Tayangan sinetron di Indonesia seringkali menuai kontroversi. Adalah rahasia umum jika tayangan sinetron kerap  dipandang tidak baik untuk dikonsumsi remaja dan anak-anak. Sayangnya, justru tayangan itu yang sudah sebegitu mengakar dalam wilayah konsumsi masyarakat kita.

Salah satu polemik sinetron yang sedang ramai dibicarakan netizen adalah adegan dalam sinetron Mermaid in Love yang ditayangkan oleh salah satu stasiun swasta. Dalam adegan itu banyak sekali adegan-adegan yang dirasa terlalu dewasa untuk dikonsumsi anak-anak. Meski tidak vulgar, namun ada sejumlah nilai-nilai yang tidak mendidik, apalagi jam tayang sinetron ini pun setiap hari.

Mermaid in Love, mengundang teguran publik setelah memakai sebuah foto mesra antara tokoh remaja sebagai medium promosinya

Cie pelukan via youtube.com

Sinetron yang sedang ramai diperbincangkan adalah Mermaid in Love. Awalnya, akun Facebook SCTV memang tengah gencar mempromosikan sinetron terbarunya tersebut. Di antaranya, mereka mengunggah salah satu potret potongan adegan sinetron yang dibintangi oleh Armanda Manopo dan Esa Sigit itu disertai caption berbunyi: “Inget adegan ini nggak? Demi nolongin Eric yang pingsan, Ariel rela gendong dia kasian ya Ariel! Ini nih bukti kalau Ariel peduli banget sama Eric. #MermaidinLove hari ini akan tayang pukul 21.00 WIB ya. Jadi jangan sampai kelewatan!”

Alih-alih direspons secara positif, foto itu justru menuai kecaman dari netizen karena dianggap menampilkan kemesraan yang kurang pantas, mengingat adegannya diperagakan oleh remaja berusia dini.

Advertisement

@nadiarisma40 Sekarang film ini sudah banyak hal yg berdampak negatif terhadap remaja, banyak adegan-adegan yg kurang pantas untuk ditonton. Apalagi yang nonton itu anak-anak yang masih di bawah umur.

@_forarin_gischa_Sinetron tidak mendidik harusnya dihapus kok di Indonesia saja ada film gak mendidik melatih untuk pacaran? Awal nonton bagus akhirnya gak suka kebanyakan cengo ,sok-sokan dibuat romance murahan gak mutu gak ada nilai positif

@robyy.s Film sampah lebih mendidik Anime!

@haters_mermaidinlove Jangan ditonton mermaid in love masa tentang cinta cintaan kalau yg nonton anak kecil gimana nanti ikutan main cinta cintaan lg

@anggawikaniasoktaviana@kholifahbaniose hallo adek dijaman kami dulu ga ada sinetron macem ini bahkan setiap minggu hari libur kami penuh dengan kartun.. pokoknya seru.. oh tentu anak dan adik saya ga saya perbolehkan untuk tontonan hal seperti ini karna saya melihat dampak dari tontonan seperti ini pd lingkungan disini .. maaf jikalau memang acara seperti ini sudah memiliki batas umur untuk ditonton sepatutnya tak perlu juga ada kisah percintaannya.. jd inti dalam film itu apa ? Coba kamu jelaskan ke saya dari manfaat acara yg km tonton sehari hari

Namanya pro kontra, ada juga yang memberikan pembelaan

Peluk lagi nih, cie via youtube.com

Ada yang kontra tentu banyak juga yang pro. Namun, sepertinya mereka yang pro justru anak-anak muda yang belum tahu benar dampak negatif adegan sinetron ini. Yah, benar adanya adegan ini hanya ‘adegan’ dengan skenario. Akan tetapi konstruksi dalam layar kaca inilah yang kerap menjadi referensi berperilaku di masyarakat Indonesia. Kalau mau jujur, bukankah sedikit banyak perilaku kita hari ini adalah adaptasi dari apa yang kita tonton di kotak 24 inci tersebut?

@christin_karina Tapi gak usah di pikirin ini kan cuman sinetron

@dlaidee Biasa aja kali ini cuma akting doang. Sekedar sinetron jangan terlalu baper gitu, Masalah peluk peluk itu mungkin cuma tuntutan sinetron doang, kasihan tau. Haters cuma gara ini doang, kalo kalian emang sayang sama mermaid in love kalian harus ngertiin namanya main sinetron.

Ternyata, nggak hanya satu atau dua sinetron yang menayangkan adegan mesra remaja

Kamu mau aku cium nggak? Nggak ada yang nonton kok via www.youtube.com

Jauh sebelum sinetron ini muncul dan menuai kontroversi, banyak sinetron Indonesia yang menampilkan permasalahan serupa. Bahkan, secara terang-terangan adegan-adegan itu ditayangkan dengan pilihan waktu segmen remaja. Berbeda dengan film atau sinema yang punya kekuatan seleksi (pembelian tiket bioskop dan sebagainya), televisi adalah media massa yang pasif. Televisi tak memiliki fitur untuk memilah-milah audiensnya. Apalagi banyak orangtua yang tak mampu memberikan pengawasan penuh terhadap tontonan putra-putri mereka di televisi. Jadi harus dibedakan. Kebebasan berekspresi dalam film tak boleh diterapkan mentah-mentah di program televisi. Industri pertelevisian mesti memahami itu.

Jika sebelumnya kita sempat dihebohkan dengan kisah asmara Awkarin (Karin Novilda) yang dinilai tidak proporsional untuk usianya, ya bisa kita maklumi mengingat perputaran informasi yang terjadi memang seperti ini. Realitas-realitas media semacam inilah yang tersebar di generasi mereka. Awkarin hanya satu lagi korban dari budaya dunia hiburan yang perlu direvisi ini.