Wejangan ‘Jangan Buru-buru Menikah’ Viral di Media Sosial, BKKBN Beri Dukungan

Media sosial memang sering membahas berbagai isu yang dekat dengan kehidupan penggunanya. Seperti belakangan ini di media sosial Twitter ramai membahas wejangan supaya nggak terburu-buru menikah. Wejangan itu pun jadi viral karena banyak ditanggapi warganet soal pengalaman mereka.

Apalagi persoalan menikah bagi anak muda saat ini memang cukup sensitif. Belum lagi bila berkaitan dengan kesiapan mental, ekonomi, keluarga, hingga perencanaan keturunan. Nggak heran wejangan itu banyak menuai pro dan kontra warganet. Menariknya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ikut mendukung wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ tersebut. Apa ya alasan BKKBN ikut nimbrung wejangan viral itu?

ADVERTISEMENT

Bermula dari pengalaman warganet soal wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ di akun menfess

Pembahasan wejangan soal ‘jangan buru-buru nikah’ berawal ketika seorang warganet mengungkap keresahannya di sebuah akun menfess (mention confess). Wejangan itu kerap didapat oleh mereka yang masih lajang dari orang-orang terdekat yang sudah menikah.

“Kenapa ya rata-rata orang tang sudah menikah ngasih wejangan untuk tidak buru-buru menikah,” cuit sebuah akun menfess.

Cuitan itu langsung dibanjiri berbagai tanggapan warganet. Kebanyakan mereka juga mengalami hal yang sama, mendapat wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ dari orang-orang yang sudah menikah. Banyak juga warganet yang mendukung wejangan itu, dan menyarankan, orang-orang lajang untuk lebih mantap sebelum memutuskan untuk menikah.

“Benar banget, orang terdekat dari mulai saudara, teman dekat, teman kerja, orang baru kenal sekalipun selalu bilang ‘nggak usah buru-buru nikah, nikmati aja dulu masa-masa kesendirianmu’,” tulis seorang warganet.

Bahkan, banyak orang-orang yang sudah menikah turut membagikan pandangannya kehidupan setelah pernikahan yang mungkin nggak seindah perkiraannya.

“Karena setelah menikah dunia pernikahan nggak seindah cerita-cerita dongeng yang happy ending. banyak hal di luar ekspektasi seperti hidup baru dengan seseorang, gimana kondisi keuangan, hubungan keluarga, dan banyak lagi yang beda banget dari pas single,” tulis seorang warganet lainnya.

ADVERTISEMENT

BKKBN sependapat dengan wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ demi kesiapan mental dan fisik

Wejangan jangan buru-buru nikah

Foto pasangan menikah | dari Pexels

Ramainya pembahasan wejangan yang viral memang menuai pro dan kontra. Meski banyak yang setuju, banyak pula yang menganggap sebaliknya. Namun, wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ justru mendapat dukungan dari Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, SpOG.

“Saya kira pernyataan itu banyak benarnya, karena kan sekarang ini masih banyak perempuan yang menikah belum di usia 20 tahun,” tutur dr. Hasto dinukil dari DetikHealth.

Bahkan, menghadapi banyaknya usia pernikahan di bawah 20 tahun itu, BKKBN membuat kampanye usia menikah minimal 25 tahun untuk laki-laki. Harapannya, laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga bisa lebih dewasa dari perempuan, dan bisa memiliki pekerjaan yang mapan, sehingga memiliki kematangan secara ekonomi dan kesiapan mental yang lebih baik.

“Kampanye BKKBN menikah usia 25 tahun untuk laki-laki harapannya ya supaya lebih dewasa, ada pekerjaan yang mapan di usia itu, jadi bisa bertanggung jawab dan ada kesiapan secara ekonomi dan mental,” imbuh dr. Hasto.

Lebih lanjut dr. Hasto juga menyinggung soal angka perceraian pada pernikahan usia muda karena masalah-masalah kecil terus meningkat. Menurutnya, perceraian tersebut arena pasangan suami-istri belum cukup dewasa menghadapi konflik rumah tangga, sehingga risiko perceraian lebih besar.

“Sekarang ini angka perceraian juga tinggi. Perceraian itu lebih disebabkan konflik-konflik kecil yang sifatnya terus-menerus terjadi yaitu konflik kronis. Kronis itu kan berlangsung lama, terus-menerus. Itu umumnya karena usia terlalu muda, sehingga kurang dewasa menghadapi masalah,” kata dr. Hasto lagi.

Sementara itu, kesiapan fisik bagi perempuan juga cukup penting diperhatikan. dr. Hasto menjelaskan, perempuan di bawah 20 tahun memiliki risiko bayi lahir stunting hingga kematian ibu dan bayi yang lebih besar.

ADVERTISEMENT

Namun BKKBN kurang setuju wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ untuk perempuan 30 tahun ke atas

Wejangan jangan buru-buru nikah

Foto hamil | dari Pexels

Kendati mendukung wejangan yang viral itu, tapi BKKBN nggak sepenuhnya sepakat bila wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ itu disampaikan pada perempuan usia 30 tahun ke atas. Salah satu aspek yang harusnya jadi perhatian mengenai usia ideal bagi perempuan untuk hamil dan melahirkan.

“Menurut saya, kalau perempuan usia 30 tahun dikasih tahu agar tidak usah buru-buru nikah itu menurut saya kurang tepat,” kata dr. Hasto, dinukil dari Liputan6.

dr. Hasto mengungkap bila perempuan yang hamil di atas 35 tahun bisa mengalami kehamilan berisiko tinggi. Kondisi patologis pada kehamilan pertama di usia 35 tahun ke atas seringkali menyebabkan banyak masalah seperti kelainan kongenital atau cacat bawaan kromosom meningkat, bayi lahir prematur, dan kemarian bayi.

“Jadi untuk perempuan kalau usia sudah 30 tahun menunda-nunda menikah itu nggak bagus,” tutur dr. Hasto yang juga merupakan dokter kebidanan dan kandungan.

Lebih lanjut, dr. Hasto mengungkap usia menikah pada perempuan di 20 tahun ke atas sudah cukup bagus, tapi bila sampai 30 tahun ke atas perlu pertimbangan berkaitan dengan kehamilan. Sementara itu, bagi laki-laki usia 25 tahun sudah cukup matang dan secara biologis usia 40 tahun bukan masalah untuk memiliki keturunan.

Pendapat BKKBN soal wejangan ‘jangan buru-buru nikah’ itu memang nggak hanya memberikan dukungan, mengingat kesiapan mental dan fisik sangat penting untuk dalam kehidupan pernikahan. Namun, tetap saja ada usia-usia yang memang sebaiknya jangan menunda-nunda untuk menikah. Sehingga untuk menjalani pernikahan memang butuh persiapan matang baik mental, finansial dan fisik, supaya saat mencapai usia biologis yang cukup baik, nggak perlu lagi untuk menunda-nunda.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE