Memiliki teman hidup yang disahkan dalam pernikahan tentu menyenangkan. Kata sebagian orang yang sudah mrngikat janji sehidup semati, menikah itu bikin mereka menyesal. Iya, menyesal kenapa nggak dari dulu-dulu saja menikah.

Meski demikian, memutuskan akan menikah tentu ada pertimbangan yang panjang. Syarat yang ribet dan segala macam tetek bengek yang harus dilakoni. Berbagai macam keruwetan itu kadang bikin kamu malas dan menunda untuk menikah meskipun sebenarnya kamu sudah memiliki pasangan dan usia yang cukup untuk berumah tangga.

1. Biaya resepsi yang mahal membuat kamu masih ragu-ragu untuk menikah.

Resepsinya yang mahal

Resepsinya yang mahal via www.google.co.id

Advertisement

Secara administratif, menikah itu nggak membutuhkan biaya yang besar. Tapi, di Indonesia, nikah itu butuh upacara ritual dan resepsi. Nah itu yang bikin mahal! Semakin banyak temanmu, semakin sulit kamu untuk membuat perayaan pernikahan yang sederhana.  Gak diundang nanti nggak enak, mau ngundang tapi rencananya kuota undangannya cuma dua ratus undangan. Itu juga dibagi dua sama keluarga yang sana, terus masih jatah kita masih dibagi tiga sama teman-teman bapak ibu. Ya udah deh terpaksa nambah undangan. Eh, kalau lebih dari dua ratus jadi harus nyewa gedung yang lebih besar. Nambah katering juga dong!

Lihat saldo rekening bank, isinya gak seberapa…

2. Banyak syarat yang harus kamu temui untuk mendapatkan pasangan yang tepat untukmu dan juga keluarga besarmu.

Hai om!

Hai om! via www.google.co.id

Seperti sudah dibahas sebelumnya ada 12 jenis hubungan yang susah untuk dibawa ke jenjang pernikahan di Indonesia. Syarat-syarat ini sering kali bikin kamu galau untuk bisa melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Soalnya mencari pasangan untuk menikah itu bukan cuma yang pas buat kamu, tapi juga pas buat keluargamu. Sekalinya sudah kenal seseorang yang nyambung, cocok, pokoknya pas banget, eh agamanya beda, eh kerjaannya nggak sesuai sama keinginan orang tua, eh satu marga.

Advertisement

Cewek: “Pa, kenalin ini Robi,”

Papa: “Ehem… Kamu kerja di mana? Kok boleh pakai tatoo begitu? Pasti bukan PNS atau pegawai bank ya?”

Cewek: “Eh, Pa, Robi ini pengusaha distro,”

Papa: “Ya ampun! Suka disko? Mau jadi apa kamu ini sama dia?”

Cewek: *hanya bisa berlapang dada*

3. Karena di Indonesia menikah tak hanya menyatukan dua individu, tapi juga dua keluarga, jadilah kalau menikah kamu harus ketemu keluarga calonmu.

Segitu banyak keluarga yang harus aku temuin?

Segitu banyak keluarga yang harus aku temuin? via www.google.co.id

Memang yang menikah cuma sepasang insan, tapi yang terikat ada banyak orang. Makanya, sebelum menikah di Indonesia beberapa orang harus mengenalkan calonnya kepada seluruh anggota keluarga besar. Lolos pedekate sama bapak ibunya ternyata nggak membuat jalanmu menyanding pasanganmu jadi lancar kayak jalanan Jakarta pas lebaran. Kamu masih harus berurusan dengan paman-pamannya untuk meminta persetujuan. Masih mending kalau paman-pamannya tinggal di kota yang sama, kalau tersebar dari Sabang sampai Merauke? Ya selamat berjuang aja!

Cowok: “Papa kamu kan sudah setuju bebh. Berarti kita bisa nikah ya?”

Cewek: “Eh, belum! Kamu kan belum minta izin ke paman-paman aku. Di keluargaku harus begitu,”

Cowok: “Oh gampang itu, ayo kapan kita ke rumah paman kamu?”

Cewek: “Ya kamu beli tiket pesawat dulu sana. Paman aku yang pertama ada di Deli Serdang, Yang ke dua di Lampung, terus Makasar, satu lagi di Ambon,”

Cowok: *cek saldo*

4. Ternyata, di acara-acara keluarga pertanyaan “Kapan nikah?” masih ada lanjutannya…

Stop nanya-nanya!

Stop nanya-nanya! via www.google.co.id

Pak Dhe: “Kamu kapan nikah? Jangan lama-lama lho nanti keburu tua, kasian anak-anaknya. Pak Dhe Bu Dhe ini juga sudah pingin kan repot mantenanmu,”

*satu tahun kemudian*

Tante: “Sudah nikah masih tinggal sama mama papanya ya? Coba ditabung-tabung buat beli rumah sendiri atau ngontak gitu biar enak berkeluarganya,”

*satu tahun kemudian*

Iparnya Papa: “Kapan mau punya anak? Mumpung masih muda, masih kuat lho!”

*empat tahun kemudian*

Sodara angkatnya Papa: “Eh sudah besar ya, kapan nambah? Biar ada temennya, biar nggak manja ini kalau punya adik,”

6. Buat yang cewek, pertanyaannya akan makin bertambah banyak…

Enggak selesai-selesai!

Enggak selesai-selesai! via www.google.co.id

Tetangga depan: “Kamu nggak kerja cuma ngurus anak terus, padahal kan lulusan S2. Enggak sayang?”

*setelah bekerja*

Tetangga kiri: “Kalau kamu sibuk kerja, anakmu kamu titipin pembantu? Terus nanti kalau dia lebih sayang sama pembantu gimana? Kalau pembantunya macam-macam gimana?”

Istri yang sabar: “Oh enggak kok, dia aku titipin ke mama. Biar sekalian mama ada kegiatan dan temannya. Enggak bengong aja di rumah,”

Tetangga kanan: “Lho kalau diurus sama eyang itu nanti anak biasanya dimanja. Soalnya apa-apa diturutin sama eyangnya. Apalagi dia cucu pertama kan?”

INI KAPAN SELESAINYA?

7. Selain urusan dengan keluarga yang ribet, urusan dengan administrasinya juga nggak kalah ribetnya.

Ngurusnya lama!

Ngurusnya lama! via www.google.co.id

Berdasarkan tata cara mengurus surat pernikahan, ada banyak dokumen yang perlu disiapkan buat nikah. Butuh waktu beberapa hari sebelumnya juga untuk mengurus, kalau perlu satu atau dua bulan sebelum. Keribetan akan bertambah ketika kamu dan calonmu KTP-nya berbeda propinsi apalagi beda agama. Menunggunya pun harus sabar dan bertahap. Dari RT RW sampai ke KUA kecamatan. Pokoknya panjang deh, kalau cuma nunggu jadwal sidang skripsi atau wisuda saja nggak ada apa-apanya!

Kemungkinan terjadinya dongeng bertemu seseorang, jatuh cinta dan menikah siang itu juga sangatlah kecil.

Segala keribetan tentang pernikahan di Indonesia ini sebenarnya ada baiknya juga lho! Kalau kamu berhasil melewatinya berarti kamu benar-benar niat berumah tangga yang lebih ribet dari proses menikahnya. Dan kenapa kamu harus melalui berbagai macam syarat baik dari keluarga maupun negara yang panjang? Itu supaya orang nggak main-main dengan pernikahan dan menikah hanya sekali untuk seumur hidup.

Kalau udah cinta mah, rintangan seberat apapun pasti dijalani. Betul apa benar?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya