Soal gaya hidup saat ini, agaknya semakin beragam saja. Berkat munculnya tren media sosial (medsos) yang kian marak, membuat masyarakat sangat memperhatikan penampilan dan kebiasaannya. Contoh gampangnya barang-barang yang dipakai, sebisa mungkin ‘bermerek‘. Yah, syukur-syukur kalau bisa menggunakan barang dari merek asing yang harganya di luar nalar kita yang cuma remah-remah rengginang ini. 🙁

Nggak salah memang kalau beli barang impor, terutama jika memang mampu membelinya. Toh, pada dasarnya itu merupakan hak tiap orang. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita menggunakan barang luar hanya karena sekadar gengsi. Kecintaan terhadap produk lokal masih minim. Berikut ini tujuh alasan kenapa orang Indonesia gengsi pakai barang lokal.

1. Stereotip masyarakat yang masih percaya kalau negara luar lebih unggul dibanding negeri sendiri. Mau sekeren apa pun produk lokal, tetap kalah bagus dengan produk luar di mata masyarakat

dan bule dianggap selalu lebih cakep dibanding warga lokal via www.miss.at

Advertisement

Pola pikir masyarakat tentang negara luar yang selalu lebih unggul dibanding negeri sendiri masih berlaku. Entah kenapa, stereotip yang membuat Tanah Air menjadi lebih rendah di mata warga sendiri sulit sekali diubah. Padahal, Indonesia kerap melakukan perbaikan dan berbagai terobosan baru hingga diakui dunia internasional. Sayangnya, hal itu tetap nggak menghilangkan pandangan masyarakat tentang Indonesia yang nggak lebih unggul dari negara lain.

2. Harga barang impor yang tentu lebih mahal membuat orang Indonesia merasa keren kalau mampu beli. Maklum, kesuksesan kadang dinilai dari hal semacam ini~

sukses dinilai dari barang mahal via www.marketwatch.com

Ngumpul-ngumpul bareng teman biasanya yang dibicarakan nggak jauh dari menilai kadar kesuksesan satu sama lain lewat gaya hidup. Apa yang melekat pada tubuh dan kebiasaan sehari-hari menjadi tolok ukur sukses-tidaknya seseorang. Dengan harga barang impor yang rata-rata lebih mahal daripada produk lokal, membuat orang Indonesia memilih untuk menghabiskan uang guna membeli barang luar. Maklum, siapa sih yang nggak senang dibilang keren dan sukses kalau memakai produk-produk mahal dari luar?

3. Munculnya hasrat pengen bergaya ala seleb Hollywood ternama. Makanya, barang apa pun dibeli biar kayak mereka~

pengen kayak seleb ternama via www.chinadaily.com.cn

Melihat betapa kerennya penampilan dan kebiasaan makan di restoran kece ala seleb Hollywood, bikin para fans pengen kayak mereka. Makanya, nggak heran kalau muncul keinginan dari dalam diri untuk membeli barang-barang seperti yang dipakai para seleb ternama dunia. Begitu pun nongkrong di tempat kece yang harga minuman dan makanannya sukses bikin isi dompet cepat tipis. Semua ini dilakukan demi menjalani hari mirip idola.

4. Dari segi pelayanan, merek luar nggak segan memberikan service terbaiknya. Sementara merek lokal kadang nggak mencantumkan customer care atau kartu garansi

ada kartu garansi via www.premiere.fr

Advertisement

Beli produk dari luar biasanya disertai pelayanan terbaik untuk pelanggan. Nggak sekadar staf yang ramah, tapi service bagi konsumen pun demikian. Semisal tertera customer care yang bisa dihubungi ketika ada keluhan maupun kartu garansi jika produknya cacat atau rusak. Sedangkan produk lokal masih jarang yang begitu, sehingga masyarakat masih jarang membelinya.

5. Produk lokal yang dipasarkan banyak kualitas 2, sedangkan barang kualitas 1 malah dijual ke luar negeri. Ini yang membuat masyarakat kapok beli barang asli negara sendiri

barang kualitas 2 via www.consumercomplaints.in

Hal lainnya yang menyebabkan masyarakat Indonesia nggak senang dengan produk lokal yaitu banyak kualitas 2 yang dipasarkan. Sementara itu, produk lokal dengan kualitas unggulan malah untuk diimpor. Makanya, masyarakat Indonesia kapok beli barang asli negara sendiri. Daripada cepat rusak, mendingan beli yang mahal karena sudah terjamin.

6. Desain produk lokal yang kerap mengikuti barang luar. Daripada pakai produk yang menyontek, lebih baik gunakan barang yang menjadi asal mula desainnya. Begitu kata masyarakat

banyak yang mereplika desainnya via worth-seeing.com

Mungkin, karena barang impor lebih dikenal di dunia, maka desain mereka banyak disontek produsen lokal. Yang begini membuat masyarakat gengsi menggunakan produk yang menyontek desain. Ujung-ujungnya, masyarakat memilih  barang yang menjadi asal mula desain itu. Kalau kamu pilih yang mana?

7. Ya, pada dasarnya kecintaan masyarakat Indonesia masih kurang terhadap produk lokal. Meski banyak barang lokal dengan kualitas 1 dipasarkan dan pelayanannya bagus, tetap sulit mengubah stereotip ini

gengsi pakai produk lokal via www.hollywoodreporter.com

Intinya adalah kecintaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan barang-barang lokal masih kurang. Kesadaran ini perlu ditingkatkan dengan campur tangan berbagai pihak. Apalagi sekarang sudah banyak barang lokal dengan kualitas 1 dengan strategi pemasaran yang oke. Jadi, sayang sekali kalau nggak dimanfaatkan dengan maksimal.

Kesadaran masyarakat untuk memakai produk lokal memang masih minim. Belum ada kecintaan yang sangat terlihat untuk gunakan produk lokal. Tapi balik lagi, selama mereka mampu dan sesuai dengan selera, ya, nggak masalah juga. Toh, setiap orang pasti punya selera yang berbeda. Nah, kalau kamu sendiri lebih suka memakai produk dari mana?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya