Kalau lagi iseng, yuk kita coba bandingkan sinetron Indonesia dan drama Korea. Kenapa sinetron Indonesia banyak banget haters-nya, dan drama Korea banyak banget yang suka. Padahal kalau dipikir-pikir, baik sinetron Indonesia dan drama korea sama-sama punya sisi dramatisnya. Kalau soal tangis menangis, aktris kita juga nggak kalah jagonya dengan artis Korea.

Berdasarkan penerawangan Hipwee, sebenarnya sinetron Indonesia itu bisa aja dibuat se-OKE drama Korea kok. Bukan berarti harus copy paste cerita, atau drama Korea dibuat versi Indonesianya gitu, bukan. Sinetron Indonesia masih bisa diselamatkan, karena kalau aja sinetron Indonesia bisa dibikin begini, mungkin kita juga nggak benci-benci amat sih…

1. Setting cerita dibikin oke punya. Kehidupan tokoh di luar masalah cinta-cintaan harusnya gak cuma jadi pajangan aja!

Nggak cuma cinta-cintaan, kehidupan dokter juga dijelaskan via www.dramafever.com

Kalau kita lihat-lihat lagi, cerita drama Korea nggak kalah dramatisnya dengan cerita sinetron Indonesia. Nangis-nangis juga. Cinta-cintaan dan galau-galauan. Kalau ceritanya tentang anak sekolah, ada bully-bullyan juga. Geng-gengan juga hal yang biasa. Kalau ceritanya tentang orang dewasa, sama juga pasti ada orang yang nggak setuju dengan hubungan dua tokoh utama.

Bedanya, kalau di drama Korea, setting ceritanya kuat. Kalau tokohnya seorang dokter, kita sebagai penonton juga disuguhi kehidupan seorang dokter itu gimana, mulai dari ngadepin pasien sampai pas di ruang operasi. Sementara kalau di sinetron Indonesia, mau tokohnya pengusaha, dokter, guru, atau apapun, adegannya sama aja: makan bareng, berantem, nangis, dan ngegalau. Kadang malah nggak jelas si tokoh ini kerjanya apa. Kalau sinetron Indonesia bisa begitu, pasti keren banget tuh mengupas kehidupan dokter, polisi, politikus, pengusaha, sampai tukang becak.

2. Adegan-adegan klise yang ada sejak dahulu kala mungkin bisa dihilangkan, biar kita-kita nggak terus-terusan bilang ‘yaelah…’

Advertisement

adegan klise via www.kapanlagi.com

Ngomongin sinetron Indonesia jelas nggak bisa lepas dari adegan-adegan klise nan absurd yang ada di sana. Mulai dari adegan mau ketabrak yang bukannya lari malah siap-siap, adegan kepleset terus jatuh ke pelukan mantan, sampai habis kecelakaan lalu amnesia. Adegan-adegan itu tuh yang bikin sepanjang nonton kita-kita selalu bilang ‘yaelah…’. Kalau itu dihilangkan, mungkin benci kita nggak akan begini-begini amat ya.

3. Bermonolog memang ciri khas sinetron Indonesia (yang nggak bisa dibanggakan), tapi kalau dihilangkan justru akan bikin penonton penasaran.

monolog bikin nggak surprise lagi via www.blogger.com

“Lihat saja nanti. Sampai kapanpun, nggak akan kubiarkan dia memiliki Mas Ardi!”

Sinetron Indonesia tanpa adegan monolog tokoh-tokohnya pastinya bukan sinetron Indonesia. Jadi penonton nggak pernah dipusingkan menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya atau gimana rasanya jadi tokoh utama. Semuanya udah jelas, diutarakan keras-keras, meski konon katanya suara hati. Kalau aja, porsi monolog-monolog itu dikurangi, dan penonton dibiarkan penasaran apa isi hati si tokoh A dan tokoh B, dan tersika menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya, mungkin sinetron Indonesia masih worthed untuk ditonton.

4. Jalan cerita memang nggak harus spektakuler. Cerita sederhana bisa bagus juga asal dibuat dengan alur yang nggak menyiksa logika.

Alur cerita via www.muvila.com

Sebuah alur cerita nggak harus spektakuler dan mengguncang dunia. Nggak perlulah ngikutin trend dunia yang sedang gandrung cerita vampire-vampiran dan serigala-serigalaan. Namanya juga sinetron, yang menceritakan kejadian sehari-hari. Tapi kejadian-kejadian biasa bisa jadi cerita luar biasa asal diceritakan dengan alur yang jelas dan nggak menyiksa logika kita. Sayangnya selama ini sinetron kita lebih sering menyuguhkan alur-alur yang nggak jelas dan bertanya-tanya: sebenarnya ini ceritanya tentang apa?

5. Kebiasaan memanjangkan cerita selama penonton masih ada ini juga nggak banget. ‘Kan bosan kalau dari SMA sampai lulus kuliah masih disuguhi sinetron yang sama.

Yang nggak kalah khas dari sinetron kita adalah episodenya yang tak terbatas. Asal rating tinggi dan masih ada yang nonton, sinetron bisa punya episode sampai ratusan. Masalah jalan cerita bisa fleksibel untuk dikembangkan sesuka hati. Nggak percaya?

Coba itu sinetron Tukang Bubur Naik Haji, sampai 3 kali lebaran sinetronnya nggak kelar-kelar. Kalau nggak salah, sampai tukang buburnya udah nggak jualan bubur dan bahkan sampai udah meninggal, sinetronnya masih jalan. Atau nggak, sinetron Cinta Fitri yang (dengan membanggakan) sampai season ke-7! Kreatifitas orang Indonesia memang tiada dua. Tapi bosan juga nggak sih kalau kita dari SMA sampai lulus kuliah, masih nonton sinetron yang sama meski ceritanya sekarang udah tentang anak cucu si tokoh utama?

6. Kita ‘kan kaya dengan cerita sejarah. Kenapa nggak ada yang tertarik bikin sinetron setting kerajaan tapi yang minus adegan elang-elangan, ya?

kendaraan baru: elang-elangan 🙁 via forum.idws.id

Kalau kamu penggemar drama korea, pasti nggak asing dengan drama-drama yang bersetting kerajaan seperti Jewel In The Palace atau Queen of Soendeok. Meski bersetting tradisional dan pemeran-pemerannya juga memakai baju tradisional, drama bersetting kerajaan ini nggak kalah populernya dibanding drama-drama modern. Indonesia juga punya kok kisah-kisa sejarah dalam kerajaan yang bisa diangkat menjadi tema cerita. Iya sih, sampai saat ini ada beberapa sinetron Indonesia yang mengangkat setting kerajaan seperti Tutur Tinular, Minak Jinggo, sampai Gajah Mada. Tapi mbok ya itu elang-elangan dan naga-nagaannya dihilangkan, biar lebih enak dilihat?

7. Kalau dipikir-pikir, sinetron kita pernah ada yang bagus juga. Si Doel Anak Sekolahan dan Dunia Tanpa Koma bukti bahwa kalau mau, kita bisa sinetron bagus juga.

sinetron Indonesia pernah bagus juga via www.wikiwand.com

Tapi nggak semua sinetron Indonesia itu ‘apa banget’ dan nggak layak dilihat kok. Kalau kita nostalgia ke zaman dulu ada juga sinetron-sinetron Indonesia yang kece badai dan bermanfaat bagi moral bangsa. Kalau mau, kita bisa juga kok punya sinetron yang bagus. Anak era 90an pasti kenal sinetron Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara yang selain ngurusin cinta-cintaan, juga menampilkan problematika keluarga yang sesuai dengan realita. Kamu yang anak 2000an, pernah dengar sinetron Dunia Tanpa Koma? Yup, satu-satunya sinetron Dian Sastro yang mengangkat tema kehidupan wartawan ini juga oke banget untuk kamu tonton lagi sekarang.

Sinetron Indonesia memang unik. Haters dan penggemarnya sama banyaknya. Meski dihujat habis-habisan, yang nonton juga banyak. Bolehlah kita berharap suatu saat nanti sinetron Indonesia bisa lebih oke dari sekarang. Jadi kita nggak perlu keluar uang untuk beli DVD korea atau beli kuota internet buat nonton streaming drama korea. Ehehehe…