“Collabonation Road to Unity” Diluncurkan, Suguhkan Perjalanan Lintas Kota untuk Kolaborasi Lintas Generasi Para Seniman dan Musisi

Collabonation Road to Unity

Persatuan dan semangat saling bantu adalah modal utama bangsa Indonesia. Kondisi pandemi saat ini menegaskan lagi kalau hal tersebut nggak akan luntur. Terbukti, ada banyak kisah tentang warga bantu warga yang kita dengar selama masa pandemi ini. Para seniman dan musisi yang ikut terdampak pekerjaannya pun bisa kita lihat bersiasat membantu lingkungan terdekatnya.

Advertisement

Semangat persatuan inilah yang menginspirasi Indosat Ooredoo meluncurkan Collabonation Road to Unity, sebuah seri dokumenter yang merekam perjalanan lintas kota para musisi Collabonation, untuk bertemu musisi dan seniman senior yang diketahui menjalankan sejumlah inisiatif agar dapat tetap berkarya sekaligus membantu komunitas sekitarnya.

Seri dokumenter yang mengulik kisah seniman dan musisi dalam berkarya sekaligus saling bantu di masa pandemi

Ki-Ka: Heru Wahyono (Shaggydog), Fahroni Arifin, Iga Massardi, Sal Priadi dan Kunto Aji dalam konferensi pers peluncuran Collabonation Road to Unity | dok. Indosat Ooredoo

Dengan tema “Bersatu untuk Bangkit”, SVP Head of Brand Management & Strategy Indosat Ooredoo, Fahroni Arifin mengatakan, karya terbaru Collabonation ini dibuat dengan harapan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia untuk bersatu dan berkolaborasi. Menurutnya, hanya dengan itu kebangkitan dari masa sulit bisa diraih.

“Kami mencoba memahami apa yang dirasakan orang banyak, dan yang paling penting sekarang adalah kebangkitan. Kita harus bangkit dari keterpurukan bersama-sama, dan di sini peran Collabonation adalah mempersatukan lintas generasi terutama di dunia seni dan musik,” kata Roni dalam konferensi pers virtual peluncuran Collabonation Road to Unity.

Advertisement

Ia melanjutkan, dalam Collabonation Road to Unity ini para musisi Collabonation yang terdiri dari Iga Massardi, Sal Priadi, Kunto Aji, Asteriska, Rendy Pandugo, dan Petra Sihombing melakukan perjalanan untuk mengunjungi musisi dan seniman di empat kota, meliputi Solo, Bali, Yogyakarta, dan Bandung.

Adapun seniman dan musisi yang dikunjungi yaitu Navicula di Bali, Shaggydog di Yogyakarta, Mocca di Bandung, Barata Seno dan Gondrong Gunarto di Solo. Para musisi Collabonation mengunjungi nama-nama tersebut untuk mengulik bagaimana mereka menjalankan berbagai inisiatif dalam rangka membantu komunitasnya.

Advertisement

“Kami ngobrol dengan musisi dan seniman bukan hanya soal karya, tetapi bagaimana mereka berperan sebagai unit sosial yang berguna bagi sekitarnya,” ujar Iga Massardi mewakili musisi Collabonation.

Selain merekam kisah para musisi dan seniman, seri dokumenter ini juga akan menghadirkan penampilan kolaborasi yang spesial. Dengan memadukan latar belakang musik dan seni, para musisi Collabonation akan berkolaborasi di atas panggung bersama para musisi dan seniman senior untuk sebuah sajian yang merepresentasikan keunikan cerita dari masing-masing kota.

Kisah inspiratif para seniman dan musisi diharapkan dapat menginspirasi penonton

Ki-ka (bawah): Riko Prayitno (Mocca) dan Dadang Pranoto (Navicula) | dok. Tangkapan layar/Zoom

Seperti telah disinggung, para musisi dan seniman yang direkam seri dokumenter ini diketahui menjalankan sejumlah inisiatif untuk dapat tetap produktif sekaligus membantu komunitasnya. Band Mocca, misalnya, di masa pandemi ini menjaga produktivitas dengan terus merilis karya-karya anyar untuk dapat mendukung penjualan merchandise dari dan untuk kru panggung mereka.

Sementara Shaggydog diketahui sempat menggencarkan donasi sembako untuk warga, dan menjalankan inisiatif bertajuk “Sound of Crew” untuk membantu kru panggung. Vokalis Shaggydog Heru Wahyono mengatakan inisiatif tersebut berupa gelaran pertunjukan virtual di mana para kru yang tampil membawakan lagu-lagu Shaggydog.

“Kami juga sempat mengumpulkan donasi untuk bagi-bagi sembako kepada warga. (Selain itu) kami juga kolaborasi dengan beberapa seniman Yogyakarta, dan bikin merch yang sebagian besar hasilnya kami sumbangkan kepada warga,” kata Heru.

Mirip dengan Mocca dan Shaggydog, Navicula di Bali juga memulai inisiatifnya untuk membantu lingkup terdekat yakni kru, lalu menjalar ke masyarakat Bali pada umumnya. Gitaris Navicula Dadang Pranoto mengatakan untuk teman-teman kru, Navicula sempat menggelar donasi untuk disalurkan dalam bentuk sembako.

“Setelah itu bertahap, sampai akhirnya kita dapat membantu tim medis dalam mengumpulkan dana untuk penyaluran alat pelindung diri, dan merambat untuk penyediaan hand sanitizer di Bali,” kata Dadang.

Beragam kisah inspiratif saling bantu dari para musisi dan seniman ini lah yang diharapkan dapat menginspirasi penonton Collabonation Road To Unity. Roni menambahkan, seri dokumenter ini memiliki tujuan yang lebih besar dari musik dan kesenian, karena yang disuarakan adalah optimisme dan semangat untuk menjalani hidup yang berguna bagi sekitar.

“Collabonation Road To Unity dan seluruh rangkaian kampanye Bersatu untuk Merdeka diharapkan dapat menginspirasi serta mendorong para penontonnya, juga seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap bersatu, berkolaborasi, dan terus berkarya apapun keadaannya,” pungkas Roni.

Collabonation Road To Unity menjadi penutup rangkaian campaign kemerdekaan IM3 Ooredoo yang diluncurkan bulan Agustus lalu. Campaign tersebut sebelumnya telah merilis video “Satu Satu – Bersatu Untuk Merdeka” kolaborasi Iwan Fals dengan Hindia, Rendy Pandugo dan Petra Sihombing serta Collabonation Konser Kemerdekaan “Bersatu untuk Merdeka”.

Seri dokumenter Collabonation Road To Unity terdiri atas empat episode, dan akan ditayangkan secara bertahap di kanal YouTube IM3 Ooredoo. Episode pertama akan ditayangkan secara premiere pada tanggal 24 September 2021 pukul 20.00 WIB dengan cerita tentang perjalanan para musisi Collabonation ke kota Solo.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE