Kabar tentang kekerasan yang terjadi di institusi pendidikan akhir-akhir ini tentu membuat kita prihatin. Dua kabar kurang mengenakan terkuak ke pelbagai lini media dalam rentang waktu yang berdekatan. Pertama, kabar tentang guru musik yang tewas setelah dipukuli oleh muridnya sendiri. Kedua, kabar viral mengenai kepala sekolah yang dianiaya oleh wali murid setelah sang anak mendapat teguran dan menulis surat pernyataan.

Dari kasus tersebut, murid yang seharusnya menghormati guru malah berlaku kurang ajar. Minta dididik supaya pintar kok kalau ditegur atau diingatkan malah naik pitam? Kasus kedua malah lebih parah, bapaknya balik marah kepada gurunya. Ya, mbok nggak usah disekolahin aja kalau nggak mau ditegur. Padahal sejatinya kalau kita hormati, guru akan balik menaruh hormat dan bisa menjadi teman yang asyik bagi kita. Contohnya seperti beberapa contoh hubungan asyik dan seru antara guru dan murid di bawah ini. Kalau sudah seperti teman, pasti kegiatan menimba ilmu akan terasa mengasyikan.

Sejatinya kalau kita hormati, guru akan balik menghormati kita. Dan bukan nggak mungkin ia akan menjadi teman baik nan akrab bagi para murid

Bahkan guru yang satu ini juga bisa diajak seru-seruan main band bareng muridnya. Ya, meski cuma lipsync, tapi patut ditiru hubungan kekompakan murid dan guru ini

Advertisement

Di sekolah lu ada gak guru begini,,keren bro wkwkwkwk :v#CanonRocksumber: FB Ilham D'Ace

Geplaatst door Pelajar Indonesia op donderdag 21 september 2017

Selain menambah teman, mengakrabi guru juga bisa membuat proses belajar mengajar menjdi lebih efektif karena sudah sama-sama memahami satu sama lain

Aksi kompak juga ditunjukkan oleh sang guru yang menggilai klub bola Juventus ini. Nyanyi bareng gini, seru banget, kan?

Kekompakan murid dan guru Juventini ini bahkan sampai viral beberapa waktu yang lalu. Saat itu, mereka berfoto meniru selebrasi Paulo Dybala, lalu sang guru menggunggahnya ke Instagram dan di-repost oleh bintang Juve tersebut

Juventus till die via www.instagram.com

Buat kamu anak kekinian, ketika kamu sudah mengakrabi guru, mereka tentu akan senantiasa mudah untuk diajak seru-seruan. Contohnya guru gaul di bawah ini yang ikutan dalam tantangan internet, tepatnya #BusChallange

Yang ini juga patut ditiru. Satu sekolah, baik guru maupun murid kompak mengikuti tantangan #MannequinChallange. Gimana, ternyata asyik, kan, seru-seruan bareng guru ?

Namun para guru juga perlu memerhatikan cara mereka mendidik juga. Mendidik harus sabar karena murid juga punya latar belakang dan watak yang berbeda-beda. Prinsipnya sama, hubungan kausalitas, kalau guru menghormati murid, niscaya murid juga akan menaruh hormat kepadanya

Terkait bagaimana hubungan guru-murid, sejatinya semua sudah ada dalam falsafah Jawa tentang guru. Guru merupakan akronim dari “digugu lan ditiru“. “Digugu” berarti artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya bisa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh murid. Lalu, “ditiru” artinya seorang guru harus menjadi suri teladan bagi muridnya.

Advertisement

Memang falsafah Jawa tersebut ditujukan kepada guru. Namun konsep tersebut juga relevan jika dirujuk dari sudut pandang murid. Para murid mesti percaya bahwa apa yang disampaikan oleh para guru adalah suatu kebenaran sekaligus dapat dipercaya. Jadi ketika ditegur, ya, harus menerima karena mereka tentu punya maksud dan tujuan yang baik bagi kita.

Itulah tadi beberapa kekompakan antara guru dan murid yang semestinya dijadikan inspirasi bagi dunia pendidikan sekarang—khususnya hubungan antara guru dan murid. Intinya adalah saling memahami dan percaya. Saling hormat satu sama lain, niscaya kegiatan belajar mengajar akan semakin seru sekaligus menyenangkan. Kalau kamu, pernah seru-seruan apa bareng gurumu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya