Warganet Geram sama Respons KPI Soal Dampak Negatif Sinetron. Sebenarnya Mereka Nonton TV Nggak sih?

dampak negatif sinetron KPI

Rasanya kita belum sempat move on dari kasus pembunuhan dan pembakaran terhadap ayah dan anak di Sukabumi. Nggak tanggung, otak pembunuhan sadis ini ternyata ibu tirinya sendiri yaitu AK. Bahkan AK sempat mengaku pada polisi kalau apa yang dia lakukan terinspirasi dari sinetron yang pernah dia saksikan.

Advertisement

Sementara, selama ini sudah banyak keluhan soal kualitas tayangan televisi kita, KPI justru merasa bahwa nggak ada adegan sinetron yang bisa menginspirasi seseorang buat membunuh. Mending kita bahas bareng permasalahan soal tontonan kita bareng Hipwee Hiburan berikut.

Soal sinetron yang menginspirasi kasus pembunuhan, KPI membantah kalau ada adegan yang sadis sehingga bisa memengaruhi pelaku

Ngakunya terinspirasi sinetron. via www.youtube.com

Pelaku AK yang jadi otak pembunuhan terhadap suami dan anak tirinya memang sempat mengaku kepada polisi bahwa dia terinspirasi dari tayangan sinetron yang memperlihatkan skenario pembunuhan dan pembekapan. Sayangnya, KPI justru membantah ada sinetron yang bisa separah itu.

“Itu mungkin daya nalar pikirannya saja, coba sebut sinetron apa yang mengarah ke situ. Sinetron pada rasanya memotivasi, nggak ada sinetron sesadis itu kan? Sampai bisa membakar, daya nalarnya kedesak saja, sinetron apa?” ujar Komisioner KPI Yuliandre Darwis usai dihubungi merdeka.com.

Advertisement

Melihat tanggapan KPI, warganet jelas nggak terima. Masalahnya banyak sinetron dengan tokoh antagonis yang berencana menguasai harta kekayaan suaminya sendiri, kan?

Sebenarnya keresahan soal kualitas tayangan dan jalan cerita yang nggak masuk akal sudah sering disindir sama warganet. Banyak yang merasa TV zaman sekarang nggak memberikan suatu hiburan yang menarik. Bahkan reality show dan sinetronnya menyimulasikan sesuatu yang cenderung kontras sama realitas sehari-hari. Bahkan beberapa warganet juga meminta KPI untuk meneliti kembali tayangan sinetron karena banyak banget adegan yang justru mengarah pada adegan sadis seperti membakar mobil, meracuni suami, sampai menculik, dan menyekap.

Nah, kan? via twitter.com

Memang sudah seharusnya KPI mengawasi dan mendisiplinkan tayangan yang banyak bikin orang-orang ‘terbodohi’. Sayangnya kualitas tayangan sampai sekarang masih interpretatif banget

Advertisement

Judulnya aja begini, hmmm. via www.youtube.com

Sementara banyak warganet dan penonton yang kecewa dengan hadirnya sinetron bertema azab, drama perebutan harta warisan, dan anak jalanan yang kaya raya. KPI justru membantah adanya sinetron yang bisa menginspirasi suatu tindakan kriminal. Memang bener sih semua kembali ke individu masing-masing, tapi apa nggak sebaiknya dikaji ulang dampak psikologis kalau sinetronnya terlalu frontal begitu?

Perbedaan pendapat antara pihak KPI dan warganet sebagai penonton televisi juga disebabkan karena kedua pihak ini punya pengertian berbeda soal tayangan yang berbau ‘pembodohan’. Kalau warganet menganggap reality show yang isinya drama mengikuti pacar selingkuh itu punya banyak dampak negatif, nggak selamanya KPI punya pendapat yang sama. Makanya, sebenarnya perlu dikaji ulang dan saling mengevaluasi diri.

Bahkan nggak cuma satu yang modelnya begini. via twitter.com

Intinya, sebagai individu yang mengerti tayangan mana yang baik dan buruk, mending kita gunakan ‘hak pilih’ tayangan kita sendiri. Kalau dirasa sinetron tersebut nggak mendidik, nggak usah ditonton deh. Sarankan juga anggota keluarga biar nggak menontonnya dan berikan alasan yang logis biar mereka memahami. Setidaknya kamu dan keluargamu sudah terjaga dari pengaruh buruk tayangan televisi.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sonyaruri---

Editor

Senois.

CLOSE