Rudy Habibie, film yang terlalu mencoba inspiratif, hingga jatuh ke kisah-kisah perjuangan yang pretensius

maxresdefasult

Dibuka dengan bombastis, film ini sentimentil di seantero film. Bernafsu menjadi dramatik di hampir setiap adegan. Bertubi-tubi, dari bagaimana Habibie menjadi korban perang kala kecil, ayahnya meninggal, ia kehabisan uang di Jerman, hingga adegan di-bully oleh senior dan masih banyak lainnya. Rasa pilu pun digambarkan selalu lewat adegan menangis dan sembayang. Ada juga flashback-flashback berulang “Jadilah mata air” yang tidak perlu. Semua berbondong-bondong berebutan mencuri rasa trenyuh penonton. Penonton sampai tak punya kesempatan menyatukan emosi dengan setiap situasi di kisahnya.

Habibie & Ainun punya formula mempertalikan kisah asmara dengan elemen sejarah. Itu tantangan berharga untuk dilewati. Tapi Rudy Habibie berbeda, ia begitu rakus. Ia hendak menjadi film sejarah, nasionalis, religius, moralis, romantis, sekaligus motivasional. Jadilah film ini kekenyangan muatan, dan susah untuk tidak berakhir pretensius.

Advertisement

B.J Habibie memang salah satu tokoh politik di Indonesia yang karya atau prestasinya berwujud konkret dan bukan sekedar gagasan. Ia membangun industri dirgantara. Sisi heroik dan protagonis itu yang lantas tanpa ragu digenjot habis-habisan secara eksplisit di Rudy Habibie. Habibie digambarkan sebagai sosok jenius-pejuang-nasionalis yang hampir tanpa cela. Ada glorifikasi (proses memuliakan) tokoh yang sangat terasa.

Mudah saja kita melihat pola kerja untuk membangun pesan moral dan inspiratif dari tokoh Habibie. Dipertemukan dengan beragam kesulitan dan problema, terjatuh, terpuruk, lalu diangkat di akhir. Agak kontradiktif kemudian tatkala dibawakan dengan tempo melodramatik yang mencecar di Rudy Habibie. Niatnya ingin memaparkan bahwa yang namanya perjuangan itu tidaklah mudah, dan mesti melalui banyak rintangan. Namun, film ini menyuguhkannya lewat pendekatan konflik yang begitu instan. Seakan begitu cepat dan mudah seseorang terjatuh lalu 10 menit berikutnya bangkit lagi, lalu jatuh lagi, bangkit lagi, dan seterusnya.

AADC? 2: Tak jauh beda dari sinetron yang bersambung

kayak sinetron berlanjut

kayak sinetron berlanjut via www.storibriti.com

Kehadiran film lanjutan Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) sudah dinanti-nanti sejak secuplik iklan aplikasi chatting muncul. Sejak itulah para penggemar film ini menunggu dengan sabar kisahnya Rangga dan Cinta setelah belasan tahun nggak diketahui kabarnya. Berbagai spekulasi pun bermunculan, keinginan penggemar agar ceritanya sama yang ada dalam iklan aplikasi chatting itu berdatangan. Tentu, gejolak drama percintaan kedua tokoh keren ini menjadi sangat dinanti saat pengumuman resmi Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC? 2) dilakukan.

Advertisement

Bagi saya, AADC? 2 tak dapat menumbuhkan cerita baru yang membuat penonton tercengang. Kita terlanjur pasang kuda-kuda bahwa apa saja yang dikatakan Cinta dan Rangga itu quotable. Tanpa disadari jalan cerita pun seperti mudah ditebak, terutama saat bagian awal ketika Cinta dan gengnya bakal liburan ke Jogja. Yup! Kita jadi tahu kalau di Jogja Cinta bakal ketemu sama Rangga dan mulai deh gelombang-gelombang asmara mereka hadir kembali.

Akting para pemain memang nggak perlu diragukan lagi. Mereka sukses bikin penonton terbawa kembali mengingat kisah AADC? sewaktu masih jaman SMA. Adegan bawa perasaan (baper) ala-ala AADC? pun hadir saat di akhir Rangga di bandara meninggalkan Indonesia. Meski akhir fimnya terasa datar dan garing, kehadiran Mamet sebagai pemecah suasana perlu diberi applouse yang megah. Berkatnya akhir film tak terasa garing dan cukup meninggalkan kesan menyenangkan buat penonton.

Bagaimanapun juga film AADC? 2 ini sudah menjawab pertanyaan penonton tentang kisah cinta dua insan yang sejak SMA dimabuk asmara namun malu-malu kucing mengakuinya. Tarik-ulur hubungan pun mereka lakukan dan pada cerita ini saya pikir cerita dibuat cukup apik karena penjelasan tentang kisah Cinta dan Rangga dulu lumayan terasa. Paling tidak para penggemar tak usah risau lagi dengan akhir film yang hits banget pada jamannya dulu. Sayangnya, cerita dibuat terlihat sangat menyesuaikan keinginan penonton seperti apa. Tak heran pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa film ini tak ubahnya dengan sinetron bersambung.

Komentar para tokoh atau pejabat pun sama: filmnya bagus, menginspirasi sekali, saya terkesan

_timthumb-project-code.php

“Saya kembali terkesan dengan film Indonesia, terutama pada kualitasnya. Juga para pelakunya. Tadi saya lihat semua lini the best. Baik sutradara maupun pemainnya. Saya terkesan pada film ini, sekaligus terharu,” ujar BJ Habibie seusai nonton film 3 Srikandi,

seperti dikutip dari Bintang.com

Siapapun memang berhak menonton film sesuai keinginan. Nggak ada salahnya juga kalau para tokoh atau pejabat ini menonton film apapun. Malah bagus kalau mereka memberikan dukungan pada perfilman nasional. Uniknya, komentar yang diberikan kepada media selalu sejenis, rata-rata  “filmnya bagus, berkualitas, sangat menginspirasi buat rakyat Indonesia”. Ngomong-omong, para tokoh/pejabat ini sebenarnya ada juga yang nggak hobi nonton film karya anak bangsa lho. Tapi katanya sih gara-gara nonton film bertema olahraga yang Hipwee singgung tadi (read3 Srikandi), mulai deh menyukai film Indonesia. Duh pak pejabat, berarti kemarin-kemarin nggak ikutan nonton film Tanah Air yang booming dihadiri kolega bapak dong? ;(

“Film kombinasi dua jam lebih kita nggak terasa. Pengen tau sampai di mana. Menarik. Terus ada tokoh si Milly. Haha. Saya pikir (dalam sebuah film) selalu ada tokoh, satu orang yang bisa buat terhibur. Saya kira bagus film ini,” ujar Ahok seusai nonton film AADC? 2

seperti dikutip dari kapanlagi.com 

“Saya akui, saya jarang nonton film Indonesia. Tapi setelah menonton film 3 Srikandi ini, saya mulai menyukai film-film Indonesia. Ini film wajib ditonton anak-anak muda. Tadi saya dengar ada yang nangis haru juga, tepuk tangan riuh setelah film usai menandakan film ini luar biasa,”,” kata Luhut Binsar Pandjaitan seusai nonton film 3 Srikandi, 

seperti dikutip dari bintang.com

Lantas kehadiran para tokoh atau pejabat ini fungsinya apa ya? Strategi penjualan dari filmnya saja atau juga sebagai pencitraan di mata masyarakat?

strategi penjualan?

strategi penjualan? via www.bintang.com

Strategi ini bukan barang baru sebenarnya. Pada bulan Maret 2008 silam misalnya, Presiden SBY (di masa jabatannya) hadir dalam penayangan film Ayat-Ayat Cinta diiringi oleh 107 politikus, 53 orang diplomat asing, dan banyak wartawan. Situasi itu sudak tampak dirancang rapi sebagai tontonan publik. Dan benar saja, beberapa hari kemudian turunlah berita dari harian Kompas bertajuk “Presiden Berkali-kali Menghapus Air Matanya.” Ini strategi yang cukup brilian dalam mempertegas citra SBY kala itu sebagai pemimpin yang punya sisi romantis (selain hobinya bermusik) dan spirit suportif yang kuat pada agama islam sebagai agama mayoritas. Tentu saja ini dilakukan menjelang pemilu parlemen dan pemilu presiden 2009. Pasalnya, Jusuf Kalla sebagai seteru politiknya sudah menarik perhatian publik dengan menghadiri penayangan film yang sama sebelumnya.

Selain sebagai bahan promosi filmnya, kesediaan para tokoh ini untuk menonton film juga menguntungkan bagi para tokoh tersebut. Citra positif akan melekat jika mereka menunjukan pujian pada film-film yang menampilkan jiwa nasionalisme dan gambaran ideal bangsa. Maka dari itu, film yang mereka tonton selalu film-film yang berjenis semacam itu, atau setidaknya yang tidak mencederai citra mereka. Tentu, akan jadi pergunjingan publik jika ada tokoh publik yang nonton film Suster Keramas lalu keluar sambil berkomentar “Filmnya bagus! Terutama aktingnya, bikin berkeringat..”

Lagi-lagi kita harus pintar menerima komentar para kritikus film dadakan ini. Dalam konteks komentar-komentarnya terkait film hasil undangan rumah produksi, kita bisa ibaratkan mereka adalah papan iklan. Tetap tonton saja filmnya, tapi jangan percaya mentah-mentah dengan opini mereka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya