Lulus kuliah dengan nilai sempurna, dapat pekerjaan idaman, lalu cari pasangan/semakin serius menjalin hubungan. Begitu sih ekspektasi yang disematkan padamu di umur segini. Eh, ada juga ekspektasi lainnya —  yang gak kalah besar dan serius. Ekspektasi pernikahan, guys!

“Harus dipikirin, dong. ‘Kan umur kamu udah segini…”

“Kalau gak dipikirin, nanti gak dapet-dapet lho!”

“Si Nia sama Alit aja kemarin udah nikah. Kamu gimana sama Anton?”

Duh, perasaan dikejar nikah itu ‘khas’ banget deh. Rasa cemas, galau, sampai kesel karena selalu ditanyai campur-campur jadi satu. Tapi gak usah galau, kamu gak mengalami hal ini sendiri kok! Ada ratusan, bahkan ribuan cewek dan cowok lain seumuran kamu yang merasakan hal yang sama. Hal-hal di bawah ini, bukan cuma kamu yang merasa!

1. Tuntutan buat segera nikah itu bukan cuma karena umur yang terus bertambah. Tapi juga karena keluarga yang terus menerus tanya “kapan?”

Datang ya ke nikahanku~ via www.pinterest.com

Di Indonesia, usia nikah biasanya berkisar di rentang 23-30 tahun untuk perempuan dan 25-35 tahun untuk laki-laki. Kalau kamu sudah punya pekerjaan mapan dan penghasilan lumayan, orang menganggap sudah tak ada lagi yang harusnya kamu nanti. Udah, nikahin aja!

Advertisement

Sebenarnya sih, gak semua anak muda blingsatan mau mengejar pernikahan. Tapi rasanya kayak ditendang juga sih tiap kamu ditanyain Tante, Oom, atau orangtua: “Kamu kapan?”

2. Udah gak zamannya lagi lah Mama minta pulsa. Sekarang, Mama minta mantu.

Kalau kamu pulang ke rumah, ketemu orang tua, bukan nilai IPKmu lagi yang harus kamu pertanggungjawabkan. Tapi sudah ada atau belumnya calon pendamping hidupmu. Sudah lewat masanya Mama minta pulsa, sekarang Mama minta Mantu.

Dan jangan lupa, setelah dapat mantu, Mama akan minta cucu ;(

3. Padahal jangankan nikah… Pacaran aja mungkin kamu malas

Males ngapa-ngapain, enakan bobo ditemenin kucing ;p via vogueaustralia.tumblr.com

Kamu yang memang nggak ada rencana buat nikah muda, pasti bingung kalau ditodong pertanyaan Kapan nikah?’. Lah mending kalau udah punya calon. Kalau jomblo… mau nikah sama siapaaa?

“Jangankan nikah, pacaran aja malas! Malas laporan tiap kegiatan sehari-hari, malas ditelponin malam-malam, malas mikirin dia lagi ngapain dan sama siapa, malas cemburu-cemburu, malas kangen sampai galau, pokoknya malas bangetlah.”

“Yaelah, ngurus diri sendiri aja masih keteteran, gimana kalau nanti ngurus anak sama suami?”

Apapun alasannya, intinya kamu belum siap untuk kehidupan rumah tangga. Terserah orang mau bilang apah!

4. Mungkin juga kamu sebenarnya punya pacar. Serius, gak main-main, tapi masih terlalu jauh kalau ngomong soal pernikahan ;(

Pacar sih punya. Nikah? Nanti dulu… via scrapbookofbeaconhills.tumblr.com

Punya pacar juga belum tentu bisa santai menghadapi pertanyaan ‘Kapan Nikah’ lho. Bagus kalau kamu sudah yakin dengan pacarmu dan kalian sudah punya rencana yang matang di masa depan.

Kita pasti tahu bahwa pacaran dan pernikahan itu dua hal yang berbeda. Sudah punya pacar belum tentu berarti siap menikah. Punya pacar tidak selalu berarti kamu ingin dan akan menikah dengan segera di masa depan.

5. Mungkin juga kamunya serius, dianya enggak. Mau gimana?

Kamu serius, dianya enggak 🙁 via www.debrapasquella.com

Tapi bisa juga kamu sudah serius, siap menikah, siap dengan rencana matang di masa depan, eh… dia yang enggak serius. Kalau udah begini kita bisa apa? Pilihannya cuma dua, menunggu dia serius atau cari yang lain yang bisa diajak serius.

6. “Sudah sarjana, sudah kerja, terus nunggu apa lagi?” Ah, seolah-olah hidup cuma soal siklus sekolah – kerja – nikah – lalu mati

Udah wisuda lho. Nikah kapan~~ Mati kapan~~ via www.anakui.com

Alasan Mama biasanya masuk akal sih. Kan kamu sudah lulus kuliah, sudah kerja, sudah punya pekerjaan yang lumayan, lalu nunggu apa lagi? Hidup seolah punya siklus yang paten: lahir – sekolah – kuliah –kerja/nikah – punya keturunan – mati.

Sulit buatmu untuk mempertahankan argumen bahwa hidup bukan cuma soal siklus ini. Lama kelamaan kamu jadi malas menjawab. Kalau ada yang nanya-nanya lagi, cukup senyumin aja. Ya udah. Toh senyum itu ibadah.

7. Di setiap kesempatan, kamu pun akan disodori berita teman sebaya yang sebentar lagi naik pelaminan. Terus tebak kamu bakal ditanya apa…

Ekspresimu waktu pertama kali ditanya kapan nikah… via magazine.getvee.com

Bukan hanya pertanyaan ‘kapan nikah’ saja yang disodorkan keluargamu untuk mengingatkanmu tentang usia nikah, tapi juga kabar teman-temanmu yang sudah nikah. Tujuan jelas, biar kamu kepengen juga.

“Tadi Mama ketemu Ibunya si Dewi. Teman SD kamu itu lho.”

“Oh”

“Katanya bulan depan dia mau nikah.”

“Oh ya?”

“Kamu kapan?”

“Hmm…”

Itu belum seberapa. Karena ternyata keluargamu begitu kreatif, sehingga semua topik apaun yang kamu bicarakan bisa berujung pada pertanyaan: Kapan kamu nikah?

“Mama mau nyari bedak yang bikin awet muda. Di mana ya kira-kira?”

“Zaman internet gini, beli online aja,  Ma, nggak ribet. Apa-apa ada.”

“Oh gitu. Berarti di internet kamu bisa nyari calon suami juga dong?

“…”

8. Sekali ditanya mungkin lucu. Lama-kelamaan, nyebelin juga

Pertanyaan yang sama diulang-ulang bikin bosan 🙁 via www.tumblr.com

Waktu pertama kali ditanya ‘kapan nikah’ mungkin akan terasa lucu. Bisa juga kamu justru merasa bangga, karena bagaimanapun juga kamu sudah dianggap dewasa. Tapi kalau setiap bertemu disodori pertanyaan yang sama? Lama-lama nyebelin juga.

9. Rasanya orang lebih peduli pada kamu sudah nikah apa belum daripada hal-hal yang lainnya. Hellaaww, banyak kali yang menarik dari hidupmu selain itu!

Semua seolah nggak ada artinya selain nikah via www.donnlicious.com

Kalau kamu bertemu dengan keluarga atau teman yang sudah lama tidak berjumpa, pertanyaan pertama yang mereka ajukan bukan “Sehat?” atau “Kerja di mana sekarang?” tapi “Kapan nikah?”.

Seolah-olah yang paling penting dari semuanya adalah kapan kamu akan menikah. Seolah-olah semua hal lain yang berhasil kamu raih selama ini tidak ada artinya kalau kamu belum berhasil membina rumah tangga. Sedih nggak sih? 🙁

10. Padahal prestasi kerja bejibun dan layak dibanggakan. Kenapa itu gak ditanyain sih?

Tanyain kerjaan di kantor dong! via rack.3.mshcdn.com

Di hidupmu berwarna ini, sebenarnya kamu punya banyak prestasi yang bisa dibanggakan. Mulai pujian dari bos, menang lomba, sampai mendapat promosi dari kantor. Tapi semua itu tertutup dengan kenyataan bahwa kamu belum masih jomblo dan belum berencana menikah dalam waktu dekat.

Dulu-dulu kamu akan berbangga hati saat meraih prestasi kuliah atau kerja. Hasil dari kerja kerasmu selama ini ternyata berbuah yang baik. Kamu nggak sabar untuk cerita ke keluargamu, dan kadang keceplosan cerita sama teman-temanmu. Ya namanya juga bangga. Tapi sekarang? Daripada makan hati, mendingan enggak cerita deh.

11. Di saat yang sama topik obrolan teman-temanmu mulai berubah

Udah dijahit belom?

Teman-teman satu circlemu pun tak jauh berbeda. Dulu kalau nongkrong dengan teman-teman kamu bisa membahas masalah apapun. Mulai dari dosen killer yang ternyata tidak sekiller yang kamu kira sampai kenapa Ibas anaknya Pak SBY dan Bu Ani selalu pakai baju lengan panjang, semuanya bisa kamu bahas.

Tapi sekarang, nongkrong dengan teman sebaya obrolannya nggak jauh-jauh dari suami idaman, desain undangan, seragam untuk bridesmaid, calonnya si ini, target nikah di itu, dan sebagainya.

Waktu semakin berlalu, usia bertambah, topik pembicaraan pun berubah.

12. Sebuah undangan pernikahan dari teman bikin kamu terbengong-bengong. Dia kan dulu temanku main Monopoli!

Undangan nikah kawan lama yang bikin shock… via www.bintang.com

*Ada paket dateng ke rumah*

(dalam hati) “Wah, apa nih? Ada yang ngadoin gue? Apa orderan online ya, tapi kok cepet banget datengnya? Bentar, si Nina ‘kan kemarin bilang mau ngirimin sambel dari Surabaya… Itu kali ya?”

*Membuka paket*

*Menemukan undangan nikah*

“…”

Sampai akhirnya sebuah undangan dengan kertas lucu berwarna pink yang romantis muncul di mejamu. Namanya mengingatkanmu pada seseorang yang kamu kenal.

Saat kamu sibuk mengejar karir, nggak terasa satu persatu temanmu mulai melepas masa lajang. Undangan mulai berdatangan. Dan pertanyaan “Kapan nikah?” dari keluarga didukung pertanyaan “Kapan nyusul?” yang dilontarkan oleh teman yang sedang menikah di kondangan. Lelah nggak sih~

13. Kalau teman lama tiba-tiba ngajak kumpul pasti mau ngasih undangan

Temen lama tiba-tiba ngechat dan ngajak ketemuan? Hmm… via www.tumblr.com

Di usia-usia kritis ini, dengan lingkungan yang satu persatu sudah ‘hijrah’, bisa kadang membuatmu jadi parnoan. Setiap ada teman lama yang tiba-tiba mengontakmu dan mengajak bertemu, kamu langsung berpikir bahwa dia akan memberi undangan. Padahal bisa saja cuma kangen kan?

Lalu kamu mulai memikirkan siapa yang bisa kamu ajak datang ke pernikahannya. Pusing lagi. Galau lagi.

14. Lebih sedih lagi kalau dapat undangan dari mantan. Sakitnya tuh di sini…

Bagaimanapun mantan adalah orang yang pernah menempati tempat terindah di hati kita. Wajar kalau kamu menaruh kepedulian pada setiap informasi kecil tentang mantanmu. Dengar kabar kalau si dia udah punya pacar baru saja kadang rasanya cekit-cekit, apalagi dapat undangan pernikahan? Rasanya kamu seperti kalah langkah.

Mantanmu saja sudah move on dan maju ke depan. Kamu kok masih gini-gini aja. Mau bilang nggak sedih juga percuma, kalau diam-diam kamu menitikan air mata.

Lalu kamu akan mulai membayangkan, kalau nama mempelai yang bersanding dengan mantanmu di undangan itu adalah namamu… Eits! Jangan ya!

15. Pada akhirnya kamu menyadari bahwa memang sudah saatnya memikirkan pernikahan

Mungkin memang saatnya memikirkan pernikahan via www.thezooom.com

Setelah merenung sekian lama, akhirnya kamu menyerah. Mungkin sudah saatnya kamu mulai memikirkan pernikahan. Kamu yang dulu sebal kalau topik obrolan teman sudah menyangkut pernikahan, kini mulai kepo.

“Eh, gimana sih rasanya nikah?”

“Wueenaaak tenan!”

16. Kamu pun kadang terbawa perasaan dan bertanya-tanya kenapa kamu tak kunjung dapat pasangan yang tepat

Jangan galau, semuanya hanya soal waktu… via hdwallpaperszoo.wordpress.com

Tanpa sadar kamu akan membanding-bandingkan dirimu dengan temanmu yang sudah menikah. Temanmu yang dulu pendiam, tidak pernah pacaran, hanya tahu main game atau baca buku, minggu depan menikah. Kenapa aku masih gini-gini aja? Apa yang salah?

Kamu mulai menilai dirimu sendiri. Rasa-rasanya tidak ada yang salah. Kamu cukup menarik, punya banyak teman, punya pekerjaan yang oke, lalu kenapa tetap tidak punya pasangan? Jangan-jangan kamu terlanjur menutup diri?

17. Tapi tenang, semua memang ada waktunya sendiri-sendiri

tetap bahagia via b-splendid.blogspot.co.id

Semuanya punya momennya sendiri-sendiri. Temanmu menikah mungkin karena memang sudah menemukan sosok yang tepat. Bukankah niat baik seharusnya disegerakan? Kamu belum menikah, mungkin karena sosok yang tepat belum dikirimkan Tuhan padamu. Tidak ada salahnya menunda demi yang terbaik, bukan?

18. Jangan menikah hanya karena semua temanmu sudah menikah

Jangan menikah hanya karena semuanya sudah menikah via kendallpooleeventplanning.tumblr.com

Niat untuk menikah tentunya adalah niat yang baik. Tapi jika didasari alasan karena semua sudah menikah, pastinya menjadi kurang baik. Niatmu bukan lagi untuk menyempurnakan separuh agama, tetapi hanya supaya tidak kalah dengan lainnya. Supaya kamu hits, dan nggak dicap kesepian hanya karena masih sendirian.

19. Toh, menikah bukan cuma soal umur. Jangan menikah cuma karena “Udah usiamu”

menikah bukan cuma soal umur via onthescreenreviews.com

Jangan juga menikah hanya karena umur. Ingatlah bahwa kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan umur. Umur yang banyak tidak menjamin mental seseorang sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga.

20. Menikah adalah soal kesiapan materi dan mental.

menikah bukan cuma butuh pasangan, tapi persiapan… via sweepmeup.tumblr.com

Kamu harus ingat bahwa menikah bukan cuma soal: kita udah lama pacaran, ayo nikah!

Menikah adalah soal hidup bersama yang tentunya kita harapkan selamanya. Banyak hal yang harus kamu persiapkan. Materi jelas penting. Bagaimanapun perekonomian rumah tangga menjadi tanggung jawab kalian berdua. Yang lebih penting lagi adalah mental.

Problematika pernikahan jelas lebih rumit daripada permasalahan pacaran. Karena menikah bukan saja antara kamu dan dia, tetapi juga kamu dan keluarganya, juga kamu dan lingkungannya. Pastikan kamu sudah benar-benar siap sebelum kamu merencanakan pernikahan.

21. Kamu yang menjalani, kamu yang tahu saat yang tepat itu kapan

lihat dirimu sendiri dan cobalah pahami via pll-speculations.tumblr.com

Orang boleh berkata ini itu tentang dirimu. Tapi bagaimanapun, kamu yang paling tahu dirimu sendiri.

Kamu yang tahu apakah kamu sudah siap untuk hidup berdua dengan pasanganmu? Apakah kamu sudah siap jika suatu saat terjadi masalah di rumah tanggamu? Sudahkah kamu merasa mampu untuk menyingkirkan sedikit egomu agar rumah tanggamu berjalan tegak dan kompak? Apa kamu sudah punya rencana matang untuk masa depan nanti? Sudahkah kamu memikirkan tentang anak? Sudahkah kamu memikirkan ini dan itu?

Semua pertanyaan itu bukan keluargamu ataupun temanmu yang bisa menjawab. Tapi dirimu sendiri.

22. Sedikit lebih sabar. Sedikit lebih berusaha. Namanya juga jodoh, kita gak pernah tahu siapa — sebelum kemudian menemukannya

namanya juga jodoh. Gak tahu kapan datangnya via 7-themes.com

Yang namanya jodoh terkadang tidak terduga kedatangannya. Bisa saja tabrakan di stasiun kereta yang membuat buku-bukumu berhamburan akan menjadi awal kisah cintamu. Bisa juga sebuah chat iseng di BBM menjadi pembuka dari kisah romantik dengan pendamping hidupmu kelak.

Sembari bersabar menunggu serta tetap membuka diri, kamu bisa menempa dirimu sendiri untuk menjadi lebih baik. Sehingga saat jodohmu datang, kamu sudah benar-benar siap untuk berumah tangga.

23. Suatu hari nanti, giliranmu akan tiba. Kamu pun akhirnya akan tahu rasa manisnya 🙂

suatu saat, giliranmu. via kennethlimphotography.com

Klise memang. Tapi tidak ada salahnya percaya. Yakinlah bahwa segala usaha dan niat baik kita akan berbuah hasil yang baik pula. Kalau menurut si cantik Ayu Pratiwi gimana ya?