Pesan dari teman lama masuk ke HP, tapi rasanya sudah capek banget buat balas gara-gara urusan kerjaan seharian. Ujung-ujungnya, balasan baru dikirim tiga hari kemudian. Itu pun cuma kirim stiker atau gif lucu karena bingung mau ketik apa.
Anehnya, teman kamu sama sekali nggak marah atau menuduh lupa sama kawan lama. Pas nanti ada waktu buat ketemu langsung, suasananya tetap seru dan akrab, persis kayak waktu masih sering nongkrong bareng dulu.
Kondisi saling paham tanpa ada beban wajib tukar kabar tiap hari inilah yang disebut low maintenance friendship. Model pertemanan hemat energi yang makin pas pas masuk usia dewasa.
Sebenarnya, Apa Sih Low Maintenance Friendship Itu?

Gaya pertemanan hemat energi di kalangan orang dewasa | Foto via pinterest @rin
Low maintenance friendship adalah bentuk pertemanan yang tetap akrab dan saling mendukung tanpa menuntut komunikasi rutin atau sering ketemu langsung. Hubungan ini berdiri di atas rasa percaya dan saling paham, jadi jarak atau jarang kirim pesan nggak bakal merusak ikatan yang sudah ada.
Singkatnya, ini tipe pertemanan yang nggak menuntut kamu buat update kabar tiap hari. Nggak ada aturan wajib selalu aktif di group chat, nggak perlu saling sapa tiap pagi, dan nggak ada yang bakal baper kalau pesan baru dibalas besoknya.
Fondasi utamanya murni rasa percaya dan paham kondisi masing-masing. Kalian sama-sama sadar kalau fokus dan urusan hidup sudah beda, jadi nggak ada beban buat menjaga interaksi tetap nyala tiap jam.
Bedanya Pertemanan Hemat Energi dan Pertemanan yang Makin Asing

Low maintenance friendship bukan berarti menjauh | Foto via pinterest @!! @ICY STÜDIO
Sayangnya, sering ada salah paham yang menyamakan low maintenance friendship dengan pertemanan yang pelan-pelan menjauh. Padahal, kalau dibedah dari sisi emosionalnya, dua hal ini punya arah yang berlawanan, lho.
Pertemanan yang pelan-pelan menjauh biasanya ditandai dengan hilangnya rasa aman untuk bersikap terbuka. Saat ada masalah atau kabar bahagia, orang tersebut bukan lagi jadi sosok pertama yang terlintas di pikiran kamu. Ada perasaan enggan untuk bercerita karena khawatir respons yang diterima bakal dingin atau sekadar formalitas.
Sementara dalam pertemanan hemat energi, yang hilang cuma frekuensi komunikasinya, bukan rasa percaya dan kepeduliannya. Kamu nggak perlu terus-terusan mengabari cuma buat membuktikan kalau kamu masih peduli. Pas salah satu lagi butuh dukungan atau tempat cerita, pintu komunikasinya selalu terbuka lebar tanpa ada benteng canggung atau tuntutan “kemakluman” yang dibuat-buat.
Kenapa Pertemanan Ini Cocok Buat Realita Anak Muda Indonesia?

Tipe pertemanan yang relate di Indonesia | Foto via pinterest @geniireads
Masuk usia 20-an di Indonesia itu tantangannya riil banget nggak sih? Mulai dari menembus macetnya jalanan tiap pulang kerja, tuntutan karier yang bikin kepala mau pecah, sampai mikirin harus bisa work life balance meski ternyata sulit. Di penghujung hari, energi sosial rasanya sudah minus cuma buat bertahan hidup.
Nah, budaya kita kan sering banget mengikat pertemanan sama rasa sungkan. Nggak enak kalau nggak balas pesan cepat-cepat, takut dibilang lupa kawan lama kalau jarang ikut kumpul atau canggung sendiri kalau cuma mau menyapa tanpa alasan jelas. Beban social battery ini akhirnya bikin pertemanan di usia dewasa terasa memeras pikiran.
Di sinilah alasan kenapa punya teman jarang chat tapi dekat terasa menyelamatkan banget. Konsep ini ngasih kamu ruang napas di tengah gempuran kesibukan. Kamu nggak perlu pusing nyari alasan buat nolak ajakan kumpul pas dompet lagi tipis dan nggak perlu merasa bersalah kalau butuh waktu buat menyendiri.
Lagipula, wajar banget kalau pertemanan di usia dewasa makin sedikit. Ini bukan berarti kamu anti sosial atau makin sombong, tapi bentuk kompromi yang sehat sama realita hidup. Daripada pusing menjaga puluhan ikatan yang bikin lelah, mempertahankan beberapa pertemanan hemat energi justru bikin mental jauh lebih tenang.
Tetap Butuh Kompromi Supaya Nggak Saling Salah Paham

Ingat untuk tetap saling menghargai dalam pertemanan | Foto via pinterest @behance
Meskipun konsep low maintenance friendship ini bikin lega, bukan berarti cara ini bisa langsung diterapkan ke semua orang tanpa obrolan yang jelas. Kamu harus ingat bahwa tiap orang punya kondisi mental, kapasitas energi dan cara merasa nyaman dalam berteman yang beda-beda.
Ada teman yang memang merasa lebih tenang kalau sering disapa atau tukar kabar. Di sisi lain, ada juga yang lagi kewalahan sama urusan pribadinya sampai butuh waktu buat menyendiri dulu. Dua-duanya wajar dan nggak ada yang salah.
Makanya, kunci utamanya ada di keterbukaan. Kalau memang energi sosial kamu lagi drop atau butuh ruang buat diri sendiri, pamit atau kasih kabar singkat jauh lebih bikin tenang daripada tiba-tiba hilang tanpa jejak. Pertemanan yang awet ujung-ujungnya cuma butuh satu hal kok, yaitu sama-sama mau mengerti batas kemampuan masing-masing.
Mau kamu tipe orang yang nyaman dengan low maintenance friendship karena butuh menjaga energi sosial, atau tipe yang lebih senang rutin bertukar kabar biar merasa dekat, dua-duanya sama-sama valid.
Yang paling penting adalah kenyamanan dan kesepakatan bersama dengan orang-orang di dalam lingkaran kamu. Selama tidak ada pihak yang merasa diabaikan atau terbebani, cara apa pun yang kalian pilih untuk menjaga ikatan itu tetap bernilai.
Jadi, Mana Gaya Pertemanan yang Paling Cocok Buat Kamu?
Pada akhirnya, cara kamu menjaga pertemanan itu tergantung kesepakatan tak tertulis antara kamu dan kawanmu. Mau kamu tipe yang nyaman dengan pertemanan hemat energi atau lebih suka sering bertukar kabar, dua-duanya wajar dan sah-sah saja.
Nggak perlu merasa bersalah kalau belakangan ini kamu lagi kehabisan energi sosial dan butuh waktu buat menyendiri. Pertemanan yang sehat tidak akan roboh cuma gara-gara kamu jeda sebentar buat menata hidup. Teman yang benar-benar paham akan selalu ada dan menyambutmu hangat begitu kamu siap buat kembali cerita.
Selanjutnya kamu bisa baca artikel menarik lainnya seperti tanda-tanda situationship yang mungkin dialami cuma di Hipwee!