Menyimak Perdebatan Warganet atas Jokes Soal Banjir di Media Sosial. Mending Bantuin Tim SAR gih~

jokes tentang banjir Jakarta

Tahun 2020 diawali dengan banjir yang melanda daerah Jakarta dan sekitarnya. Malam setelah orang-orang melakukan perayaan tahun baru, mereka bangun dengan menemukan rumahnya sudah terendam banjir. Bahkan di beberapa daerah, banjir dengan intensitas curah hujan hingga 337 mm (daerah Halim Perdanakusuma) itu sampai menenggelamkan rumah mereka di lantai dua. Sebuah rezeki melimpah yang nggak diharapkan.

Advertisement

Banyak kalangan menyebut hal ini dampak dari perubahan iklim, bencana alam seperti biasa, hingga menyalahkan pemerintah daerah yang nggak becus menata kawasan administrasinya. Tapi berbeda dengan warganet, ada pula dari mereka yang justru menjadikan banjir Jakarta sebagai bahan bercandaan. Saya bisa memahami sih, mereka melabeli dirinya sebagai sobat santuy yang selalu bisa menertawakan berbagai hal. Tapi bagaimana dengan banjir yang dinilai terparah dalam dekade terakhir ini? Apakah warganet lain bisa menerima lelucon ini?

Lagi, Coki Pardede terjebak dalam jokes yang dia ciptakan nggak lama setelah banjir melanda Jakarta dan sekitarnya

Coki Pardede. via twitter.com

Tampaknya, hal ini luput dari perhatian seorang komedian Coki Pardede. Lagi, dia melakukan blunder yang nggak perlu. Setelah kejadian masak kurma bersama Tretan Muslim tahun lalu, kali ini Coki Pardede terperangkap komedinya sendiri yang dinilai menyingung banyak pihak, terutama korban banjir Jakarta.

Entah dia terdampak banjir atau nggak, lelucon banjirnya yang dia kicaukan di Twitter pada 1 Januari itu, mendapat komentar lebih dari 8 ribu, 4 ribu retweet, dan 12 ribu likes lebih. Mayoritas komentar tersebut tentu berisi kalimat ngegas yang nggak mengenakkan. Pasalnya, mereka merasa tersindir dengan jokes seperti itu. Dilanda bencana, dibercandain kayak begitu, kesal sih.

Dzawin Nur dan komika lainnya pun menanggapi jokes Coki Pardede. Kali ini nggak ada yang sepakat sama dia~

Nggak lama kemudian kicauan Coki Pardede tersebut mendapat tanggapan dari Dzawin Nur, rekan seprofesinya, yang merasa berseberangan dengan dirinya. Dalam utas tanggapan yang Dzawin bikin atas twit Coki, komika yang berhasil sabet juara 3 kompetisi Raja Lawak Malaysia ini menyangsikan profesionalitas Coki sebagai komedian. Dia menilai jokes Coki itu sama sekali nggak menggambarkan pribadi Coki yang katanya toleran dan open minded. Di tengah-tengah bencana seperti itu, dia malah memperkeruh keadaan dengan dark jokes yang entah ditujukan untuk menyindir siapa itu.

Advertisement

Dzawin juga menambahkan bahwa jokes seperti ini layaknya memang jadi konsumsi tongkrongan saja. Sebagai pengingat buat kita semua: nggak semua hal lucu bagi kita bisa berterima dengan baik oleh orang lain. Kita harus tahu audiens kita, kondisi, keadaan, dan timing. Masalahnya, Coki bercanda di waktu yang salah~

Utas Dzawin pun mendapat respons dari beberapa komika, seperti Gilang Baskara, Ernest Prakasa, dan sebagainya, yang juga satu suara dengannya.

Belum usai keributan atas jokes Coki di Twitter, seorang warganet pun membuat twit setipe yang lebih ofensif pada korban banjir dengan kata-kata kasarnya

Hmm~ via twitter.com

Nggak gentar. via twitter.com

Seperti mengobok-obok air keruh, warganet satu ini membuat kicauan yang justru makin memperkeruh keadaan. Jujur saja, saya baca twit ini saat baru bangun di pagi hari. Wah, jadi auto-melek, Gaes!

Coki Pardede sempat membalas twit tersebut, “Hi, pasti ga baca twit saya kemarin.” Dan orang tersebut malah merasa nggak bersalah atas twit ofensifnya itu. Hmm, kenapa nggak introspeksi dan nggak usah membela diri saja sih? 🙁

Duh, rasanya kita nggak perlu membahas lebih lanjut twit ini, ya. Selain karena akunnya (sempat) digembok, dan sorenya menghapus twit tersebut, membacanya pun jadi makin kesal. Lagi pula, sudah banyak kok warganet yang marah dengan twit warganet tersebut, jadi mending kita nggak usah terpancing juga, ya. Oh, ya, dia juga sudah memberi klarifikasi dan minta maaf kok dengan caranya sendiri.

Hatta, sebenarnya, sejauh mana sih batasan kita untuk berkomedi atas sebuah tragedi?

Pada dasarnya, tragedi disertai waktu yang tepat akan menghasilkan sebuah kelucuan. Itu pun dengan beragam syarat. Tapi yang perlu diperhatikan betul adalah masalah waktu; kapan kita bisa menjadikan tragedi itu sebagai komedi. Atau, kalau memang kamu pengen banget membuat lelucon, kamu harus menjadi korban atau objek, seperti contoh video di atas. Nah, itu baru lucu, kan~

Syahdan, saran dari saya, mending belajarlah untuk berempati. Meskipun kamu nggak tertimpa musibah dan nggak bisa bantu apa-apa, cukup diam. Ya, kalau mau dibilang simpati, ucapkan saja dukacita. Beres.

Untuk meringankan korban banjir Jakarta, bantu Hipwee mengumpulkan donasi di kitabisa.com, yuk. Klik tautan di sini, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Senois.

CLOSE