Berjilbab merupakan kewajiban seorang muslimah yang sudah berakhil balig. Namun, banyak juga cewek-cewek yang katanya beragama islam tetapi belum memakai jilbab. Namanya juga perjalanan spiritual, butuh ketetapan dan kesiapan hati untuk melakukannya. Dalam rangka ramadhan, banyak kisah dan pengalaman perempuan yang memutuskan berjilbab dibagikan di dunia maya. Pasti sangat inspiratif sekali ya, Hipwee juga ingin ikutan membagi  beberapa pengalaman inspiratif berjilbab versi Hipwee. 

Kapan lagi coy, Hipwee memberikan hiburan yang inspiratif seperti ini?

Kisah inspiratif #1: “Sebuah perhelatan besar di masa SMA membuatku terpanggil. Aku memutuskan untuk berjilbab…”

Hai dunia! via www.pulsk.com

Advertisement

Mulanya, aku sangat tidak peduli dengan penampilanku sebagai seorang anak perempuan. Meski berasal dari keluarga muslim, bisa dibilang aku cewek yang tomboy. Teman-temanku sebagian besar laki-laki dan aku selalu bergaul bebas dengan mereka. Bukan pergaulan bebas lho! Maksudnya, bisa pergi nongkrong sesantainya dengan teman cowok. Beberapa dari mereka pun pernah jadi pacarku.

Aku bersekolah di sekolah negeri, seragam kami ada beberapa pilihan. Untuk yang cewek boleh pakai rok panjang atau pendek, boleh berjilbab, boleh juga tidak. Aku pun memilih rok pendek selutut dan atasan lengan pendek, karena memang sehari-hari aku nggak memakai jilbab. Bayanganku, memakai jilbab itu panas, nggak cocok untukku yang banyak bergerak di ruangan terbuka.

Sampai suatu hari, ada yang mengubah pandanganku. Aku sangat ingat waktu itu Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat, katanya. Setiap Bulan Ramadhan, di sekolahku ada pesantren kilat. Di pesantren kilat itulah, aku mulai meneguhkan hatiku. Di sana, aku tak bisa bertemu teman-teman cowok dan terpaksa aku mencoba berteman dengan teman cewek. Dan pada saat itu pula aku memutuskan untuk memakai jilbab. Iya, akhirnya aku memutuskan untuk berjilbab karena peraturannya harus begitu.

Advertisement

Tiga hari dua malam aku bergaul dengan teman-teman cewek dan memakai jilbab. Selepas pesantren kilat aku merasakan sebuah kelegaan. Akhirnya, aku dapat bermain lagi bersama teman-teman cowokku dan berpakaian seperti sebelumnya.

Kisah inspiratif #2: “Sebuah permintaan sederhana, meluluhkan hatiku…”

Beraneka ragam jilbab via jancok.com

Bisa dibilang, aku cewek modern yang selalu berdandan modis. Rambutku selalu berganti-ganti model. Kadang kubiarkan panjang terurai, kadang kukeriting, kadang diberi poni, pernah juga kupotong pendek. Pokoknya, harus sesuai tren yang berkembang. Sampai suatu hari aku bertemu dengan dia yang sebentar lagi menjadi suamiku. Sebenarnya, dia cowok yang biasa saja. Sama-sama modern dan modis juga sepertiku. Kami bertemu waktu ada diskon besar-besaran tengah malam di suatu mall. Dia pun nggak masalah dengan penampilanku. Singkat kata, dia menerimaku apa adanya.

Sampai suatu ketika, aku diajak ke rumahnya dan diperkenalkan pada orang tuanya. Aku cukup deg-degan pada saat itu. Aku harus dandan maksimal supaya kece badai di depan orang tua, terutama ibunya. Ketika bertemu ibunya, aku pun terkejut. Ibunya begitu sederhana dengan jilbab panjang yang menutup hingga dada. Di usianya yang sudah berumur, ibunya tampak memancarkan aura kecantikan. Aku mulai penasaran dengan krim malam yang digunakan beliau. Aku pun memutuskan untuk berbincang dengan ibunya. Mencoba menanyakan krim malam sambil mengakrabkan diri. Lumayan kan, sambil menyelam minum air. Belum sempat aku bertanya, belia berkata bahwa sebenarnya dia sangat ingin punya mantu yang juga berjilbab. Aku terhediam sesaat dan berpikir. Sungguh permintaan sederhana yang sayang jika tidak dipenuhi.

Akhirnya, setiap kali ke rumah pacarku atau akan bertemu ibunya, aku memutuskan untuk memakai jilbab. Selain itu, aku tetap berdandan modis seperti biasa. Setelah menikah nanti, entah lah aku harus bagaimana.

Kisah inspiratif #3: “Dengan berjilbab, aku merasa semakin dekat dengannya”

Mendapat imam yang baik via beautifulandmodest.tumblr.com

Tak seperti cewek-cewek yang lain, tak banyak cowok yang melirikku. Bahkan, bisa dibilang nggak ada sama sekali. Masa SMA, gak ada yang ngasih aku cokelat di hari Valentine. Masa-masa kuliah pun sama suramnya. Aku tahu, mereka tak tertarik padaku mungkin karena rambutku kusut dan acak-acakan. Aku memang malas merawat rambut sampai akhirnya rambutku banyak yang kehilangan pigmen alias beruban sebelum waktunya.

Waktu kuliah rambut yang putih semakin banyak. Akhirnya supaya nggak malu, aku menutupinya dengan topi yang kugunakan ke mana-mana, bahkan saat ke kampus. Suatu hari, saat aku berjalan di kampus, ada angin besar dan topiku terbang. Aku panik dan buru-buru sembunyi ke ruangan terdekat. Di ruangan itu aku menemukan kain putih yang bisa aku gunakan untuk tutup kepala. Kemudian aku sadar, aku berada di dalam musholah kampus. Buru-buru, aku keluar sambil masih memakai kain penutup kepala yang ternyata mukenah. Keluar musholah, aku bertabrakan dengan seseorang. Di situ kami bertemu. Dia terkejut mengucapkan astaghfirullah setelah menabrakku. Matanya tidak menatapku sama sekali. Dia tersenyum mengucapkan salam dan namanya, yang kubalas dengan salam dan menyebutkan namaku. Beberapa hari kemudian, dia datang ke rumahku bertemu orang tuaku dan meminangku. Kepada orang tuaku, dia berkata bahwa senang denganku karena aku selalu memakai jilbab panjang dan rajin ke musolah.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk memakai jilbab. Di samping bisa menutup rambutku yang rusak, aku juga mendapatkan jodoh. Oh ya, sub judul di atas ada kata ‘-nya’ dengan huruf kecil yang memang bukan typo, ‘-nya’ di sini merujuk pada dia, lelaki itu, bukan Sang Pencipta.

Begitulah kisah cewek-cewek fiksional yang memutuskan berjilbabJelas, kisah-kisah tersebut sama sekali nggak inspiratif dan nggak layak ditiru.

Karena kalau kamu ingin berjilbab, buatlah itu sebagai pilihan hatimu dan karena Sang Pencipta, bukan karena terpaksa atau diminta orang lain.

Dan yang pasti bukan karena mau ikutan-kutan dan pamer di media online 😉

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya