Sampai saat ini, kebanyakan orang Indonesia menganggap nista pengetahuan tentang seks. Jangankan pengetahuan, pendidikan tentang seks yang sudah seharusnya mesti dimasukkan dalam kurikulum bagi anak-anak pun masih jadi bahan perdebatan. Akan tetapi, satu hal yang pasti, anggapan nista terhadap hal-hal yang berbau seks takkan bisa mengubah fakta tentang adanya segelintir orang yang memiliki “keunikan” dalam masalah orientasi seksual.

Bagi kebanyakan orang, perbedaan orientasi seksual yang tak seperti pada umumnya bisa dengan mudah disebut penyakit. Wajar memang jika keadaan tersebut disebut penyakit lantaran beberapa “keunikan” ada yang sampai di luar nalar manusia. Nah bahasan yang bakal Hipwee Boys angkat kali ini adalah tentang fetish, anak dari parafilia (sebutan dari kumpulan kelainan seksual). Kira-kira apa saja alasan seseorang bisa mengidap fetish? Yuk langsung saja simak!

Sebelum membahas secara mendalam, kita kasih info-info mendasar tentang fetish

Cari tau yuk

Cari tau yuk via sobadsogood.com

Pada mulanya, dalam bahasa Indonesia pengistilahan fetis diambil dari kata fetisisme yang mengacu pada kepercayaan akan adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu. Makanya, jangan heran jika kamu mengartikannya secara harfiah, kamu dapat menemukan kata jimat sebagai artinya. Pokoknya mengacu pada segala aktivitas seseorang untuk menggunakan benda-benda sakti dalam ilmu gaib.

Namun seiring berjalannya waktu — dengan fakta makin banyak orang-orang yang mengagungkan ilmu pengetahuan ketimbang ilmu gaib — istilah fetisisme dijadikan sebagai kosakata yang mengacu pada masalah kelainan seksual pada seseorang. Selain punya ketertarikan pada salah satu bagian tubuh lawan seksualnya, pengidap fetisisme pun bahkan ada yang sampai tertarik pada benda mati.

Parah-parahnya, ada orang yang nggak bisa puas jika tak ada benda tersebut untuk membantu hasrat seksualnya. Sebab, orang dengan kelainan fetisisme dikenal punya fantasi sendiri terhadap hal-hal tersebut. Gairah seksual orang tersebut akan meninggi ketika dia menyentuh atau menggunakan benda-benda yang jadi fantasinya tersebut.

Lalu, apa yang dapat menyebabkan seseorang dapat memiliki fetish?

Ya nggak bisa dibilang "ada-ada aja"

Ya nggak bisa dibilang “ada-ada aja” via static.independent.co.uk

Macam fetis di dunia ini ada banyak. Penggunaan kata “sangat” pun wajar jika kamu tahu bahwa terdapat 549 macam fetis. Bahkan, hasil studi yang diterbitkan Journal of Sex Research mengungkapkan, satu dari tiga orang mengidap fetis. Dan sangat mungkin kamu yang membaca artikel ini memiliki fetis juga dalam kegiatan seksualmu.

Seorang pendidik dan psikolog dari Harvard University mengindikasi adanya pengaruh antara meluasnya dan mudahnya orang-orang dalam mengakses internet dengan bertambahnya jumlah pengidap fetis. “Munculnya Internet telah menjadi anugerah besar bagi pengidap fetis. Ini memberikan tempat bagi pengidap untuk mengekspresikan keinginan mereka, dan menemukan orang sejenis yang mungkin memiliki kepentingan yang sama,” kata Lehmiller kepada majalah Shape.

Dan tentang kenapa orang memiliki fetis, maka teori-teori yang diungkapkan Lehmiller di bawah ini dapat menjadi penjelas.

1. The Pain Theory

Sakitnya bikin seneng

Sakitnya bikin seneng via static.independent.co.uk

Pernah nggak sih kamu menemukan kelainan seksual yang bisa kita klasifikasi sebagai sesuatu yang kejam. Kita yang menganggap hubungan seksual sebagai sesuatu yang harus diagungkan dengan cara-cara yang lembut, pasti bakal dibuat kaget dengan orang yang punya fetis tersebut.

Namun Lehmiller mengatakan, nyeri saat berhubungan seks bukanlah hal yang buruk. Para peneliti bahkan menunjukan kesenangan dari rasa nyeri ternyata memancing zat kimia neurotransmitters dalam otak. Zat tersebut kemudian membuat koneksi antara sakit menjadi senang. Begitulah alasan mengapa banyak orang menikmati nyeri saat berhubungan seks. Ada sensasi yang tak dirasakan oleh orang yang cuma bisa melihatnya.

2. The Pavlovian theory

Semua karena kebiasaan!

Semua karena kebiasaan! via bonvoyagedoc.files.wordpress.com

Menurut Lehmiller, sebuah studi pada 1960 menunjukkan sekelompok cowok melukis cewek telanjang di samping gambar gambar sepatu. Mereka akhirnya menjadi terangsang dengan sepatu saja. Sebuah penelitian mengaitkan kasus tersebut dengan pengasosiasian seksual dengan benda-benda mati.

Otak dapat membentuk asosiasi seksual dengan benda-benda bahkan jika orang tersebut tidak ada keinginan sekalipun. Otak hanya akan mengulangi hal yang sudah pernah dia alami. Dan bisa jadi orang yang melukis tadi pernah punya pengalaman dengan sepatu. “Jadi jika kamu terkena sesuatu berulang kali selama waktu ketika sedang terangsang, otak kamu mungkin dapat menghubungkan objek dengan hasrat seksual,” kata Lehmiller.

3. The brain-overlap theory

Sarafnya ada di kaki

Sarafnya ada di kaki via images4.alphacoders.com

Masih berdasarkan penelitian, V.S. Ramachandran, Ph.D. dari University of California mengungkapkan, otaklah yang mengontrol organ seksual. Di sisi lain, ada bagian otak yang menampung masalah seksual berkaitan dengan saraf yang ada di kaki. Hal ini dapat menyebabkan aktivitas yang tumpang-tindih (brain-overlap) dan crosstalk antara bagian genital dan bagian otak yang berkaitan dengan saraf kaki. Jadi nggak heran kalau banyak cowok yang punya fetis pada kaki.

4. The gross-out theory

Hilang rasa jijik

Hilang rasa jijik via ocdn.eu

“Ketika Anda berada dalam keadaan tinggi dalam gairah seksual, tingkat kejijikanmu melemah,” kata Lehmiller.

Begitulah kenyataannya. Kamu bisa kehilangan rasa jijikmu ketika sedang tinggi. Hipwee Boys tampaknya tak perlu memberikan contoh konkretnya kalau bicara soal satu ini. Pokoknya, persepsi kamu tentang satu hal di dunia bisa jadi berubah tatkala kamu sedang berada di puncak-puncaknya. Dan jika persepsi tersebut berubah, hal tersebut bisa membuat kamu jadi tertarik di kemudian hari dan menjadikannya sebagai sumber baru dari rangsangan seksual tersebut.

Itulah sedikit penjelasan tentang fetis dan mengapa fetis bisa terjadi di beberapa orang. Menurut para peneliti sih, satu dari tiga orang punya fetis. Ya, sekecil atau seringan apa pun fetis itu, kamu tetap saja punya fetis. Ketertarikan terhadap satu bagian tubuh dari lawan jenismu, meskipun tak sedang berhubungan seksual, pun itu termasuk fetis lho. Jadi kira-kira, apa yang jadi fetismu? Hihihi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya