Unta-Unta di Qatar Lembur sampai Kelelahan, Layani Safari Gurun Para Turis Piala Dunia

Gelaran sepak bola paling bergengsi Piala Dunia tahun ini digelar di Qatar. Tercatat setidaknya ada lebih dari satu juta orang datang untuk menyaksikan Piala Dunia 2022 ini. Selain menyaksikan pertandingan akbar itu, para turis yang datang juga berbondong-bondong mengunjungi destinasi wisata di Qatar, salah satunya safari gurun atau padang pasir dengan menunggangi unta.

Advertisement

Sebagai negara Timur Tengah, wisata safari gurun ini memang menjadi favorit para turis. Sehingga, momen Piala Dunia ini ikut meningkatkan pariwisata Qatar. Sayangnya, hal ini membuat unta-unta wisata di Qatar harus lembur untuk mengantar turis berwisata di gurun dengan jam kerja yang panjang dari padi buta hingga tengah malam.

Unta-unta di Qatar kelelahan melayani turis hingga tak sanggup berdiri

Unta Qatar kelelahan

Unta | Foto oleh Magda Ehlers dari Pexels

Peningkatan jumlah turis sejak gelaran Piala Dunia memang membawa berkah tersendiri bagi pariwisata lokal. Banyak turis dari berbagai belahan dunia yang penasaran menjajal pengalaman menunggangi unta untuk menyusuri padang pasir yang luas sembari mengabadikan momen pemandangan yang indah.

Melansir dari AP, hampir sepanjang hari ratusan pengunjung rela mengantre menunggu giliran untuk menunggangi unta. Hal ini membuat unta harus bekerja tanpa henti dari pagi buta hingga sekitar pukul 2 siang untuk istirahat sejenak, kemudian melanjutkan wisata hingga tengah malam.

Advertisement

Bahkan, banyak unta-unta yang terduduk lemas tapi tetap dipaksa berdiri oleh pawangnya, karena para turis yang nggak mau menunggu waktu istirahat yang lebih lama. Alhasil keributan seperti unta yang mengerang keras dan turis-turis yang berteriak karena kaget cukup sering membuat antrean wisata itu jadi gaduh.

Meningkatnya jumlah turis membuat penghasilan layanan wisata itu dan para buruh pawang juga meningkat. Namun, nggak bisa dimungkiri bahwa pawang unta juga merasakan tekanan ketika bekerja. Apalagi ketika mendapati unta mereka kelelahan karena terlalu bekerja keras.

“Ada banyak uang yang masuk. Terima kasih Tuhan, sungguh ini sebuah berkah, tapi kami harus bekerja dengan banyak tekanan,” ungkap Al Ali, seorang pawang unta di sebuah layanan wisata safari gurun seperti dinukil dari AP.

Advertisement

Peningkatan wisata safari gurun dari 15-50 perjalanan jadi 1000 perjalanan tiap hari

Unta Qatar kelelahan

Unta wisata | Foto oleh Neil Harrington Photography dari Pexels

Di layanan wisata safari gurun tempat Al Ali bekerja terjadi peningkatan perjalanan wisata safari gurun yang cukup drastis. Rata-rata di hari kerja sebelum Piala Dunia 2022, perusahaan mereka hanya melayani 20 perjalanan tiap hari dan 50 perjalanan di akhir pekan.

Sementara itu, sejak Piala Dunia dimulai, mereka melayani 500 perjalanan di pagi hingga siang menjelang sore dan 500 perjalanan lagi di sore hingga tengah malam. Nggak hanya itu, layanan wisata itu juga menambah jumlah unta. Sebelumnya mereka hanya memiliki 15 ekor unta, kini menjadi 60 ekor unta.

Para pawang unta kebanyakan sudah menekuni pekerjaan itu selama bertahun-tahun, sehingga mengetahui ketika unta kelelahan. Biasanya unta akan menolak bangun dan segera duduk lagi setelah dipaksa berdiri, sehingga butuh istirahan yang lebih lama. Hal itulah yang kini setiap hari harus para pawang hadapi, karena waktu istirahat yang sangat sedikit.

Unta-unta harus membawa pengunjung berkeliling dengan berbagai rute perjalanan. Paling pendek hanya butuh waktu 10 menit, sedangkan rute panjang bisa 20-30 menit. Sebelumnya, unta biasa beristirahat setelah membawa 5 perjalanan. Namun, sejak Piala Dunia berlangsung, tiap unta membawa 15-20 perjalanan tanpa istirahat, bahkan saat antrean membludak, tiap unta dipaksa membawa 40 perjalanan tanpa istirahat.

Menurut Al Ali, seringkali ia harus memaksa unta berdiri ketika duduk kelelahan, karena desakan turis yang nggak mau menunggu unta istirahat lebih lama. Mereka beralasan sudah mengantre cukup lama dan ada agenda menonton pertandingan.

“Orang-orang yang datang mengatakan ‘kita tidak bisa menunggu lagi, tim kita akan bertanding’, atau mereka harus mengejar penerbangan, bahkan ada rencana yang dituju di tengah gurun, jadi harus mengejar waktu,” ujar Al Ali.

Nggak hanya lonjakan perjalanan yang harus unta-unta itu layani, jam kerjanya juga makin panjang. Unta-unta dipaksa lembur, dari pagi buta untuk melayani turis yang ingin berfoto saat matahari terbit di tengah gurun, hingga tengah malam untuk melayani para turis yang ingin menikmati suasana malam di tengah gurun.

Wisata safari gurun menunggangi unta yang kelelahan ini bahkan sampai menyita perhatian masyarakat dunia, bahkan sempat dikecam berbagai komunitas pecinta hewan. Para turis hingga penyedia layanan wisata pun sempat dikritik, karena tindakan mereka dinilai termasuk penyiksaan dan eksploitasi hewan.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE