menonaktifkan salah satu e-commerce besutan Achmad Zaky itu? Mari kita simak!

Pada tanggal 14 Februari 2018, CEO Bukalapak mengunggah cuitan tentang perhitungan budget Research & Development untuk menghadapi era Industri 4.0

Sayangnya tweet ini sudah dihapus di akun Achmad Zaky via twitter.com

Advertisement

Di saat yang lain mencuitkan tentang cinta-cintaan (ya karena pas momen Valentine), Achmad Zaky justru mengunggah tentang perbandingan budget R&D antar negara. Budget R&D yang ia ambil menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah dengan besaran 2 Miliar USD. Kalau dibandingkan dengan negara lainnya memang kalah sih, sebutlah dengan negara tetangga Malaysia yang sudah menyentuh angka 10 Miliar USD. Mungkin karena ketimpangan budget R&D ini, Achmad Zaky merasa perlu menambahkan “omong kosong” dalam menyambut era Industri 4.0.

Apesnya, data yang dikutip oleh Achmad Zaky ini ternyata nggak pas. Dari sanalah banyak orang yang mulai nge-gas

Oh, ternyata data aslinya kayak gini~ via en.wikipedia.org

Entah sengaja atau tidak, ternyata data yang disampaikan Zacki memang tidak valid. Hal inilah yang menjadi awal kenapa orang-orang mulai menggalakkan tagar #UninstallBukalapak. Dilansir dari Kumparan, data-data yang ditampilkan Zaky pada cuitannya tersebut tak sepenuhnya berasal dari tahun 2016. Melainkan data tahun 2013 yang bisa jadi dikutipnya dari laman Wikipedia. Pun dengan nominal budget R&D dari negara-negara lainnya juga tak semuanya 2016. Misalnya budget R&D negara Malaysia yang ternyata merupakan hasil dari data tahun 2015. Hm…nggak apple to apple dong jadinya~

Selain substansi dari data-data yang disampaikan, warganet juga menaruh perhatian pada kalimat penutup cuitan itu

Gara-gara satu kalimat ini nih via twitter.com

Sejurus dengan ungkapan “karena nila setitik rusak susu sebelanga”, cuitan tentang budget R&D itu seakan menjadi sasaran empuk hujatan warganet. Kalimat “Mudah2an presiden baru bisa naikin” dimaknai sebagai dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebagai rival Jokowi di Pemilu 2019.

Advertisement

Kalimat penutup itu dianggap sangat politis. Dilansir dari CNN, salah satu pendukung paslon nomor 1  mengatakan bahwa Achmad Zaky tak tahu terima kasih. Pasalnya selama ini Jokowi dinilai telah mendukung perkembangan industri digital.

Tahu cuitannya viral, CEO Bukalapak itu akhirnya memberikan klarifikasi
Advertisement

Karena cuitannya tersebut disangka menyudutkan kubu Jokowi, Achmad Zaky kemudian memberikan klarifikasinya. Ia mengatakan bahwa kalimat “Mudah2an presiden yang baru bisa naikin” tidak bermaksud untuk menyerang salah satu kubu calon presiden. Bisa capres mana saja, meskipun ia juga tak memungkiri bahwa Jokowi termasuk juga. Ia juga berpesan untuk tidak memelintir sesuatu dan minta dukungan untuk memperjuangkan budget di bidang inovasi. Apalagi Jokowi sudah dianggapnya seperti ayah sendiri karena sama-sama berasal dari Solo.

Ada beragam perspektif yang bisa kita lihat dalam isu ini. Pertama, perkiraan Hipwee sih Zaky sebenarnya memang tidak bermaksud menunjukan keberpihakan yang eksplisit dalam kontestasi capres ini. Akan tetapi, yang lebih penting, sebenarnya tidak seharusnya “merasa dikhianati” jikapun ia–atau pengusaha muda manapun–melayangkan dukungan secara terang-terangan pada Prabowo-Sandi. Itu haknya, dan seharusnya kita menghormatinya.

Apalagi jika kritiknya adalah bahwa Zaky dianggap tidak tahu terimakasih. Bukan lantas kebaikan hati presiden pula jika pemerintahan sekarang mendukung perkembangan industri digital dan mempermudah Bukalapak atau perusahaan daring manapun. Itu kan memang tugas pemerintah, sudah selumrahnya mereka bekerja untuk itu, mendukung apapun yang baik bagi negara. Jadi Achmad Zaky tidak sedang berutang budi dan tidak punya tuntutan untuk mendukung petahana. Apalagi jika ia merasa belum puas dengan capaian Pak Jokowi.

Unggahan Zaky itu sendiri justru bermasalah pada data yang disampaikannya. Seharusnya ia lebih hati-hati dalam memilih konten yang ingin dipaparkan. Apalagi dalam konteks fase menjelang pemilu seperti ini. Wikipedia rasanya tak selalu bisa menjadi pedoman yang tepat.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

CLOSE