Belajar dari Kontroversi RCTI, Kita Bisa Mengerti Bahwa Pendewasaan Nggak Sebercanda itu~

Kontroversi RCTI dan pendewasaan

Beberapa hari terakhir, khalayak dihebohkan dengan kabar stasiun televisi swasta RCTI dan iNews melakukan gugatan ke MK mengenai penyiaran di internet. Masalahnya, langkah ini bakal jadi malapetaka bagi masyarakat kalau sampai gugatan ini berhasil, sebab aktivitas siaran langsung lewat platform media sosial dinilai akan menjadi ilegal alias streaming atau Instagram live yang kamu lakukan bisa dipidanakan~

Advertisement

“Perluasan definisi penyiaran akan mengklasifikasikan kegiatan seperti Instagram TV, Instagram Live, Facebook Live, YouTube Live, dan penyaluran konten audio visual lainnya dalam platform media sosial diharuskan menjadi lembaga penyiaran yang wajib berizin. Artinya, kami harus menutup mereka kalau mereka tidak mengajukan izin.” – Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kominfo Ahmad M. Ramli (antaranews.com).

Terlepas dari keputusan yang disebut warganet sebagai bentuk “iri” dan “kalah saing” itu, ada hal yang bisa jadi renungan buat kita, khususnya anak muda Indonesia, bahwa menjadi dewasa nggak bisa sebercanda itu. Simak ulasan berikut, yuk!

Jika diibaratkan sebagai manusia, usia 33 tahun adalah usia yang sudah matang dalam banyak sisi. Namun dewasa, nggak hanya sebatas angka, kan~

Dewasa itu mikir. via www.pexels.com

Kalau kamu googling, usia RCTI saat ini hampir menginjak 33 tahun. Jika diibaratkan sebagai manusia, itu berarti umumnya ia sudah memiliki keluarga kecil yang tengah struggling menghadapi era modern (plus pandemi). Di usia ini pula, biasanya orang dianggap telah dewasa, mengingat umur yang sudah nggak bisa dikategorikan sebagai anak muda, apalagi remaja. Namun dewasa, nyatanya nggak hanya sebatas angka, ya. Toh, RCTI yang berusia 30 tahun lebih aja masih melakukan tindakan yang sedemikian rupa sehingga membuat masyarakat khawatir akan kegiatannya di media sosial yang sangat terbatas dan bisa terancam pidana pula.

Advertisement

Banyak yang bilang, menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Paling nggak, kita bisa memilih harus bersikap seperti apa ketika tua nanti

Rasanya nggak sedikit orang yang sepakat dengan pepatah, “Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan.” Dalam arti luas, menjadi dewasa itu bisa dilihat dari segi cara berpikir, bersikap, pandangan hidup, dan sebagainya. Bahkan KBBI edisi terbaru mengatakan bahwa dewasa itu berarti bukan kanak-kanak atau remaja lagi; telah mencapai kematangan kelamin.

Advertisement

Dewasa memang butuh perjuangan, dewasa adalah proses panjang, yang nggak bisa kita dapatkan secara instan.

Menjadi dewasa berarti kita harus bisa bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri, kesadaran dalam mengambil keputusan yang lebih bijak, kemampuan untuk bisa beradaptasi dan mandiri, menjadi kuat secara lahir dan batin, hingga mampu melepaskan diri dari jebakan masa lalu.

Menjadi tua dan tumbuh dewasa berarti harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ibu-bapak kita yang jaya di era surat dalam berkomunikasi aja sekarang bisa menyatakan rindu lewat video call

Tagar #RCTI trending beberapa hari ini. via twitter.com

Ingat nggak, bagaimana ibumu berjuang sekuat tenaga untuk bisa menggunakan smartphone dan WhatsApp untuk menghubungimu yang jauh di tanah rantau? Atau ayahmu yang ngotot pengin punya akun Facebook biar bisa gabung di grup FB bapak-bapak? Begitulah sewajarnya, para orang tua (yang tentu telah tumbuh dewasa) harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Nggak mungkin, kan, orang tuamu harus menulis surat, diantar ke kantor pos, dan menunggu balasan darimu beberapa hari lamanya, padahal hanya pengin tahu keadaanmu yang jauh dari rumah itu?

Ya, sewajarnya juga, stasiun televisi milik MNC Group itu melakukan hal yang sama seperti ibu-bapak kita, beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman. Iya, to?

Seperti penjabaran sebelumnya, menjadi dewasa berarti kita harus mampu beradaptasi dan melepaskan diri dari masa lalu. Saya rasa RCTI masih setengah sadar terjebak dalam mimpi masa lalunya yang penuh kejayaan, sehingga menjadi kalang kabut ketika melihat jumlah pengguna media sosial yang merangkak naik dan lambat laun meninggalkan tayangan televisi. Pun kita yang telah melewati usia seperempat abad, sudah saatnya kita bisa bersahabat dengan ekspektasi utopis, cobalah untuk bisa mengikhlaskan masa lalu, dan menyadari bahwa kita nggak hidup dalam masa yang stagnan. Dewasa memang butuh perjuangan, Gaes.

“We are dangerous when we are not conscious of our responsibility for how we behave, think, and, feel.” – Marshall B. Goldberg

Jadi, bagaimana jalan tengah yang bijak untuk mengatasi kontroversi RCTI dan iNews yang menggugat penyiaran internet ke MK?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senois.

CLOSE