Ngomongin stand up comedy belum sah kayaknya kalau nggak menyebut nama Pandji Pragiwaksono. Maklum, Pandji merupakan salah satu pelopor stand up comedy di Indonesia. Berawal dari kisahnya dulu saat masih kuliah mengenal stand up comedy dari DVD, kini Pandji sibuk dengan turnya hingga ke berbagai negara. Jika di artikel sebelumnya kita membagikan isi obrolan santai Pandji bersama Hipwee soal Pragiwaksono Stand Up Comedy Tour, maka artikel kedua ini banyak berisi tips-tips Pandji soal menjadi lucu. Membuat kita jadi tahu kayak gimana usaha para komika mengolah data sebagai bahan di panggung dan berbagai hal menarik lainnya di balik layar dunia stand up comedy. Apalagi jika kamu punya niatan menjadi komika.

 

Advertisement

Stand up comedy kebanyakan menceritakan pengalaman diri sendiri dan kadang menertawakan diri sendiri di beberapa bagian. Bagaimana caranya agar sukses melakukan itu?

Sebenarnya teorinya tragedi-waktu-komedi. Yang dulu ngenes dan sedih, setelah lewat beberapa lama, dilihat ke belakang menjadi lucu. Sulitnya adalah berapa lama nih waktu untuk menertawakan tragedi tersebut. Setiap orang berbeda-beda. Kuncinya adalah kalau kita sudah memaafkan kejadian itu, baru kita bisa jadikan bercandaan. Misalnya ditolak cewek waktu SD. Pas itu saya nangis gelinding-gelinding di kasur, tapi sekarang bisa ditertawakan. Tapi ada hal-hal yang terlalu dekat untuk dibikin bercanda, sehingga orang-orang kita tidak bisa menerima, misalkan tragedi tsunami. Sebenarnya sudah agak terlalu jauh, tapi sampai hari ini saya masih sulit untuk mengolah kejadian itu menjadi lucu. Mungkin ada orang lain yang bisa. Saya ingat kejadian seorang teman saya yang bikin joke tentang tragedi tsunami. Ternyata ada orang yang duduk di situ yang keluarganya hilang semua gara-gara tragedi itu. Jadi, ini hal yang rumit. Untuk saya sendiri, di tur ini kebetulan prosesnya lama dan masih berjalan. Materi-materi pertama untuk tur ini sudah saya latih dari bulan Juni. Tadi malam saja saya baru kelar latihan. Karena walau menurut kita lucu ketika ditulis, tapi tidak tahu penonton bakal bilang lucu atau nggak. Jadi mesti dicoba.

Dicoba di depan kaca?

Advertisement

Tidak, di depan orang, ya open mic. Semalam saya mencoba materi baru, dan ada joke yang kena dan ada juga yang tidak. Kita bisa evaluasi dari situ. “Ini nggak kena karena apa ya? Karena nggak lucu atau salah analogi, atau salah pilih kata?” Jadi prosesnya panjang. Tapi tujuannya adalah semua yang kita bawa sudah dites dan sudah terbukti lucu. Supaya orang yang bayar tidak kesal.

Karena stand up comedy adalah kesenian panggung, jadi harus dipanggungkan. Menari juga butuh latihan dulu, tapi bedanya, menari tidak butuh reaksi dari penonton. Sehingga latihan sendiri pun bisa. Tapi kalau stand up comedy, reaksi penonton menjadi penting. Kita mesti tahu apakah yang kita bawakan lucu atau tidak. Makanya dilatihnya dibawakan di depan orang.

Ada trik untuk memilih topik yang tepat?

Kalau saya sih tidak, tapi kalau yang lain biasanya memang pilih-pilih. Orang-orang suka bilang kalau bedanya saya dengan komedian yang lain adalah biasanya yang lain mencari sesuatu yang lucu untuk dibahas. Sementara materi saya sama sekali tidak ada lucu-lucunya, tapi dibikin jadi lucu. Nah, itu sebenarnya karena keinginan saya saja. Pembantaian PKI, radikalisme, atau penyebaran islam saya bawakan karena hal-hal itu perlu diketahui, dan orang-orang tidak mau tahu kalau tidak lewat lawak. Mereka tidak mau dikasih film dokumenter atau buku, sementara salah juga kalau tidak tahu. Maka kita kasih lewat komedi. Memang jadi lebih susah untuk bikin sesuatu yang tidak lucu menjadi lucu. Untuk tur Juru Bicara, saya datang ke kantor Kontras tuh, langsung mencari data dari semua departemen, mulai yang perempasan tanah, orang hilang, kasus Tanjung Priok, dan lain-lain. Datanya saya catat berdua dengan Mila (istri), lalu dicari lucunya di mana.

Apakah ada pihak yang ribet ketika diminta data-data itu?

Tidak, karena mereka justru ingin datanya disebar. Seperti ketika saya bertemu dengan organisasi yang isinya dosen, rektor, mahasiswa, dan alumni untuk bicara Tragedi Trisakti. Justru mereka ingin ini keluar. Mereka bilang, “Bang, ini tuh isunya udah nggak seksi lagi. Tolong deh dibikin biar diliput lagi “.

Kalau suatu ketika ada data yang sulit didapat, apa yang bakal dilakukan?

Sekarang ini terjadi, misalnya saya ingin membahas tragedi pemboman di Surabaya kemarin atau olah materi tentang radikalisme. Saya punya teori kalau selama ini kita menangani radikalisme dan terorisme dengan cara yang salah. Tapi untuk memastikan teori ini, saya harus ngobrol dulu dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris). Sebenarnya mereka terbuka, cuma sekarang ini sedang ribet-ribetnya karena kejadian-kejadian kemarin menjelang Asian Games. Sementara saya juga sebentar lagi sudah harus jalan, sehingga datanya nanti berdasarkan obrolan-obrolan dulu. Saya dan BNPT memang aslinya sering ngobrol dan mereka bersikap santai dengan saya. Datanya jadi kurang banyak saja sih. Sebenarnya ada satu cara pandang di stand up bahwa the truth is funny. Cuma kita harus banyak menggali untuk menemukan lucunya di mana.

stand up comedy dari pandji

Ada tips untuk mereka yang ingin jadi stand up comedian?

Hmm.. Stand up itu datangnya dari dua hal, yaitu pengalaman dan pengamatan. Paling gampang dari pengalaman hidup. Misalnya, audiens Hipwee umurnya kebanyakan 20 tahun. sementara biasanya yang kita ingat dari usia paling kecil adalah saat umur lima tahun. Jadi, kita punya 15 tahun pengalaman lucu dari situ. Dicari saja. Pikirkan tragedinya apa, lalu tulis kata per kata. Yang harus diingat selanjutnya adalah komedi selalu punya target. Jadi saat lagi menulis materi, harus dipikirkan ini joke-nya untuk siapa. Penonton harus mengerti siapa yang ditertawakan. Saya, mereka, atau orang lain? Yang terakhir, biar kita tidak bertele-tele, minimal ada tiga kali ketawa dalam satu menit. Setelah materi sudah ditulis, kita hitung sendiri ada berapa bagian yang bikin kita ketawa. Intinya, 1) ambil pengalaman hidup, 2) cari lucunya, 3) tentukan target dari joke-nya, dan 4) pastikan seefisien mungkin. Semua yang tidak berhubungan dengan joke-nya dibuang saja. Saat saya jadi juri audisi, banyak orang suka sekali bilang,  “selamat sore Bang Pandji, saya nge-fans banget sama blablabla “. Yah, tidak usah bertele-tele, atau ada yang bilang,  “tak kenal maka tak sayang… “ Alaaah [tertawa]. Banyak juga yang meracau. Harusnya ngomong ke mana, tahunya malah meleng. Misalnya nih, ada yang bawa materi, “saya ingin naik bus kota dari Blok M ke Bintaro, sebenarnya bus itu ada banyak, blablabla….. “ Nah, kebanyakan malah cerita tentang perjalanannya, tidak fokus dengan apa yang mau diomongkan.

Apa tips untuk menghindari topik yang kita anggap lucu tapi ternyata malah sensitif?

Saya adalah penganut “apapun bisa diceritakan selama kita bertanggung jawab dengan bercandaan kita”. Kalau kita menolak untuk bertanggung jawab atau menghindarinya, kita akan dikejar untuk diminta pertanggungjawaban. Ada yang tidak setuju menjadikan SARA sebagai bahan bercandaan. Padahal menurut saya justru itu kekayaan kita. Berbeda-beda, terdiri dari banyak suku dan agama. Tidak membahas SARA berarti tidak membahas Indonesia.

Oke, misalnya kita tidak boleh bercanda dengan agama. Kemarin saat Soleh Solihun bikin tema tentang pengendara motor, eh ada asosiasi pengendara motor juga yang tersinggung. Lalu ada lagi teman saya yang bikin jokes tentang dokter:

“Bapak saya meninggal, lalu dokter bilang, ‘Yah, kita sudah berusaha semampu kita…’ Enak banget dokter ngomongnya gitu ya?  Nanti kalau saya ke bengkel, lalu montirnya bilang, ‘Saya sudah berusaha semampu saya, saya sudah berusaha sebaik mungkin … ‘ Pengen banget gue tempeleng!”

Para dokter ternyata tersinggung juga gara-gara joke itu. Nanti lama-lama semuanya tidak boleh dibahas karena setiap orang tersinggung akan hal-hal yang berbeda. Saya tidak bisa bikin orang tersinggung, tapi orang yang menentukan dirinya tersinggung atau tidak.

Saya pernah makan siang di rumah teman saya, lalu saya memberikan piring ke ibunya pakai tangan kiri. Saya bilang, “Ini Tante, sorry pakai tangan kiri,“ lalu dia bilang, “Kenapa sorry? Memang kenapa tangan kiri?“. Saya jawab,  “Tangan kiri kan nggak sopan, Tante “. Ternyata, dia menyahut lagi, “Eh, tante ini kidal lho, pakai tangan kiri. Jadi kamu pikir tante ini nggak sopan seumur hidup?“ Ya Allah. Artinya, kita berniat sopan saja masih ada yang tersinggung, jadi kenapa masih memikirkan bahan-bahan yang tidak bisa dibahas? Menurut saya, kita tak perlu membatasi, yang penting niatnya tidak menghindar dan siap mempertanggungjawabkan. Tidak ada joke yang tidak bisa dipakai, sekasar-kasarnya sekalipun.

Apakah perlu izin dulu kalau akan membuat orangtua sebagai materi jokes?

Semua tergantung seberapa kita kenal dengan orangtua kita dan bagaimana hubungan kita dengan mereka. Kalau saya sih oke-oke saja membicarakan mereka. Tapi jangan dibahas jika orangtuanya sendiri sensitif. Batasan dalam stand up comedy sebenarnya adalah tidak boleh menertawakan fisik orang lain yang tidak bisa dia ubah, misalnya buta—tapi nanti saya bahas orang buta sih [tertawa]. Kalau mau ngomongin agama tuh ngomongin agama lu sendiri—ini bisa jadi autokritik–jangan agama orang lain karena lu tidak lebih tahu dari mereka.

Masih ada lanjutannya lho, klik Halaman Selanjutnya yak

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya