5 Kutipan Bu Tejo yang Nyelekit di Kuping, tapi Sarat Akan Kritik Sosial. Bisa Jadi Renungan nih!

Kutipan bu Tejo

Karakter bu Tejo dalam film pendek “Tilik” masih hangat menjadi buah bibir warganet. Tokoh yang diperankan Siti Fauziah Saekhoni ini dianggap sukses merepresentasikan emak-emak julid. Celetukan dan ekspresi wajahnya begitu nyebelin dalam film garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Advertisement

Tokoh bu Tejo ini memang unik, di balik kejulidannya sebenarnya dia menyimpan kepedulian kepada kehidupan sosial di sekitarnya. Kelihatannya saja antagonis, namun apa yang sejak awal diomongkan terbukti benar adanya. Dan kebetulan, Hipwee Hiburan menangkap bahwa dialog Bu Tejo sarat akan kritik sosial yang bisa jadi renungan bersama. Simak ulasannya!

1. Ketika bu Tejo mempromosikan suaminya menjadi lurah, dialog ini muncul. Kutipan yang menggambarkan realitas bahwa kita butuh pejabat yang cekatan dalam segala hal

Pejabat harus tangkas. via www.youtube.com

Dialog bu Tejo yang satu ini nggak bisa dimaknai secara sembarangan, sebab di dunia nyata masalah seputar kinerja pejabat yang lamban masih terasa adanya. Bu Tejo adalah perwakilan rakyat yang nggak pengin diberi janji-janji manis. Rakyat butuh bukti nyata kebijakan yang berguna. Rakyat butuh pejabat yang tangkas dalam bekerja. Hidup bu Tejo!

2. Kutipan yang satu ini mestinya dijadikan renungan buat kita semua. Sudahkan kita memanfaatkan ponsel dengan bijaksana? Atau emang cuma buat mejeng aja?

Bijaksana dalam memakai ponsel. via www.youtube.com

Perkembangan zaman memudahkan kita semua dalam banyak hal. Kini akses informasi bisa dengan mudah didapat dari ponsel pintar kita, tapi apakah kita sudah benar dalam menggunakannya? Sudahkah kita memaksimalkan potensi dari kemajuan zaman ini? Atau kemudahan ini malah jadi alat yang menjerumuskan kita pada perbuatan yang sia-sia dan merusak? Yang bisa jawab tentunya kamu sendiri.

3. Banyak banget nggak sih pejabat-pejabat yang baru terpilih tapi bisa beli ini-itu? Padahal gajinya juga nggak seberapa? Hayoolooo~

Kritik budaya korupsi. via www.youtube.com

Keresahan bu Tejo ini sejatinya lumrah. Dalam hidup kita kerap mempertanyakan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Nggak terkecuali tentang nasib dan rezeki. Kita sudah merasa banting tulang, kerja setiap hari, pergi pagi pulang malam, tapi kok nggak kaya-kaya? Tapi kok ada orang yang baru menjabat sebentar, entah itu jadi kepala desa, camat, DPR, politikus, PNS, dan lain-lain, kok bisa kaya dalam sekejap mata? Hmm~

4. Masih banyak kasus penegakan hukum di negeri ini yang terkesan nggak punya nurani. Sialnya, pelakunya aparat penegak hukum yang seharusnya berpijak pada kebenaran

Perwakilan keresahan rakyat. via www.youtube.com

Petani dipukuli karena membela lahannya, aktivis ditanggap saat demo, nelayan ditangkap karena melawan pendirian pabrik yang merusak, media diretas, dan lain sebagainya masih terjadi hingga sekarang. Dan seringnya peran aparat penegak hukum nggak jelas di sana. Mau bela kebenaran, rakyat, atau apa sih sebenarnya?

5. Jangan gampang nyerah kalau ada masalah. Sudah seharusnya kita jadi orang yang solutif

Advertisement

Saran buat kita semua. via www.youtube.com

Khusus yang satu ini, dialog bu Tejo sepertinya bisa jadi kritik yang membangun buat kita. Sebagai insan, kita mudah sekali menyerah ketika mendapat sebuah masalah. Padahal adanya masalah justru bisa membuat kita berkembang asal kita berani mengahadapinya. Kalau ada masalah, hadapi. Cari solusinya! Kalau pun gagal, toh pada akhirnya ada pelajaran yang bisa dipetik.

Itulah beberapa hal yang bisa dimaknai dari dialog-dialog bu Tejo. Ada hikmah yang bisa digali dari ungkapan-ungkapannya yang terdengar nyelekit. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalau warganet lain mah jelas, mereka cuma pengin jadiin dialog tadi sebagai meme doang. Bercanda aja teroooos!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE