Ada pepatah yang bilang bahwa nggak ada yang namanya cewek matre, yang ada cowok yang nggak bisa memenuhi kebutuhan si cewek. Begitulah kata sebagian besar cewek dan beberapa cowok. Ah, rasanya ini cuma masalah sudut pandang. Ataukah ini hanya sebatas mitos yang selalu diperdebatkan oleh dua makhluk keturunan Adam dan Hawa aja?

Mengenai mitos, ternyata ada beberapa dongeng yang sering kita dengar dan cukup dekat dengan kehidupan kita, yang menyatakan dengan tegas bahwa semua cewek itu emang matre. Percaya nggak percaya, dongeng-dongeng ini secara tersirat menggambarkan hal seperti itu, meski dibungkus dengan kisah cinta yang cukup rumit. Berikut ini bahasan receh tentang beberapa dongeng yang ternyata “mengajari” para anak-anak cewek untuk jadi orang yang matre. Yuk disimak pembahasannya!

Beauty and The Beast, kisah cewek cantik yang bersedia menikah dengan si buruk rupa. Ingat, dia pangeran kerajaan loh!

Cinta? via www.bing.com

Beauty and The Beast mungkin adalah salah satu contoh kisah yang menyiratkan kalau cewek itu memang punya sisi matre. Dongeng yang berasal dari Perancis ini tentu udah akrab dengan masa kanak-kanakmu, ‘kan? Apa yang kamu dapatkan dari kisah si Buruk Rupa (Beast) ini? Kisah cinta sejati? Memang kisah ini menggambarkan kisah cinta yang tulus, tapi saat tokoh utamanya adalah seorang pangeran ganteng kaya raya, maka hal ini bisa dilihat sebagai salah satu wujud “pendidikan” tentang lelaki kaya dan tampan.

Pertanyaannya adalah kenapa dia harus pangeran? Apakah tidak bisa dia adalah seorang penjual hasil bumi atau dia adalah seorang tukang kayu. Tentu saja pertanyaan ini konyol, orang harus mempertanyakan ini. Anda saja si Beast adalah seorang penggembala kambing, meskipun aslinya seganteng itu, apakah ceweknya bakalan mau?

Ini bukti betapa matrenya seorang cewek. Roro Jonggrang meminta seribu candi sebagai bukti cinta!

Advertisement

Seribu candi loh! via sarangpenyamun.wordpress.com

Kalau dongeng satu ini pasti nggak asing lagi buat kamu. Kisah berdirinya Candi Sewu dan Candi Prambanan di Jawa Tengah ini menjadi legenda cinta yang sengit bagi masyarakat Indonesia. Kamu pasti tahu bagaimana cerita ini bermula. Adalah Ratu Roro Jonggrang, putri cantik dari Prabu Baka yang tewas dalam peperangan melawan Bandung Bondowoso akibat serangan kerajaan Baka pada kerajaan Pengging. Pertempuran itu menakdirkan pertemuan Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang. Saat itulah ia langsung jatuh cinta pada putri bungsu Prabu Baka.

Singkat cerita, Roro Jonggrang meminta Bandung Bondowoso untuk membuat sumur dan seribu candi dalam semalam, kalau pengen menikahinya. Dan langsung disanggupi dengan senang hati. Cerita berakhir di sini. Dari sini kamu dapat menyimpulkan bagaimana matrenya Roro Jonggrang. Untuk mendapatkan cintanya aja Bandung Bondowoso harus bikin seribu candi, dalam semalam! Kebayang nggak tuh, kalau saat ini kamu disuruh bikin candi sama gebetanmu? Nggak kira-kira itu sih. 🙁

Seorang cewek yang mengusahakan segala cara untuk mencuri perhatian anak orang kaya dalam balutan kisah cinta Cinderella. Huft!

Dari yang bukan siapa-siapa menjadi yang dicari-cari. :(((( via ru.disney.wikia.com

Kalau kisah Cinderella ini jelas sebuah bentuk nyata kasus kematrean cewek. Kita tahu, Cinderella ini bukanlah dari kalangan kelas atas seperti sang Pangeran. Tapi karena dia tahu yang mengundang ke acara pesta dansa ini si Pangeran, dia mengusahakan untuk bisa datang. Padahal dia nggak punya apa-apa; gaun nggak punya, sepatu nggak ada, alat make-up aja nggak paham. Malah dengan kekuatan magis, dia dapat berubah wujud menjadi putri cantik nan jelita.

Tapi bukan itu masalahnya. Karena dia tahu si cowok yang dia suka ini anak orang kaya (pangeran), maka dia mengupayakan segala usaha untuk mendapatkan perhatian sang pangeran. Selain itu, tokoh cewek lain selain Cinderella juga sangat terlihat “mupeng” banget sama cowok ini. Kenapa mereka “mupeng”? Ya karena si cowok ini adalah orang kaya. Coba saja kalau si cowok bukan pangeran, ya males juga kali repot-repot dandan buat ke pesta.

Tiga kisah diatas adalah adalah contoh pendidikan kematrean di usia dini. Pembahasan diatas memang sangat receh sih dan tentu saja sangat tidak bisa dibandingkan dengan kajian sastra level master (jadi jangan dinilai dengan kacamata itu). Namun, satu hal yang jelas, ketiga laki-laki di tiga cerita itu adalah laki-laki sempurna yang kaya raya. Itu yang, mungkin saja, membuat banyak cewek memimpikan laki-laki kaya. Dari kecil, mereka sudah diajari bahwa cowok yang pantas diperjuangkan adalah yang kaya raya. Apa nggak sedih kalau kaya gitu? Gimana kalau menurut kalian?