Mengulik Fenomena Citayam Fashion Week. Cuma Ekspresikan Diri, kok Banyak yang Kontra?

Sepanjang beberapa waktu belakangan, kita disuguhi video-video jalanan yang ramai pejalan kaki atau hanya orang duduk-duduk dengan gaya fesyen terkini, kebanyakan nyentrik. Sebagian besar mereka adalah anak-anak muda yang ingin mengekspresikan diri. Kita nggak sedang membicarakan jalanan di Shibuya atau pusat fesyen lainnya macam kota Paris. Semua itu bisa kita amati di Indonesia, tepatnya di sekitaran Stasiun Sudirman. Yak! Fenomena ini sering disebut “Citayam Fashion Week”

Banyak yang menyambut positif dengan apa yang mereka lakukan, tapi banyak juga yang berkomentar negatif, bahkan merasa bahwa mereka merusak pemandangan. Padahal, kalau dipikir-pikir mereka, kan, hanya memanfaatkan ruang publik dan menjadi diri sendiri, ya?

Lebih lanjut tentang fenomena ini, Skuat by Hipwee ngobrol dengan Radita Pradana, TikToker sekaligus salah satu pelopor istilah ini. Kita simak yuk selengkapnya!

Apa sebenarnya Citayam Fashion Week? Mengapa begitu menarik?

Anak muda identik dengan kegiatan nongkrong dan aktualisasi diri. Tempatnya bisa di mana aja. Beberapa anak muda berumur 12-16 tahun dari Citayam, Bojong Gede, Tangerang, hingga Bekasi memilih untuk melakukan kegiatan ini di kawasan Stasiun KRL Sudirman dan MRT Dukuh Atas BNI. Entah hanya duduk-duduk, bermain skateboard, bikin konten, jajan, atau berkenalan dengan orang baru, tempat ini jadi titik yang mampu memberikan keleluasaan berekspresi bagi mereka.

Selain apa yang mereka lakukan, salah satu hal menyolok yang juga tampak dari anak-anak muda ini adalah outfit yang lebih nyentrik dan maksimal dari biasanya; celana gombrong, kemeja flanel, hoodie, crop top, nggak ketinggalan gaya rambut ala TikToker yang kadang diwarnai atau ditutupi topi. Pokoknya apa saja yang bikin mereka kelihatan lebih outstanding. Makanya, fenomena ini ramai disebut sebagai “Citayam Fashion Week”.

Fashion street seperti ini sebenarnya sudah lama populer, tapi keberadaan mereka yang bisa dikatakan masif dan didukung oleh media sosial sebagai sarana untuk memviralkan jadi keunikan tersendiri. Berkat itu pula, setiap minggu, semakin ramai pula kawasan ini.

Radita mengaku bahwa kawasan ini mulai ramai selama satu dua bulan ke belakang setelah ada video viral berisi sosok bernama Bonge dan Kurma. Melihat konten tersebut viral, para anak muda dari daerah lain juga datang. Content creator pun berbondong-bondong bergabung demi secercah FYP.

“Salah satu (alasannya) pasti FYP atau viral ya, soalnya gampang banget konten kreator FYP dan viral kalo ngangkat tema stasiun BNI City dan Citayem pride,” Radita menjelaskan.

Sayangnya, bentuk ekspresi mereka ternyata masih mendapatkan banyak kontra dari warganet

Jika membaca penjelasannya mungkin tampak nggak ada yang salah dari kegiatan ini. Mereka hanya nongkrong dan mengenakan outfit paling keren menurut mereka. Namun, banyak juga, lo, yang merasa kalau keberadaan mereka yang berada di tengah-tengah bangunan tinggi dan lingkungan yang selama ini dianggap sebagai kawasan elit dirasa “merusak pemandangan” atau “menodai”. Mungkin karena outfit yang mereka kenakan bukan yang mahal dan kegiatannya pun hanya begitu-gitu aja dan dilakukan bergerombolan. Padahal, begitulah artian sebenarnya dari fashion street dilansir dari Messycloset.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis