Selama ini, mungkin kamu sering merasa sulit berkomunikasi dengan orangtua sendiri. Maksudmu A, namun mereka sering menangkapnya Z. Tidak jarang, ini membuat kalian bertengkar dan berselisih paham. Padahal sebenarnya inti masalahnya sederhana: kalian hanya berasal dari dua generasi yang berbeda.

Nah, sebenarnya apa saja hal-hal yang sering membuat kamu dan orangtuamu salah paham? Di artikel ini, Hipwee akan membeberkan beberapa. Apakah kamu mengalami banyak di antaranya?

1. Sebenarnya, Kamar Kita Nggak Seberantakan Itu, Kok.

Kamar seperti ini sudah berantakan banget katanya via videojug.com

“Mbaaak…itu kamar atau tempat laundryyy… Baju kotor di mana-mana!”

Yang sering kena marah karena kamarnya berantakan, angkat tangan! Orangtua memang kayaknya nggak bisa tahan melihat barang berserakan sedikit di kamar kita. Walaupun itu cuma 2 helai baju dan beberapa buku, pasti kamar sudah dianggap berantakan dan harus segera dibereskan.

Advertisement

Padahal sebenarnya kondisi kamarmu nggak separah itu kok. Kebanyakan buku masih rapi tersimpan di rak, baju-baju kotor juga selalu langsung kamu masukkan ke dalam keranjang. Tapi sepertinya itu belum cukup untuk memanjakan mata mereka. Mungkin ‘rapi’ menurutmu dan orangtua itu berbeda.

Rapi menurutmu: semua pada tempatnya sehingga tidak kebingungan mencari barang.

Rapi menurut orangtuamu: seperti kamar-kamar yang ada di majalah properti.

Harus serapi yang di majalah properti  via asteroidette.blogspot.com

2. Waktu Kamu Tidur Seharian Sebenarnya Kamu Bukan Pemalas, Kamu Cuma Tepar…

Ini tepar via www.vantagemag.com

“Aduh Kak, kerjanya kok tidur terus! Nanti kalau Mama meninggal, Mama warisin Adek rumah sama motor. Kamu dapet kasur aja biar bisa tidur terus sampai puas!”

Diih, Mama. Kamu ‘kan cuma mau rebahan di kasur sebentar selepas pulang sekolah atau kuliah. Lagipula beliau seperti nggak tahu saja, kamu kemarin ‘kan terpaksa pulang malam karena tugas kelompok. Waktu tidurmu berkurang, sehingga hari ini kamu lebih cepat lelah.

Guling-guling di kasur juga bukan berarti malas. Namanya juga hari libur, masa’ kamu nggak boleh menikmati waktumu bersantai-santai? Sudah penat juga kali Ma, seminggu aktif terus! :p

3. Ma, Pa….Langganan TV Kabel Itu Biar Bisa Nonton Siaran Luar Negeri, Bukan Biar TV Kita Nggak Banyak ‘Semut’-nya…

“Supaya TV-nya nggak semutan, Mbak” via motorrio.com

Kamu: “Ma, kok tontonannya masih sinetron sih? ‘Kan ada TV kabel! Aku mau setel HBO nih.”

Ibumu: “Langganan kabelnya ‘kan biar TV kita nggak banyak semutnya. Soalnya nggak mempan kalau cuma pakai antena biasa.”

Kamu: *jongkok dan ngurek-ngurek tanah*

Saat orangtuamu memutuskan untuk berlangganan TV kabel, kamu merasa senang karena akhirnya bisa menikmati siaran TV luar negeri. Sayangnya, rasa senangmu itu tidak bertahan lama. Di jam-jam utama di mana acara TV luar negeri sedang bagus-bagusnya, kamu harus rela melepas remote dan mengalah kepada ibumu yang ingin menonton sinetron. Kalau begitu, sebenarnya apa alasan mereka berlangganan TV kabel?

Ternyata alasannya simpel: supaya saat nonton sinetron, TV kamu nggak banyak “semut”nya. Hahaha.

4. Ada Adegan Ciuman atau Tarian Seksi Bukan Berarti Harus Ganti Saluran TV

Ada klip video ini harus langsung diganti via www.thehypefactor.com

Mama: “Kok nontonnya acara kayak gini? Ganti Mas, nggak mendidik. Nanti kamu ikutan pegang-pegang cewek kayak tuh cowok yang di TV.”

Kamu: “Oke.” (dalam hati: “Yeee… Mama juga nggak kawin-cerai atau lupa ingatan biarpun nontonnya sinetron mulu!”)

Bagi kamu, menonton adegan ciuman dalam film atau klip video Barat adalah sesuatu yang “ya sudahlah”. Adegan-adegan itu memang sering terselip di film atau klip musik favorit kamu. Lama-lama, kamu jadi biasa saja melihatnya. Toh bukan berarti kamu akan ikut-ikutan juga. Apalagi kalau di dunia nyata sebenarnya kamu nggak punya pacar.

5. Teknologi dan Internet Itu Nggak Melulu Buruk, Kok

Internet itu nggak cuma berpengaruh negatif , kok via news.asiaone.com

Kamu mungkin sering dikritik orangtua karena terlalu lama berada di depan layar laptop. Entah itu mengerjakan tugas, nge-Skype sama teman, atau nge-blog. Dulu sekitar tahun 2008-2009, waktu Facebook masih baru ngetop, mungkin kamu sering dengar ayah atau ibumu berkata begini:

“Facebook itu bahaya! Kemarin Papa lihat berita soal anak Jakarta yang diculik sama orang yang dia kenal di Facebook.”

Terus, suatu hari…

Ayahmu: “Mas, main Facebook itu asik ya kayaknya?”

Kamu: “Ha, emang kenapa Pa?”

Ayahmu: “Nggak, Papa penasaran aja. Ajarin ya kalau Mas sempat. Sekarang sempat, gak?”

Kamu: “….”

6. Urusan Pendidikan Juga Bisa Jadi Alasan Pertengkaran. Dimulai dari SMA: Kamu Ingin Masuk Kelas IPS atau Bahasa, Bukan IPA.

Anak kelas IPS dan Bahasa juga bisa berprestasi, kok! via sman2kotabogor.sch.id

Kebanyakan orangtua memang masih beranggapan bahwa kelas IPA akan sangat memudahkan masa depanmu. Kamu bisa bebas memilih kuliah dengan jurusan apapun, dari mulai Kedokteran, Teknik, Akuntansi, hingga Sastra. Beda dengan kelas IPS dan Bahasa yang hanya memungkinkanmu masuk jurusan sosial saja. Pokoknya menurut orangtua, masuk kelas IPA pasti gampang masuk kuliah.

Padahal sebenarnya, pilihan kelas penjurusan tidak terlalu berpengaruh dengan mudah atau tidaknya kamu mendapatkan kuliah nanti. Semuanya kembali kepada minat yang kamu miliki dan seberapa tekun kamu belajar untuk menghadapi ujian saringan masuk.

Ibu: “Mbak, nilai kamu cukup ‘kan buat masuk IPA?”

Kamu: “Iya, tapi aku mau masuk IPS aja, Bu.”

Ibu: “Lah? Terus nanti kuliahmu gimana? Nanti susah pilih jurusan!”

Kamu:  “Yaah, Ibu… Aku juga dari sekarang udah tahu kali mau kuliah apa. Nanti mau ambil HI, ya masak harus jadi anak IPA?”

Ibu: “Udahlah, masuk IPA aja! Masa depanmu lebih terjamin!”

7. Kemudian Lanjut Saat Kuliah. Waktu Kamu Bilang Cita-Citamu Bukan Menjadi Seorang Dokter

Dokter bukan cita-citamu via www.unpad.ac.id

Sebenarnya, salah satu alasan mengapa orangtua di Indonesia ingin anaknya masuk kelas IPA adalah supaya si anak bisa jadi dokter. Dokter memang masih pekerjaan yang dianggap menjanjikan dan membanggakan keluarga.

Namun apa boleh buat, tidak semua anak Indonesia bercita-cita jadi dokter. Ada yang bercita-cita ingin menjadi seorang desainer, jurnalis, atau bahkan duta besar. Sayangnya cita-cita tersebut “kalah kelas” dibandingkan profesi dokter.

Ya sudah, ingatkan saja dirimu bahwa sebenarnya niat mereka baik. Mereka tahu cari uang itu susah, dan ingin kamu punya kehidupan yang mapan nantinya. Bicarakan saja baik-baik dengan mereka: ada cita-cita lainnya yang tak kalah mulia.

8. Masih Lanjut Sampai Saat Kamu Kerja: Orang Tua Gak Paham Kenapa Kamu Ogah Jadi PNS dan Memilih Bekerja di Sektor Swasta

Kamu nggak ingin jadi PNS via humaskabbolmong.blogspot.com

Pekerjaan sebagai PNS memang selalu memiliki prestise sendiri di mata orangtua, sama halnya dengan dokter. Di satu sisi, kamu bisa berkontribusi mengurus Indonesia. Di sisi lain, pekerjaan ini menyediakan tunjangan, dana pensiun, dan kepastian kerja yang akan memudahkan hidupmu. Pokoknya menurut orangtua, kepastian yang ditawarkan status PNS akan membuatmu bisa punya lebih banyak waktu memikirkan hal-hal penting lain dalam hidup.

Tapi apa boleh buat, dari dulu keinginanmu bukan ingin menjadi pengabdi negara. Kamu mungkin ingin memulai karir di perusahaan start-up  untuk mengasah kemampuanmu lebih dalam. Pekerjaannya memang tidak senyaman PNS atau pegawai di perusahaan besar, namun setidaknya kamu ikut merasakan bagaimana karirmu meningkat sejalan dengan pertumbuhan perusahaan. Kalau kamu memang sudah yakin akan apa yang kamu mau, coming out lah pelan-pelan kepada orangtuamu.

9. Musik yang Kamu Dengarkan Itu Bukan Musik “Nggak Genah“…

Ini bukan musik neraka, kok Ma via giphy.com

(Di mobil) “Kakaak… ini lagu apa sih? Kayak orang kesetrum lagi kumur-kumur!”

Bisa jadi kamu penggemar musik rock, metal, hip hop, atau rap, yang memang asing di telinga kebanyakan orangtua Indonesia. Memang, banyak dari kita yang ayah-ibunya lebih akrab dengan tembang-tembang kenangan atau lagu tradisional yang biasa dinyanyikan di kondangan.

Sebenarnya ketidakmengertian ini berlangsung dua arah. Kamu pun tidak mengerti apa istimewanya musik favorit mereka!

10. Ketika Kamu Ingin Mengekspresikan Diri Dengan Cara Mengecat Rambut, Orang Tuamu Punya Pandangan Sebaliknya

Merasa sayang jika rambut hitammu terkena bahan kimia via www.clear.co.id

“Duh, kamu kok rambutnya merah gitu, kayak anak layangan!”

“Ah, Ibu!”

Mengecat rambut adalah salah satu caramu mengekspresikan diri. Dengan rambut berwarna-warni, kamu merasa telah menjadi pribadi yang unik. Kamu pun menikmati rasanya menjadi pusat perhatian di tempat ramai. Sayang, ibu atau ayahmu tak sepenuhnya mengapresiasi rambut unikmu.

Sebenarnya orangtua bukannya tidak memperbolehkan, mereka hanya merasa sayang saja jika rambut indahmu harus terkena bahan kimia. Mereka lebih menyukaimu apa adanya, dengan rambut hitam asli Indonesia.

Sabar saja ketika mereka menggoda warna rambutmu. Lama-lama juga akan berhenti, kok 😉

11. Kebingungan yang Sama Juga Dirasakan Orang Tua Saat Kamu Membubuhkan Tato di Tubuhmu

Murni sebagai apresiasi seni via grandtattoo.blogspot.com

Kamu: “Ma, adek bikin tato ya?”

Mama: “Hah? Tato? Yang gambar-gambar itu?”

Kamu: “Iya lah Ma..”

Mama: “Adek, itu kayak preman tau nggak? Lagian haram! Takut HIV, gak higienis. Boleh tato, tapi pake tato yang dari permen karet aja. Yang 3 hari hilang itu.”

Kamu: “Ma….please.

Sama seperti warna rambut, tato juga adalah salah satu sarana ekspresi diri. Kamu pun tertarik untuk merajah tubuhmu. Sayang, orangtua tidak setuju. Alasannya pun beragam, dari tidak diperbolehkan agama, tidak sayang badan, hingga takut kamu tertular virus HIV. Mereka pun khawatir jika anaknya mendapat cap negatif di masyarakat.

Jelaskan saja bahwa niatmu murni hanya sebagai apresiasi seni. Kamu pun bersedia untuk menjaga sikap dan tidak secara gamblang memperlihatkan tatomu, terutama saat acara keluarga. Tato tidak akan mengubah, namun justru makin memperkuat, siapa dirimu.

12. Orang Tua Sering Merasa Kamu Berlebihan Waktu Keluar Pakai Celana Pendek dan Baju Tanpa Lengan, Padahal Pakaian Itu Membuatmu Merasa Lebih Nyaman

Nyaman, simpel, dan nggak bikin gerah via www.kawankumagz.com

Cuaca panas yang ada di Indonesia membuat kita sering merasa kegerahan. Belum lagi kalau pakaian sehari-hari kita tidak menyerap keringat dengan baik. Maka dari itu, memakai celana pendek atau baju tanpa lengan menjadi kenyamanan tersendiri untukmu. Paling tidak, tubuhmu bisa lebih banyak merasakan sentuhan angin yang sejuk.

Papa: “Nak, kenapa sih pakai baju pendek-pendek gitu?”

Kamu: “Panas Paaaa, gerah!”

Papa: “Malu ih dilihatin orang. Nanti kalau dilihat tukang ojek digodain gimana?”

Kamu: “Pa, aku juga punya selera kali. Gak bakal mau sama tukang ojek.”

Papa: “Ganti, atau uang jajan bulan depan Papa gak transfer!”

Kamu: (menyerah)

Masalahnya, tidak semua orangtua mengerti kalau kamu memakai celana pendek atau baju tanpa lengan karena nyaman, bukan untuk menampilkan keseksian. Mereka kerap melarangmu berpakaian seperti itu dan kemudian menyuruhmu mengenakan pakaian yang lebih tertutup, sebagaimana sesuai dengan budaya di Indonesia. Mereka mungkin tidak paham dengan maksudmu mengenakan pakaian yang lebih terbuka, namun mereka hanya ingin kamu tidak menjadi objek pandangan orang-orang dan mendapat stigma buruk karenanya.

13. Liburan Berdua Sama Pacar Itu Emang Buat Liburan Pak-Bu, Bukan Kawin Lari Atau “Macam-Macam”

Mereka takut kamu berbuat “macam-macam” via bridestory.com

Mendaki gunung atau menyusuri pantai-pantai indah di Indonesia hanya berdua akan menjadi pengalaman seru. Kamu pun berniat untuk mengisi liburan kali ini dengan berplesir berdua saja dengan pacarmu. Sayangnya, niatmu itu harus berbenturan dengan tak adanya izin dari orangtua. Mereka masih menganggap bahwa kamu dan pacarmu belum pantas untuk liburan hanya berdua saja. Mereka takut kamu akan “macam-macam” di sana.

Yah… Biarpun kecewa. sebenarnya kamu pun paham bahwa ketakutan ini wajar. Sebagai orangtua, mereka pasti ingin melindungimu dari kemungkinan-kemungkinan yang akan menyulitkan hidupmu kelak. Kalau sudah benar-benar dapat vonis “tidak boleh”, kamu hanya bisa bersabar dan berdoa supaya bisa lebih dipercaya di kesempatan berikutnya.

14. Ketika Kamu Ingin Merantau ke Luar Kota, Bukan Berarti Kamu Tak Sedih Meninggalkan Mereka

Kamu: “Bu, aku mau kuliah di Jogja ya.”

Ibu: “Kenapa nggak di Jakarta aja? Capek ya dimarahin sama Ibu?”

Mereka sebenarnya tahu kok kalau alasanmu memilih kuliah atau kerja di luar kota karena ingin mencoba untuk hidup mandiri, bukan karena capek dimarahi. Namun, pernyataan seperti itu tetap sering diucapkan karena tidak bisa mengutarakan rasa khawatir yang akan dirasakan bila kamu hidup jauh dari mereka. Bagaimana kalau kamu sakit, makan apa kamu setiap harinya, hingga memikirkan bagaimana kamu berhari raya tanpa dikelilingi oleh keluarga.

Pastikan bahwa orangtuamu tahu kalau kamu juga selalu memikirkan mereka saat kamu jauh. Jadi, jangan lupa untuk selalu memberi kabar kepada orangtuamu karena mereka hanya butuh tahu satu hal: kamu baik-baik saja.

15. Kamu Pun Juga Sama Gamangnya dengan Mereka Ketika Pacarmu Berbeda Iman

Hubungan beda keyakinan dianggap tidak punya masa depan via www.sinema.sg

“Kenapa sih, Mas, nggak cari yang seiman saja?”

Agama masih menjadi hal yang cukup sensitif di Indonesia, apalagi jika menyangkut hubungan cinta. Biasanya, orangtua tidak mengerti mengapa kamu bisa memilih pacar yang berbeda keyakinan. Mereka memikirkan hubunganmu dalam jangka panjang. Bagaimana kalau kamu sudah terlanjur sayang sementara kalian sulit sampai ke pelaminan?

Namun mereka sering lupa bahwa kamu pun sebenarnya sama gamangnya. Kamu juga tahu bahwa kondisi hubunganmu tidak ideal. Dalam hati, kamu juga sama (atau bahkan lebih) tertekan. Nasihat-nasihat yang mereka tawarkan ke kamu sudah lebih dulu kamu katakan ke diri sendiri ribuan kali.

Berpacaran dengan seseorang yang berbeda iman memang butuh perjuangan. Itulah mengapa, banyak dari hubungan ini yang akhirnya kandas di tengah jalan.

16. Definisi ‘Sukses’ serta ‘Bahagia’ Versimu dan Orangtua Bisa Jauh Berbeda

Memenuhi target hidup dan bekerja sesuai renjana via fastnlow.net

Definisi ‘sukses’ dan ‘bahagia’ versimu: berhasil memenuhi target hidupmu, bekerja sesuai renjana, dan bisa bersyukur setiap harinya.

Definisi ‘sukses’ dan ‘bahagia’ versi orangtua: punya kendaraan sendiri, punya rumah sendiri, kerja mapan, sudah menikah, punya anak.

Sebenarnya perbedaan definisi tersebut hanya didasarkan satu hal: siapa yang menentukan sukses dan bahagiamu. Menurut definisimu, cukup kamu saja yang merasakan bahwa kamu sudah sukses dan bahagia. Namun menurut orangtua, kesuksesan dan kebahagiaan itu belum sah jika orang lain tak ikut merasakan hasilnya.

Perbedaan ini wajar. Beri saja pembuktian bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan. Ketika hidup sedang sulit-sulitnya, buktikan bahwa kamu cukup kuat untuk tak mengeluh.

Orangtua masih mengukur kesuksesan dengan materi karena harta adalah ukuran yang pasti. Mereka tidak tahu perasaanmu, jadi hanya dengan materi lah mereka bisa memperkirakan kebahagiaanmu. Namun dengan pembuktian yang nyata, tanpa materi berlimpah pun kamu bisa meyakinkan mereka bahwa hidupmu telah bahagia.

17. Akan Selalu Ada Saat Dimana Kamu Gagal Memenuhi Ekspektasi Mereka

I’ve tried enough via www.hercampus.com

Orangtua memberikan kita perhatian sejak kecil agar kita bisa menjadi apa yang mereka harapkan. Menjadi anak yang mengerti agama, sopan dalam berlaku, mengasihi orang lain, cerdas dalam pikiran, serta yang paling penting: menjalani hidup yang lebih baik dari mereka. Namun, kita tidak selalu bisa memenuhi harapan mereka ini.

Mungkin orangtua berharap kita masuk universitas terbaik dan mengambil jurusan yang berpeluang kerja paling besar. Sayangnya, kita tak bisa memenuhinya. Mungkin mereka menginginkan kita segera berjilbab. Namun untuk saat ini, kita belum bisa mengatakan iya. Memang selalu ada waktu dimana kita tak bisa memenuhi ekspektasi mereka.

18. Namun Terlepas dari Perselisihan dan Perdebatan yang Ada, Kamu Selalu Menginginkan Mereka Bahagia. Dan Sesungguhnya, Begitu Pula yang Jadi Harapan Mereka

Semoga mereka bahagia via www.reverbnation.com

Kita dan orangtua bisa jauh berbeda. Dalam hal prinsip hidup dan keyakinan, dalam hal yang boleh dan tak boleh dilakukan. Perbedaan inilah yang membuat kita dan mereka bisa saling menyakiti.

Kamu mungkin tidak akan pernah bisa menjadi sebaik yang mereka harapkan. Tak semua perilakumu bisa mereka banggakan. Sebaliknya, mereka juga pernah melakukan kesalahan. Dan kamu pun tak semudah itu untuk memaafkan.

Terlepas dari apa yang pernah mereka katakan, yang ada di pikiran mereka hanya kamu semata. Sebaliknya: apapun yang pernah kamu lakukan, kamu tak pernah berhenti berdoa agar mereka bahagia.

Itulah beberapa hal yang masih menjadi alasan di balik pertengkaranmu dan orangtuamu. Persepsi kalian mungkin sering berbeda, tapi intinya sama: bagaimana caranya agar kamu bisa bahagia. Semoga, orangtua kita selalu dilindungi oleh Yang Maha Ada.