Wujud Asli dari Berbagai Rasa Makanan dan Minuman Kekinian, Dari Taro sampai Charcoal

Rasa asli taro charcoal

Buat anak zaman sekarang yang sering nongkrong di kafe, pastinya udah familiar dengan minuman-minuman seperti matcha latte atau red velvet latte. Apalagi buat mereka yang nggak suka kopi, latte-latte manis berwarna cerah ini seringkali jadi pilihan. Bukan cuma matcha atau red velvet saja, tren rasa ‘kekinian’ tuh tampaknya bertambah semakin banyak saja tiap tahunnya. Dari charcoal alias arang yang banyak ditemui di berbagai makanan dan minuman, sampai menu favorit di toko bubble tea seperti taro. 

Advertisement

Rasa-rasa ini tentunya sangat populer dan punya banyak penggemar, tapi pernahkah kalian penasaran sebenarnya rasa red velvet atau taro itu aslinya terbuat dan berasal dari tanaman apa. Apalagi rasa unik seperti arang, apa benar itu dari arang kayu yang kita pakai untuk masak BBQ?!  Nah buat yang juga penasaran, yuk baca ulasan Hipwee Feature kali ini!

Matcha. Dibandingkan yang lain, rasa ini mungkin yang paling tradisional dan sesuai dengan rasa aslinya yaitu teh hijau muda yang digiling menjadi bubuk

Matcha tuh beda sama teh hijau | Photo by Jason Leung/Matcha & CO/Arfan Abdulazeez via unsplash.com

Dibandingkan rasa-rasa kekinian lain yang akan kita bahas dalam artikel ini, rasa matcha di latte atau kue memang yang paling  mirip dengan rasa aslinya matcha. Matcha sendiri adalah jenis olahan tradisional teh hijau dari Jepang. Berbeda dengan daun teh kering yang biasanya kita minum dalam bentuk teh celup, matcha terbuat dari daun-daun teh hijau muda yang digiling menjadi bubuk sehingga rasanya juga lebih kuat. Tanpa tambahan gula atau krim, matcha asli itu pahit banget!

Popularitas matcha sebagai rasa minuman atau campuran berbagai kue atau snack, mulai mendunia seiring meledaknya popularitas budaya pop Jepang lain seperti manga atau anime. Apalagi setelah gerai kopi internasional seperti Starbucks juga mengadopsi matcha latte dalam menunya, varian rasa ini jadi populer di banyak negara.

Advertisement

Red Velvet. Berawal dari kreasi kue, rasa ini kini juga merambah dunia minuman. Warna merah atau merah mudanya sangat menarik, meski orang banyak yang kebingungan menjelaskan rasanya

Tidak ada rasa asli red velvet, adanya kue dan grup K-Pop Red Velvet | Photo by Toa Heftiba/Owen Bruce via unsplash.com

Sebelum grup K-Pop Red Velvet debut, kue red velvet sudah lebih duluan populer di dunia kuliner. Terdiri dari tumpukan kue sponge yang diberi pewarna merah dengan lapisan cream cheese diantaranya, nama kue ini lebih merepresentasikan penampilan daripada rasa asli bahan-bahannya. Kalau rasa asli kuenya dibedah, kue sponge-nya biasanya diberi perisa vanilla dengan paduan cream cheese manis dan segar.

Cream cheese yang kental dan lembut ini membuat cita rasa kue red velvet berbeda | Photo by Amanda Congiu via unsplash.com

Wajar sih banyak orang kebingungan ketika mulai melihat tren minuman ‘red velvet’, karena tidak bisa membayangkan rasanya. Selain warna merah dari pewarna buatan, rasa manis di berbagai minuman atau campuran minuman berjudul red velvet juga tidak ada pakemnya. Ada yang sedikit dicampur cokelat, ada juga yang sekadar manis gula. Minuman seperti red velvet latte juga sepertinya tidak mengandung cream cheese selayaknya kue red velvet.

Taro. Identik dengan minuman atau makanan berwarna ungu, banyak orang masih belum tahu kalau taro itu sebenarnya umbi-umbian yang kita kenal di Indonesia sebagai talas

Advertisement

Kurang menjual kali ya kalau disebut talas latte | Photo by Ismael Trevino via Unsplash/ pisauikan via Pixabay/ Varintorn Kantawong via Pixabay via pixabay.com

Siapa sih yang nggak tertarik sama warna ungu cantik dari bubble tea taro atau taro latte?! Meski tidak bisa membayangkan rasanya, orang-orang mungkin mencoba minuman-minuman ini hanya setelah melihat warnanya. Selain manis dari gula, rasa minuman taro pun tidak terlalu kentara atau mencolok. Alhasil, orang masih banyak yang belum tahu wujud atau rasa asli taro. Karena warna ungunya yang mencolok, banyak orang juga salah kaprah mengira taro itu ubi ungu padahal bukan~

Nah, identitas taro itu sebenarnya adalah umbi-umbian yang di Indonesia kita kenal sebagai talas. ‘Taro’ sendiri merupakan sebutan talas di wilayah negara-negara kepulauan kecil Oseania seperti Pulau Cook. Punya tekstur mirip kentang, rasa asli taro sedikit lebih manis layaknya ubi dengan sedikit cita rasa vanila. Warna aslinya juga tidak se-ungu minuman-minuman kekinian yang sekarang populer itu, justru cenderung putih. Demi lebih menarik perhatian, warna dan rasa ‘taro’ ini akhirnya banyak yang dicampur pemanis dan pewarna buatan.

Di Indonesia sendiri, talas juga sudah banyak diolah jadi snack kekinian kok seperti bolu talas. Kalau di kafe-kafe, masih belum ada tuh kayaknya talas latte atau bubble tea talas. Mungkin dianggap kurang catchy kali ya jika dibandingkan dengan taro latte.

Charcoal. Salah satu tren kuliner kekinian terbaru, banyak orang yang tergoda mencoba makanan atau minuman serba hitam. Tapi bukan beneran dari arang yang dipakai BBQ-an lo~

Jangan DIY-sendiri bikin bubuk charchoal pakai arang beneran ya Guys! Bahaya! | Photo by Nathan Dumlao/Adrien Olichon via unsplash.com

Dari burger, pizza, sampai minuman latte sekarang bisa ditemukan versi hitam legamnya. Bukan gosong, tapi makanan dan minuman ini diberi perisa atau pewarna charchoal. Charcoal kalau diterjemahkan secara harfiah tuh berarti arang. Kok makan arang sih, apa tidak berbahaya? — pemikiran itu pasti melintas di benak banyak orang pada awalnya.

Charcoal di sini bukan arang atau sisa kayu bakar setelah dibakar dengan api, tapi activated charcoal‘ terbuat dari batok kelapa, bambu, atau tanaman lain yang dibakar dengan menggunakan oksigen sehingga memiliki tekstur berongga dan menyerupai arang beneran. Bubuk activated charcoal ini sebenarnya hambar alias hampir tidak ada rasanya, sehingga ‘charcoal’ yang ada di makanan atau minuman biasanya hanya berfungsi sebatas pewarna saja.

Bubble gum. Sudah cukup lama populer sebagai rasa es krim atau minuman, rasa ‘permen karet’ ini pun sulit dijelaskan dengan kata-kata

Permen karet sendiri kan banyak rasanya ya~ | Photo by Dakota Corbin/Samuele Giglio via unsplash.com

Sama seperti rasa-rasa sebelumnya, rasa bubble gum atau permen karet dalam minuman atau es krim sepertinya memang sulit dijelaskan. Rasanya yang jelas manis dan sedikit artificial. Tapi kenapa sampai disebut rasa permen karet ya, mengingat permen karet itu banyak merek dan varian rasanya.

Usut punya usut, ternyata rasa bubble gum yang ada di es krim-es krim itu juga tidak ada standar pakem. Kebanyakan rasanya cenderung fruity. Dilansir dari laman Spoonuniversity, salah satu bos perusahaan permen Knechtel mendeskripsikan resep rasa bubble gumnya sebagai campuran dari perisa buatan strawberry-pisang-punch.

Nah, itu dia sederet wujud asli dari rasa makanan atau minuman kekinian yang masih belum banyak orang tahu. Beberapa diantaranya juga sebenarnya tidak bisa disebut rasa atau bahan perisa karena jatuhnya cuma sekadar pewarna. Kebanyakan juga tidak ada rasa spesifiknya, hanya manis dari gula atau pemanis buatan. Visual dan nama yang menarik mungkin jadi faktor terbesar kenapa rasa-rasa ini bisa jadi tren tersendiri di dunia kuliner.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE