Penyakit Jantung juga Menyerang Anak Muda, Yayasan Jantung Indonesia Ajak untuk Terapkan Solusinya

Yayasan Jantung Indonesia

Dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19 yang mampu menular dengan cepat dan menyebabkan ribuan angka kematian. Akan tetapi, tentunya kita tidak boleh melupakan penyakit lain yang juga menjadi penyebab tertinggi kematian di Indonesia maupun di dunia. Salah satunya adalah penyakit jantung. Ironisnya, kini penyakit jantung pada usia muda semakin meningkat. Kita, sebagai generasi muda, yang seringkali menganggap penyakit jantung sebagai penyakit orang tua, tak boleh terlena.

Advertisement

Berangkat dari hal tersebut, Yayasan Jantung Indonesia dengan dukungan penuh dari World Heart Federation (Federasi Jantung Sedunia) mengadakan berbagai rangkaian acara yang berhubungan dengan youth capacity building dalam bidang kesehatan jantung. Salah satunya adalah webinar yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Jantung Indonesia pada tanggal 29 September kemarin, dengan tema “Penyakit Jantung Menyerang Anak Muda Apa Solusinya?”.

Peningkatan penderita penyakit jantung di usia produktif patut diperhatikan. Terlebih menghadapi bonus demografi yang diprediksi terjadi tahun 2035 nanti

Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin, dalam webinar (dok. tangkapan layar YouTube) via www.youtube.com

Pada tahun 2015, berdasarkan survei penduduk antarsensus (Supas), jumlah penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai 266,91 juta jiwa di tahun 2019. Sedangkan pada tahun 2017, Bappenas memprediksi bahwa pada tahun2035 penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 297 juta jiwa. Pada tahun 2035 pula, diprediksi Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu, jumlah penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) pada periode tersebut diperkirakan mencapai 64% dari total jumlah penduduk saat itu.

Berdasarkan estimasi Kementerian Kesehatan 2013, sebanyak 39% penderita jantung di Indonesia berusia kurang dari 44 tahun. Bahkan 22% di antaranya berumur 15–35 tahun, yang merupakan masa fisik produktif dalam kehidupan manusia. Memang jumlah ini masih kalah dengan jumlah penderita pada kelompok 45-65 tahun. Namun, seiring bonus demografi, hal ini patut diperhatikan pula, terutama oleh generasi muda agar dapat melakukan pencegahan sejak dini atas penyakit jantung.

Advertisement

“Yayasan Jantung Indonesia mengampanyekan pentingnya pencegahan penyakit jantung dan kardiovaskular dengan fokus utama pada generasi muda yang masih di usia produktif. Program Yayasan Jantung Indonesia adalah mengajak generasi milenial untuk menjadi agen-agen perubahan di bidang kesehatan jantung sehingga bisa menjadi smart influencer untuk lingkungan keluarganya, lingkungan tempat kerja, lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah baik melalui media virtual maupun tradisional,” ungkap Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin, sesuai rilis yang Hipwee terima, Jumat (2/10/2020).

Sayangnya persiapan generasi muda sebagai agen perubahan kesehatan menemui tantangan, terutama dari pola hidup sendiri

Webinar “Penyakit Jantung Menyerang Anak Muda Apa Solusinya?” (dok. tangkapan layar YouTube) via www.youtube.com

Kita tentu tahu bahwa penyakit jantung sangat erat kaitannya dengan gaya hidup yang tidak sehat. Beberapa di antaranya adalah kebiasaan merokok, kurang olahraga, makanan yang tidak sehat, dan tentu saja manajemen stres yang kurang baik. Inilah yang menjadi tantangan bagi kaum muda Indonesia dalam rangka melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit jantung.

Advertisement

“Penyakit jantung adalah termasuk salah satu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh: pola makan tidak sehat (GGL berlebihan), kurangnya atktivitas fisik, merokok, berat badan berlebih, peningkatan tekanan darah, dan prediabetes,” papar dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ripublik Indonesia.

Yang lebih buruk, penyakit jantung ini merupakan salah satu silent killer. Artinya, penderita biasanya tidak merasakan keluhan yang khas sampai mengalami serangan yang hebat.

“Biasanya orang tidak menyadari bahwa dia menderita penyakit karena keluhannya tidak khas atau tidak terasa. Mereka baru akan menyadari kalau menderita penyakit jantung setelah mengalami serangan hebat. Untuk itu salah satu cara utama untuk mencegah penyakit jantung selain menjaga pola hidup sehat adalah dengan deteksi awal melalui medical checkup”, ujar dr. Vito A. Damay, SpJP (K), Mkes, FIHAA, FICA, FAsCC.

Risiko penyakit jantung dapat ditekan dengan menerapkan pola hidup sehat

Jaga jantung dengan gaya hidup sehat via www.pexels.com

Berdasarkan yang telah dibahas tersebut, Yayasan Jantung Indonesia sebagai Organisasi Kesehatan memandang perlu kolaborasi yang efektif antara masyarakat umum dan Pemerintah untuk menekan prevalensi penyakit Jantung yang dialami oleh masyarakat usia produktif.

Dr. Tara Kessaram selaku Team Lead, Noncommunicable Diseases and Healthier Population, WHO Indonesia, memberikan contoh beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan penyakit jantung. Di antaranya adalah: menjauhi rokok, rajin olahraga dan beraktivitas fisik secara rutin, hidup dengan diet sehat, serta mengampanyekan gaya hidup sehat melalui kegiatan-kegiatan positif di lingkungan. Selain itu, Yayasan Jantung Indonesia juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin sebagai skrining atau deteksi dini dari penyakit jantung dan kardiovaskular dalam rangka pencehagan.

Bagaimanapun kita harus menyadari bahwa penyakit jantung bukan lagi penyakit orang tua. Penyakit jantung bisa menyerang siapa saja di usia berapa saja. Jadi, tidak ada ruginya kita melakukan berbagai upaya pencegahan serta mengupayakan gaya hidup yang sehat sejak masih muda. Bila kamu ingin menyimak lebih lengkap webinar “Penyakit Jantung Menyerang Anak Muda Apa Solusinya?”, kunjungi tautan https://www.youtube.com/watch?v=tK5-amYPhW8. Yuk, lebih peduli pada kesehatan sejak dini~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE