Bikin Tas dari Tulang Manusia, Desainer Indonesia ini Picu Kontroversi. Bisakah Disebut Karya Seni?

Tas tulang manusia

High fashion atau fashion kelas atas itu memang sulit dimengerti sobat-sobat miqueen kayak kita. Dari tas berpuluh-puluh juta tapi sebenarnya mirip tas belanja pasar, sampai kaos putih polos Kanye West yang juga dihargai jutaan. Kita hanya bisa bertanya-tanya, kok ada yang mau beli ya? Dari yang terlihat seperti barang murah sampai tren ugly sneakers, barang-barang fashion kelas atas itu tetap saja ada penikmat dan pembelinya. Bagi yang suka, barang itu mungkin dirasa unik dan tiada duanya.

Advertisement

Tapi bagaimana kalau barang fashion itu sampai dikecam karena dinilai tidak etis dan melanggar norma dasar?

Dari dulu ada perdebatan etis soal pemakaian bulu atau kulit binatang langka untuk fashion, tapi kali kontroversinya lebih mengerikan. Ada seorang desainer yang viral karena membuat tas yang dilabeli terbuat dari tulang manusia. Ternyata desainer di pusat kontroversi ini adalah seorang desainer asal Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat bernama Arnold Putra. Desain-desain Arnold memang dikenal unik dan eksotis, namun apakah sampai harus menggunakan tulang belulang manusia atas nama fashion? Bukan cuma masalah ia membuat tas dari tulang manusia, tapi juga kontroversi seputar bagaimana ia mendapatkan tulang tersebut. Begini cerita lengkapnya.

Kontroversi ini bermula ketika tas ‘lidah buaya dan tulang punggung manusia’ karya Arnold Putra dijual secara online. Yang lebih mengherankan, dalam kolom deskripsi dijelaskan bahwa bahan-bahan pembuat tas ini didapatkan secara etis

Selain tulang manusia, tas ini juga menggunakan lidah dari buaya (bukan lidah buaya yang tanaman lo) via twitter.com

Dalam situs theunconventional.co.uk, tas yang disebut tas ‘lidah buaya dan tulang punggung manusia’ ini dijual dengan harga 4.050 Euro atau sekitar 72 juta rupiah. Dari nama tasnya saja, orang-orang pasti dibikin bergidik ngeri membayangkan tulang punggung manusia digunakan untuk jadi pegangan tas tangan. Belum lagi ketika membaca kolom deskripsi yang menjelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan tas, termasuk 100% ‘human spine handle’ alias 100% handle dari tulang punggung manusia, ini diperoleh secara etis.

Advertisement

Wajar saja kebanyakan orang bertanya-tanya, bagaimana coba cara mendapatkan tulang manusia dengan legal dan etis untuk dijadikan aksesori tas? Atau mungkin itu hanya gimmick semata menyebutnya sebagai ‘tulang manusia’ padahal terbuat dari bahan lain. Alhasil, banyak orang akhirnya bertanya langsung kepada situs yang menjual tas ini untuk mencari penjelasan. Jawabannya hanya sekadarnya, salah satu jawabannya menjelaskan bahwa desainernya (Arnold Putra) mendapatkan dalam perjalanannya keliling dunia. Kini laman yang menjual tas ini tampaknya sudah dihapus.

Selain desainer, Arnold diketahui hobi keliling dunia dan berkunjung ke suku-suku pedalaman di berbagai pelosok dunia. Ini juga dipermasalahkan, pasalnya ia dinilai sering bersikap tak menghargai dan bahkan membodohi penduduk lokal

Postingan IG Arnold yang kini private  via twitter.com

Nama Arnold Saputra semakin jadi kontroversi ketika ada beberapa thread mengulik akun Instagram pribadinya dan menemukan beberapa unggahan yang mereka anggap sangat tidak pantas. Beberapa yang disoroti adalah ketika Arnold berkunjung ke berbagai suku pedalaman di Amazon atau Papua Nugini, seperti bagaimana ia sengaja menghadiahkan jam tangan branded palsu yang dibeli di Pasar Mangga Dua untuk mendapatkan hadiah dari kepala suku. Thread di bawah ini menyebutkan hadiah eksotis yang didapatkan Arnold termasuk tulang manusia. Akun @SuperiorGab ini juga menunjukkan postingan-postingan Arnold lain yang dinilai bermasalah dan melanggar banyak kode etik.

Advertisement

Belum ada klarifikasi lebih lanjut dari sang desainer sendiri, tetapi kontroversi ini telah viral dan diliput beberapa media asing juga. Terutama di dunia fashion atau seni secara umum, kontroversi ini kembali memunculkan pertanyaan lama yaitu seberapa jauh sih kreativitas itu diperbolehkan dalam menciptakan sebuah karya. Apakah yang seperti tas tulang manusia itu masih bisa disebut fashion item dan dinilai sebagai barang seni. Atau ya memang sudah melanggar batas dan kode etik? Kalau dilihat dari perdebatan di Twitter sih, masih ada yang menyebutnya unik. Nah menurut kalian gimana Guys?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE