Cara Masyarakat Berlalu Lintas Adalah Cerminan Peradaban Sebuah Bangsa. Bagaimana dengan Indonesia?

Sebuah rekaman amatir pada Minggu (12/2) lalu cukup viral di jagat Instagram. Isinya, seorang bocah yang terlihat mengenakan seragam sekolah, membentak-bentak seorang pria paruh baya di pinggir jalan. Kejadian yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah itu menuai banyak kecaman dari netizen. Meski nggak diketahui secara pasti kejadiannya, pasalnya bocah berseragam itu membentak-bentak sang kakek, yang sepertinya bersedia untuk bertanggung jawab atas (mungkin kesalahannya).

Selain soal tata kerama sosial, kejadian ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi pengguna jalan di Indonesia yang dikenal memiliki kemampuan rendah. inilah yang akan Hipwee Boys ulas kali ini. Kebobrokan mental orang Indonesia yang nggak paham aturan lalu lintas, tapi tetap melaju kencang di jalanan. Yuk, langsung kita simak langsung aja pembahasannya!

ADVERTISEMENTS

Ini akibat dari begitu mudahnya untuk mendapatkan SIM. Bahkan tak jarang anak di bawah umur sudah punya SIM

Perlu dites beneran nih!

Perlu dites beneran nih! via mobilku.org

Memang benar, syarat untuk bisa berkendara di jalanan adalah dengan memiliki surat izin mengemudi (SIM), sesuai dengan kendaraan yang kita gunakan. Dari berbagai jenis SIM ini, SIM C-lah yang paling murah dan mudah untuk didapatkan. Bahkan, ketika umur belum mencukupi untuk membuat SIM, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk tetap mendapatkannya.

Selain itu, ujian yang diberikan pada calon pemilik SIM itu terlalu mudah. Bahkan, meski sudah ada ujiannya, tapi tetap aja ujian SIM ini nggak bisa merepresentasikan kemampuan seseorang dalam berkendara karena sistem ujiannya yang dianggap terlalu mudah dan hanya sebagai formalitas saja. Tinggal datang ke kantor Polisi, daftar, bayar, foto, jadi. Selesai. Harusnya, pembuatan SIM ini jangan dipermudah seperti itu. Harus lebih ketat dalam menyeleksi orang-orang yang pengen punya SIM. Kalau caranya semudah itu, semua orang yang nggak bisa mengendarai motor pun bisa memiliki SIM dong.

ADVERTISEMENTS

Akibatnya, jalanan jadi penuh dan berantakan karena nggak sedikit orang yang nggak paham soal berkendara

Yakin semua orang itu punya SIM?

Yakin semua orang itu punya SIM? via strategidanbisnis.com

Dampaknya sudah jelas. Ketika nggak sedikit orang yang memiliki atau bahkan nggak memiliki SIM bisa berkendara dengan enaknya di jalan raya. Tanpa memiliki kemampuan dan pemahaman apa-apa tentang berkendara dan lalu lintas, mereka menerobos jalanan yang macet dengan sesuka hati. Lampu lalu lintas belum hijau, mereka langsung tancap gas. Kena tilang karena kurangnya kelengkapan berkendara, mereka tinggal bayar ke pihak yang bersangkutan. Dalam hidup mereka, berkendara terlihat begitu indah. Alhasil, jalanan jadi penuh dan kacau.

ADVERTISEMENTS

Seolah-olah semua orang memiliki kesibukan yang paling tinggi di antara yang lain. Ngebut di jalanan sudah menjadi tontonan setiap hari

Semuanya ngebut!

Semuanya ngebut! via esctatica.deviantart.com

Jalanan kian panas ketika orang-orang nggak bertanggung jawab ini turut turun ke jalan. Hal ini masih menjadi akibat dari banyaknya orang yang nggak paham berkendara tapi memiliki SIM sebagai syaratnya. Mereka nggak punya tata kerama dalam lalu lintas. Dengan mengendarai motor, khususnya, mereka berasumsi akan bisa lebih cepat untuk mencapai tujuannya. Seolah-olah, mengendarai motor bisa menjadi solusi paling tepat untuk efektivitas waktu yang sangat berharga bagi mereka itu. Faktanya, banyak orang yang menjadi korban atas egoisme mereka itu. Seperti kasus di atas tersebut, orang lainlah yang akan menjadi korbannya.

ADVERTISEMENTS

Demi menanggulangi kecelakaan, lahirlah polisi tidur sebagai peringatan untuk berjalan pelan

Ini belum seberapa gede lho.

Ini belum seberapa gede lho. via cakfatah.wordpress.com

Urusan pengguna jalan yang kacau balau ini akhirnya memunculkan budaya baru. Yakni membuat polisi tidur untuk setiap jalanan dengan beberapa pertimbangan. Seperti jalanan yang terbelah oleh rel kereta api, jalanan di pasar, jalanan di gang-gang, dan sebagainya. Tujuannya satu, untuk mereduksi laju kendaraaan yang nggak kira-kira.

Padahal, kalau mau melihat dari kacamata yang lain, maraknya polisi tidur yang bisa kita temui di berbagai jalan itu menunjukkan bahwa peradaban kita ini masih jauh tertinggal dengan bangsa lain. Harusnya, tanpa perlu adanya polisi tidur, kita bisa lebih berhati-hati ketika melaju di jalanan, terlebih di gang kecil. Ini urusan kesadaran. Dan inilah yang nggak dimiliki oleh para pengendara yang nggak bertanggung jawab tadi itu. Untuk masalah sepele begini aja mereka nggak paham. Begitu purba, bukan?

Hasilnya adalah semakin banyak anak-anak yang tanpa pemahaman apapun soal jalan raya, berkeliaran sesuka hati mereka. Alih-alih punya skill, mereka justru membahayakan orang lain yang juga sedang melintas di jalanan. Kesadaran atas keselamatan bersamalah yang nggak mereka punya hingga kini. Nah, sebagai anak muda yang cerdas, kebobrokan ini harus segera kita benahi demi kepentingan dan kenyamanan bersama!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senois.