Masyarakat berduka setelah Yudi, pria berusia 33 tahun yang namanya dikenal karena kondisi tubuhnya yang obesitas, meninggal dunia. Pria asal Karawang ini mengalami kondisi tubuh dengan berat badan tak wajar. Dengan kondisi seperti ini, nggak heran jika kemudian banyak masalah kesehatan yang menderanya. Sebelumnya Yudi pun sempat harus dirawat intensif.

Masalah obesitas sudah saatnya jadi perhatian bersama. Kasus serupa pernah dialami oleh Arya, bocah asal Bandung yang juga harus dirawat intensif. Namun berbeda nasib dengan Arya yang akhirnya bisa menurunkan hingga lebih dari 60 kilogram, Yudi justru tidak selamat. Hal ini pun sering membuat kita bertanya-tanya soal hubungan obesitas dengan kondisi ekonomi masyarakat. Seringnya penderita justru dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ternyata obesitas bukan hanya soal kebanyakan makan lho guys. Yuk kita bahas bareng benang merahnya bersama Hipwee News & Feature!

Yudi Hermanto, seorang pasien obesitas dengan berat badan 310 kg meninggal di rumah sakit

Kondisi Yudi saat masih dirawat via Kumparan.com

Advertisement

Pria berusia 33 tahun asal Karawang yang dalam setahun belakangan berat badannya naik drastis dari 110 kg ke 310 kg meninggal dunia. Kenaikan berat badan drastis ditengarai karena kebiasaan makan Yudi yang suka tidak terkontrol, terutama setelah bekerja sebagai security di perusahaan katering dan seringkali makan makaanan sisa katering. Karena alasan keterbatasan ekonomi, Yudi sempat mengurungkan niat untuk berobat dan mendapat perawatan medis. Pemkab melalui Dinas Kesehatan Karawang kemudian memberi bantuan kepada Yudi untuk dirawat secara intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang.

Seperti yang dilansir melalui Kompas, Yudi sempat mandi pada minggu pagi (10/12) dan kemudian berbaring di kasur. Namun tak berapa lama ia mengeluh dadanya sesak dan kemudian kejang-kejang. Pihak keluarga yang panik menghubungi dokter dan menghubungi perawat jaga. Namun ketika pihak rumah sakit hendak menolong, Yudi sudah tidak bergerak lagi dan dinyatakan meninggal dunia.

Yudi bukanlah kasus perdana, sebelumnya bocah bernama Arya juga mengalami obesitas dan harus dirawat intensif

Arya Permana bersama kawaan sekolahnya via News.com.au

Kasus serupa justru dialami oleh bocah berusia 10 tahun yang sama-sama berasal dari Karawang bernama Arya Permana. Arya pun sempat dirawat dan diperbantukan pemerintah untuk operasi penyempitan lambung di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Meski sempat menyentuh angka 192 kg, berat badan Arya setelah perawatan dan olahraga yang dipandu khusus oleh binaragawan Ade Rai kini hanya 131 kg. Meski begitu hingga kini ia masih menjalani ‘diet’ agar beratnya terus menurun. Namun berbeda nasib dengan Arya, Yudi justru tidak bisa selamat. Selain karena berat badannya yang sudah sangat tinggi, kondisi biologis Yudi yang cenderung lebih tua bisa jadi penyebab sulitnya perawatan.

Penyebab obesitas nggak melulu karena kebanyakan makan. Bisa juga karena hormon dan sindrom

Kenali penyebabnya dan cegah obesitas terjadi padamu via kaiserhealthnews.files.wordpress.com

Advertisement

Obesitas sudah barang tentu disebabkan karena pola makan berlebihan dan terlalu banyaknya asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh. Hal tersebut makin diperparah ketika seseorang jarang beraktivitas atau berolahraga demi mebakar kalori yang masuk ke tubuh. Namun selain perilaku overeating, obesitas juga bisa disebabkan oleh genetika, dan permasalahan medis.

Seseorang bisa mengalami kondisi obesitas akibat hypothyroidism, yaitu keadaan ketika kelenjar tiroid tidak mampu memproduksi hormon yang cukup. Akibatnya kalori yang masuk sulit dibakar dan menyebabkan penambahan berat badan terus menerus. Ada pula cushing’s syndrome atau suatu kelainan pada seseorang sehingga ia terus-terusan memproduksi hormon steroid yang menyebabkan tubuhnya makin membengkak. Jika berat badan seseorang sudah tidak wajar, ada baiknya langsung menemui dokter agar mendapat perawatan intensif sebelum terlambat.

Tapi kenapa ya kasus obesitas ini justru lekat dengan kondisi ekonomi kelas bawah? Padahal logikanya kelompok ini justru tidak punya banyak uang untuk membeli makanan

Soda dan makanan olahan berkalori tinggi justru semakin murah, makanan sehat trend-nya tambah mahal via Scroll.in

Bukan sebuah rahasia lagi jika obesitas memang lebih sering diderita oleh masyarakat dengan kondisi finansial menengah ke bawah. Kegemukan mungkin bisa saja sering ditemui pada masyarakat yang berkecukupan, namun yang hingga menyebabkan obesitas dan perlu penanganan ini sering menimpa mereka yang justru tidak memiliki cukup biaya untuk perawatan.

Seorang profesor dan peneliti obesitas, Dr. Adam Drewnowski, menyimpulkan bahwa masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah cenderung membeli makanan murah dengan kadar kalori tinggi. Mereka tidak memikirkan asupan kalori dan membeli makanan termurah dengan efek paling kenyang. Selain itu mereka seringnya kurang teredukasi soal gizi dan tidak mampu mengakses fasilitas olahraga yang mumpuni karena harga fasilitasnya tidak terjangkau. Jika hal ini ditambah dengan kondisi hormon seseorang dan ketidaktahuannya tentang bahaya obesitas, maka tidak heran seseorang dengan kondisi ekonomi berkekurangan rawan jadi penderita obesitas.

Oleh karena itu, sudah seyogyanya jika permasalahan obesitas jadi perhatian khusus pemerintah dan Dinas Kesehatan. Minimal dengan memberikan sosialisasi tentang bahaya dan penyebabnya sejak dini. Terutama setelah meninggalnya Yudi, obesitas sepertinya nggak patut untuk diabaikan lagi karena bukan hanya sekali saja terjadi. Sementara itu, yuk masing-masing dari kita juga menjaga asupan makanan dan menyeimbangkan gizi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya