Cowok dan cewek memang dikodratkan selalu beda, dalam segala hal, dalam segala bidang. Termasuk juga salah satunya adalah budaya yang telah mengakar turun temurun dari kakek-nenek moyang. Kali ini kita akan fokus pada budaya cowok aja, yang mana selalu timbul sebuah tanya dari berbagai sudut pandang; apakah dari budaya itu cowok selalu setuju untuk melakukannya? Atau karena mereka anak cowok, tertua, satu-satunya anak cowok, atau bagaimana? Satu hal, nggak semua cowok setuju dengan semua budaya yang ada.

Selama ini cowok dianggap tangguh dan hal-hal inilah yang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang cowok. Tapi, apakah benar hal ini nyaman bagi kehidupan cowok? Apakah tidak boleh cowok tidak melakukan hal-hal yang dianggap sudah kodratnya oleh masyarakat? Yuk kita simak sedikit pemikiran yang sudah dirangkum oleh Hipwee boys!

Entah bagaimana sejarahnya, anak cowok tertua diharuskan merantau atau jauh dari rumah. Budaya yang konon mengajarkan kita sebuah pendewasaan

“Gapailah cita-citamu, Nak, sejauh dan setinggi apapun itu!” via www.facebook.com

Bukan bermaksud mendeskreditkan atau berbicara mengenai SARA, tapi kebanyakan anak cowok, apalagi anak tertua, selalu diminta untuk merantau. Entah dari suku manapun dia berasal. Apalagi kalau dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja; dari tingkat pendidikan hingga ekonominya. Budaya merantau ini dipercaya dapat meningkatkan kualitas dan derajat kehidupan keluarga. Selain itu, (orang tua) mereka percaya, kegiatan merantau ini bisa menjadi tahap pendewasaan yang baik bagi anak cowok mereka.

Ya, begitulah budaya yang ada. Tapi, apakah kamu yakin, semua anak cowok sependapat dengan hal itu? Ada juga loh, anak cowok yang nggak pengen jauh dari keluarganya. Sekeras apapun budaya merantau ini ditradisikan, kalau emang dasarnya dia nggak mau, bagaimana? Eksploitasi dong jadinya? Sejatinya ada banyak cara untuk meningkatkan taraf hidup dan derajat keluarga tanpa pergi jauh. Dan lagi, kenapa harus anak pertama yang pergi, kenapa nggak anak kedua atu bahkan ketiga?

Setelah menikah, anak cowok diharapkan bisa kembali atau memboyong orangtuanya ke rumahnya yang baru. Ibu adalah tanggung jawab anak cowok!

Advertisement

Mungkin budaya yang satu ini masih berterima bagi siapapun. Anak cowok yang disuruh merantau atau seenggaknya jauh dari rumah dan telah menikah di tanah rantau, diharapkan bisa kembali pada keluarganya. Paling nggak, dia harus membawa serta kedua orangtuanya ke dalam keluarga barunya.

Tentu anak cowok manapun setuju dengan hal satu ini, ‘kan? Ya, mungkin masih ada beberapa dari cowok yang kurang berterima dengan budaya ini. Tapi, kalau udah menyangkut ibu, anak mana yang bisa mengabaikannya begitu saja? Namun, di sisi lain, pernikahan sekarang dan 30 tahun lalu tentu saja jauh berbeda. Pertanyaannya adalah apakah saat ibu dibawa satu rumah dengan menantu tidak akan menimbulkan masalah? Pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan logis yang kadang diartikan sebagai sebuah tindakan durhaka oleh masyarakat. Padahal, apa salahnya bertanya demi kemaslahatan banya orang?!

Cowok sadar, menjadi tulang punggung keluarga itu wajib. Tapi kadang budaya ini malah menjadi beban tersendiri bagi cowok

Kerja keras bagai kuda! via www.netdoctor.co.uk

Berawal dari budaya merantau, menjadi tulang punggung keluarga juga bisa menjadi perdebatan sendiri bagi cowok. Kami para cowok juga sadar, bahwa menjadi tulang punggung itu suatu kewajiban bagi anak cowok. Apalagi kelak kami yang akan menjadi kepala keluarga. Budaya ini nggak salah. Sama sekali nggak salah. Bahkan, cowok manapun harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Selain itu, kami juga paham, kalau nggak dipaksa belajar untuk menjadi tulang punggung dari sekarang, mau kapan? Tapi, bukan berarti budaya ini memaksa cowok untuk sesegera mungkin menjadi apa yang mereka inginkan, ‘kan? Justru, hal ini bisa menjadi beban moral dan batin bagi cowok. Bagaimana menurutmu?

Jika memang zaman ini adalah era kesetaraan, seharusnya budaya atau dogma ini sudah hilang. Bukannya cowok tidak mau menjadi tulang punggung keluarga lagi, cuman, bukankan akan lebih ringan jika sebuah tubuh memiliki dua buah tulang punggung? Partisipasi cewek akan sangat membantu dalam hal ini, jangan cowok terus yang diforsir.

Mengenai keluarga, anak cowok tertua diharapkan mampu menjaga keluarganya. Entah dari segi fisik, finansial, hingga nama baik keluarga

Menjaganya tetap hangat. via vteen.com.vn

Menjadi anak cowok, apalagi anak tertua memang sulit. Sebab, ada satu budaya yang benar-benar harus mereka jaga dan laksanakan dengan baik. Adalah menjaga keluarganya. Budaya ini nggak cuma masalah menjaga nama baik keluarga, tapi mengenai banyak hal. Seperti misalnya dari segi fisik, batin, finansial, dan sebagainya. Anak cowok manapun pasti nggak keberatan dengan hal ini. Tapi, alangkah baiknya kalau ini bukan menjadi budaya yang harusnya diberikan kepada anak cowok tertua semata. Bukankah sebuah keluarga adalah tanggung jawab setiap anggota keluarga?

Ya, itulah susahnya menjadi anak cowok, apalagi anak tertua. Bukannya kami menentang untuk melakukan beberapa hal di atas. Tapi kembali lagi, nggak semua anak cowok satu suara dengan budaya ini.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!