Kisah Mengharukan Puger Mulyono, Tukang Parkir yang Bangun Yayasan untuk Anak dengan HIV/AIDS

Yayasan Lentera Puger Mulyono

Tak perlu menunggu kaya untuk menolong orang lain. Itulah yang diyakini oleh Puger Mulyono, seorang tukang parkir di Surakarta. Sehari-hari dia hanya mendapat penghasilan yang tak seberapa. Namun dengan ketekunan dan kebaikan hatinya, dia bisa mendirikan Yayasan Lentera untuk anak-anak dengan HIV/AIDS. Puger merasa kasihan pada mereka. Pasalnya, sebagian anak itu ditolak oleh keluarganya sendiri karena takut tertular penyakit. Maka Puger berinisiatif mengumpulkan dan merawat mereka semua.

Advertisement

Dari hari ke hari, Yayasan Lentera terus bertumbuh. Jumlah anak dengan HIV/AIDS yang dirawat oleh Puger pun bertambah. Mereka tinggal bersama layaknya keluarga.

Berkat kontribusinya, dia dinobatkan menjadi “Local Heroes” dalam Konser #BeraniDekat yang digelar di Yogyakarta. Apresiasi itu diberikan oleh DKT Indonesia pada 1 Desember 2019. Selain Puger, tokoh lain yang turut menerima penghargaan adalah bidan Ajeng Sulistyaningrum. Wanita tersebut melakukan edukasi Keluarga Berencana bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi. Dari mereka berdua, kita belajar kalau tak perlu menunggu kaya untuk menolong orang lain. Sebab bantuan juga bisa dilakukan dalam bentuk tenaga dan waktu. Jadi lakukan saja sesuai kemampuan kita saat ini.

Yuk simak kisah Puger yang mengharukan.

Advertisement

Seorang tukang parkir di Surakarta, Puger Mulyono, terketuk hatinya untuk membantu anak-anak dengan HIV/AIDS. Puger pun mendirikan Yayasan Lentera untuk merawat mereka

Yayasan Lentera di Surakarta via www.benarnews.org

Di Indonesia, masih banyak orang yang percaya berbagai mitos buruk tentang HIV/AIDS. Bahkan mereka menghindari karena takut tertular. Itulah yang menyebabkan sejumlah anak dengan HIV/AIDS terlantar. Kondisi miris tersebut membuat Puger tergerak untuk merawat mereka. Dengan penghasilan yang tak seberapa, pria paruh baya ini pun mendirikan Yayasan Lentera di Surakarta pada November 2012. Dia dibantu oleh dua rekannya yang bernama Kefas Jibrael Lumatefa dan Yunus Prasetyo. Mereka bersama-sama mengumpulkan dan merawat anak dengan HIV/AIDS.

Sebagian anak di Yayasan Lentera mengidap HIV/AIDS sejak mereka lahir. Sebab dikutip dari Hello Sehat, penyakit ini bisa menular dari ibu ke anak melalui proses kehamilan, persalinan, melahirkan, dan menyusui. Mereka pun terpaksa hidup dengan penyakit HIV/AIDS yang tak bisa disembuhkan. Penyakit ini membuat daya tahan tubuh mereka menjadi lemah. Akibatnya anak-anak ini berisiko meninggal karena penyakit komplikasi seperti TBC, gagal jantung, gagal ginjal, dan lainnya. Sungguh malang nasibnya. Karena itulah Puger memutuskan untuk merawat mereka. Hingga kini, puluhan anak dalam berbagai usia telah tinggal di Yayasan Lentera.

Walau berniat baik, Puger menerima hinaan dan cacian dari masyarakat sekitar yang takut pada dengan HIV/AIDS. Namun Puger berusaha menghadapinya dengan senyuman

Advertisement

Sosok Puger Mulyono yang menginspirasi via www.kompasiana.com

Dulu Yayasan Lentera bertempat di rumah kontrakan yang kecil. Sayangnya, keberadaan mereka tak langsung diterima oleh masyarakat setempat. Sebab sebagian orang takut tertular HIV/AIDS. Mereka mengira bisa ketularan melalui bersin, jabat tangan, dan interaksi sosial standar lainnya. Padahal dilansir dari Hello Sehat, sebetulnya panyakit HIV/AIDS tak semudah itu ditularkan. Umumnya penyakit ini menyebar melalui donor darah yang terinfeksi dan hubungan sosial tanpa kondom. Namun sayang, tak semua orang mengetahui info tersebut.

Akibat salah paham dari masyarakat sekitar, Puger sering menerima hinaan dan cacian. Keberadaan Yayasan Lentera pun sempat ditolak. Namun, Puger berusaha menghadapinya dengan senyuman. Dia juga tak membalas perbuatan buruk tersebut. Dia justru berusaha menyebarkan info yang akurat seputar HIV/AIDS. Untungnya, kemudian Yayasan Lentera mendapat tanah dari pemerintah kota. Mereka pun pindah ke Kompleks Makam Taman Pahlawan Kusuma Bakti, Jurug, Surakarta. Di sana mereka bisa hidup dengan lebih nyaman.

Di Yayasan Lentera, Puger mengasuh para dengan HIV/AIDS seperti anaknya sendiri. Mereka melakukan aktivitas sehari-hari layaknya keluarga

Puger dan anak-anak penderita HIV/AIDS via ilovelife.co.id

Bersama beberapa pengurus, setiap hari Puger merawat anak-anak dengan HIV/AIDS. Dia menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. Hal itu dimaklumi oleh istri dan beberapa anak kandung Puger. Mereka bergabung menjadi satu keluarga besar. Setiap hari, kegiatan di Yayasan Lentera berlangsung seperti kegiatan di rumah pada umumnya. Anak-anak itu harus bersekolah dulu di pagi hari. Sepulang sekolah, mereka bermain bersama atau nonton televisi bareng. Puger juga mengajak mereka untuk rajin beribadah. Terkadang para penghuni Yayasan Lentera pun pergi berlibur bersama.

Dengan penghasilan Puger yang kecil, awalnya sulit untuk memenuhi kebutuhan anak-anak HIV/AIDS. Namun seiring berjalannya waktu, Puger mendapat bantuan dari berbagai pihak

Yayasan Lentera di Makam Pahlawan via kumparan.com

Setiap harinya, Yayasan Lentera membutuhkan dana untuk beroperasi. Mereka harus membayar kebutuhan rutin, pengobatan, juga biaya sekolah anak-anak. Awalnya sulit untuk membayar semua itu karena sumber dananya terbatas. Namun lama-kelamaan, Yayasan Lentera mendapat sumbangan dari berbagai pihak seperti dinas sosial dan dinas pendidikan. Mereka juga bisa memperoleh obat gratis berkat adanya BPJS dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Sejumlah donatur pun turut menyumbang demi kesinambungan yayasan. Syukurlah, perbuatan baik Puger didukung oleh banyak orang.

Walau telah mengusahakan segala cara, ada kalanya Puger tak sanggup menyelamatkan mereka. Dia pun harus menghadapi kematian anak-anak yang disayanginya

Puger sedang mengasuh anak-anak via ilovelife.co.id

Hingga kini, ada 53 anak yang pernah tinggal di Yayasan Lentera. Usianya pun beragam, ada yang masih bayi dan ada yang sudah remaja. Semua diperlakukan Puger seperti anaknya sendiri. Namun sayang, 12 anak yang dirawat Puger telah meninggal dunia akibat HIV/AIDS. Mereka meregang nyawa karena memiliki penyakit komplikasi seperti TBC, gagal ginjal, dan gagal jantung. Puger pun harus merelakan kepergian mereka. Sungguh sedih rasanya, tetapi Puger memutuskan untuk bangkit dan membesarkan Yayasan Lentera.

Kini Yayasan Lentera semakin berkembang. Di berbagai kota, sejumlah relawan mengikuti jejak Puger untuk merawat anak-anak dengan HIV/AIDS

Puger bersama anak-anak yang diasuhnya via news.okezone.com

Berkat usaha Puger dan rekan-rekannya, Yayasan Lentera bisa berkembang sampai sekarang. Puger berkata bahwa yayasan ini telah menyebar ke berbagai kota dan kabupaten. Di setiap tempat, ada dua orang relawan yang mengurus anak-anak dengan HIV/AIDS. Selain menyebar di Pulau Jawa, yayasan ini juga menyebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, bahkan Papua! Luar biasa. Kebaikan Puger diikuti oleh banyak orang lainnya.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

ecrasez l'infame

CLOSE