Nama Iqbaal Dhikafari Ramadhan kembali dibicarakan banyak orang setelah kemunculannya dalam konferensi pers film Bumi Manusia (24/5). Pasalnya sang aktor yang jadi fenomenal berkat perannya sebagai tokoh Dilan kini turut serta dalam produksi film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul yang sama.

Pro dan kontra pun timbul. Sebagian kecewa karena tokoh utama dalam Bumi Manusia yaitu Minke akan diperankan oleh Iqbaal. Sebagian masih belum berani menilai karena film yang dibicarakan pun bahkan belum tayang. Sebenarnya ada alasan kuat dari setiap orang yang kecewa maupun yang masih punya harapan. Bukan bermaksud untuk memperdebatkan keduanya, ulasan ini akan membawamu untuk mencoba memahami alasan kedua pihak dan nggak saling berprasangka. Apalagi debat kusir, malu, ah!

Mereka yang kecewa alasannya sudah jelas karena persona Iqbaal yang ‘Dilan banget’ dan hadir sebagai idola milenial. Lebih dari itu, karya sastra Pramoedya nggak bisa jadi taruhannya

Iqbaal dan Mawar Eva. via www.instagram.com

Advertisement

Kekecewaan akan pemeran tokoh Minke ini memuncak setelah Falcon Pictures resmi mengumumkan bahwa Iqbaal yang akan memerankan tokoh Minke. Tokoh Minke di novel roman Bumi Manusia memang digambarkan sebagai pemuda pribumi biasa yang nggak terlalu tampan bahkan cenderung jelek bagi orang Belanda. Minke juga merupakan masyarakat Jawa Timur kelas menengah yang hidup di zaman kolonial. Sedangkan Iqbaal justru terlalu ‘tampan’ dan kurang njawani untuk memerankan tokoh Minke

Kekhawatiran lain yang muncul juga beragam. Salah satunya banyak pembaca yang nggak percaya bahwa karya yang sarat muatan ideologis ini kemudian gagal diterjemahkan ke dalam layar lebar. Apalagi dengan pemainnya yang seolah menggambarkan kalau sang sutradara ingin agar film ini ‘ramai’ daripada menjadikannya ‘bagus’.

Tapi bukankah film ini nyatanya belum tayang? Coba jangan menilai objek yang masih samar-samar begitu

Yang jelas kru harus kerja lebih keras biar nggak mengecewakan semua pihak. via www.instagram.com

Tentunya kita belum boleh langsung menghakimi bahwa film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo akan sangat mengecewakan. Karena toh kita belum menonton filmnya. Kalau mau kilas balik di film sebelumnya, awalnya Iqbaal juga menerima hujatan bertubi-tubi akibatkan memerankan tokoh Dilan. Bagi pembaca novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq, mereka paham betul kalau tokoh Dilan itu haruslah seorang remaja slengean yang jahil tapi pintar, sok tahu, dan tengilnya nggak ketulungan. Kala itu Iqbaal dianggap terlalu kalem dan lugu, bahkan nggak jarang yang meragukan kemampuan aktingnya. Namun siapa sangka, tokoh Dilan jadi fenomenal. Image tengil Dilan pun serta merta melekat ke Iqbaal.

Advertisement

Image tersebut kemudian membuyarkan banyak orang kalau Iqbaal dianggap nggak pantas juga memerankan Minke yang kalem dan intelek. Tapi nggak menutup kemungkinan kalau kesuksesan Dilan 1990 bisa terulang di Bumi Manusia. Nah, selanjutnya kita perlu sabar menunggu dulu untuk menilai film ini tanpa berdasar prasangka.

Nggak jarang, ada yang membandingkan film ini dengan versi teaternya yang berjudul Bunga Penutup AbadDi mana tokoh Minke diperankan oleh (siapa lagi kalau bukan) Reza Rahadian

Teater Bunga Penutup Abad. via tirto.id

Sebelum diadaptasi jadi film, Bunga Penutup Abad telah lebih dulu menggambarkan tokoh Minke dengan Reza Rahadian dan Annelies dengan Chelsea Islan. Tapi apakah kemudian penonton akan lagi-lagi lebih menjagokan Reza Rahadian, si aktor sejuta wajah, dibandingkan menjajal talenta baru di dunia layar lebar?

Sisi positifnya, generasi milenial secara nggak langsung diajak mencintai sastra post kolonial karena sang idolalah yang memerankan tokoh utamanya

Tetralogi Bumi Manusia via www.merdeka.com

Sebenarnya, secara nggak langsung, film Bumi Manusia akan membawa rasa penasaran pada banyak generasi milenial yang direpresentasikan lewat kehadiran Iqbaal. Ada kesempatan utuk memperkenalkan sastra post kolonial yang punya napas begitu berbeda dengan karya-karya kekinian. Lalu perlahan, akan membawa banyak anak muda untuk memahami ideologi yang coba disampaikan Pram, alih-alih hanya menikmati romansa Minke dan Annelies saja.

Sudah, nggak perlu berapi-api dan saling berdebat. Simpan argumenmu sampai kamu melihat filmnya dan bisa menilai ini seacra objektif. Bukankah selalu ada kesempatan bagi semua orang untuk menciptakan sejarah? Begitu pula dengan karya film yang ditampilkan di layar lebar. Good luck, buat dunia perfilman Indonesia!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya