Ingatkah kamu pada November lalu kita menghujat keras aksi teror di Paris? Tragedi yang setidaknya menewaskan 130 orang tersebut memunculkan simpati dan pro kontra. Ada yang merasa tindakan teroris sangat jauh dari definisi sikap normal manusia — ada pula yang meributkan, “Kenapa kita heboh soal Paris tapi tidak heboh dengan Palestina?

Kemarin pagi tragedi kemanusiaan serupa menyerang Jakarta. Aksi teror menghantam ring 1 Ibukota.

Ada 1 yang jelas berbeda dengan Paris Attack: Tidak ada Facebook di sana.

Ketika kita bisa dengan mudah mengecek keselamatan teman-teman di Paris via Facebook Safety Check, kenapa Facebook tidak mengaktifkan fitur yang sama di Jakarta?

Fitur Safety Check Facebook mulai digunakan tahun 2011 saat Bencana Tsunami dan Nuklir di Jepang. Selanjutnya Bom di Nigeria sampai Taifun Ruby juga membuat Facebook mengaktifkannya

Setelah pertama diaktifkan di Jepang, Safety Check digunakan di beberapa negara via gadgets.ndtv.com

Advertisement

Sampai saat ini Fitur Safety Check di Facebook sudah pernah digunakan di Afghanistan, Chili, Nepal, sampai bencana angin Taifun di Filipina. Data selengkapnya bisa kamu lihat di sini.

Dengan fitur ini pengguna Facebook yang berada di lokasi bencana dapat mengirimkan notifikasi ke teman-temannya bahwa mereka aman

Yes, i am okay! via www.forbes.com

Dilansir TIME, pada tragedi Paris Attack tercatat 4 juta pengguna menggunakan fitur ini. Dan ada 360 juta notifikasi yang diterima oleh pengguna di seluruh dunia yang mengabarkan bahwa rekan mereka aman di Paris.

Paris Attack adalah kali pertama Facebook mengaktifkan Safety Check untuk bencana kemanusiaan. Pada awalnya fitur ini memang hanya didesain untuk bencana alam

Paris Attack adalah kali pertama Facebook mengaktifkan Safety Check bukan untuk bencana alam via infossible.com

“Dalam krisis atau epidemi yang masih berlangsung, sulit untuk mengaktifkan Facebook Safety Check. Karena kita tidak tahu kapan krisis akan berakhir. Pengguna juga tidak bisa memastikan apakah dia benar-benar sudah aman.”

Alex Schultz, Vice President of Growth

“Aktivasi di Paris akan mengubah kebijakan kami soal Safety Check. Kapan kami akan mengaktifkannya dalam insiden tragis dan serius lain di seluruh dunia. Kami ingin tools ini tersedia kapanpun dan di manapun dibutuhkan.”

Schultz mengungkapkan rencana perubahan kebijakan Facebook via thinkapps.com

This activation will change our policy around Safety Check and when we activate it for other serious and tragic incidents in the future. We want this tool to be available whenever and wherever it can help— tulis sebuah notes resmi yang dikeluarkan oleh Page Facebook Safety.

Sebagai negara dengan 70 juta pengguna di 2014, kenapa Facebook nggak mengaktifkan fitur Safety Check di Jakarta?

Kemarin, pengguna media sosial di Jakarta mengeluarkan fitur safety checknya sendiri. Dengan tagar #SafetyCheckJKT mereka mengabarkan apa yang terjadi di sekitar mereka. Penggunaan tagar memudahkan pengguna lain mengamati updates yang terjadi.

Sampai saat ini Facebook belum memberikan tanggapan. Apakah ini karena aturan ‘dampak dan keparahan’ yang Facebook punya?

Seminggu setelah Safety Check diaktifkan di Paris, Facebook mengaktifkan fitur yang sama di tragedi bom Nigeria yang menewaskan 34 orang.

Mark Zuckerberg memberikan pernyataan bahwa tim Facebook akan bekerja lebih cepat untuk menentukan kriteria kapan Safety Check dapat digunakan. Dan dalam keadaan apa Safety check paling menguntungkan untuk diaktifkan. Tapi sampai saat ini kriteria tersebut belum diungkap ke publik.

Satu-satunya kriteria yang pernah diungkapkan Schultz adalah “Scope, Scale, and Impact.” Apakah ini berarti jumlah korban dari tragedi?

Saat tragedi Paris menewaskan 130 orang, bom Nigeria 34 orang, sementara bom Jakarta 6 orang.

Sampai ada pernyataan resmi dari Facebook kriteria jumlah korban memang masih asumsi. Namun sayang sekali jika standar Safety Check Facebook yang menenangkan itu hanya ini.