Mengantar Sekar Menemui sang Pacar – Chapter 2

kisah horor ojol chapter 2

*Hipwee Premium kini hadir dengan ragam baru. Bukan cuma menyajikan cerita horor yang riil, Hipwee Premium akan menyapamu dalam bentuk cerita fiksi. Seperti edisi kali ini yang menceritakan seorang tokoh yang berprofesi sebagai ojol (ojek online). Tutup pintu kamarmu dan baca doa dulu sebelum membaca. Semoga kamu ‘selamat’ sampai ujung cerita~

Jalan Sumbersari, Kota Malang, Pukul 21.00 WIB.

Sekar semakin menunjukkan gelagat aneh. Aku cuma bisa bengong sewaktu ia menunjuk ke pinggir jalan. Dia bilang, seseorang memanggilnya. Namun, berbeda dengan apa yang dikatakannya, aku tak melihat apa-apa.

“Mbak, itu kan…” kataku dengan perasaan bingung dan pikiran yang bertanya-tanya. “…Kan nggak ada siapa-siapa,”

“Bapak nggak lihat? Itu lo, Pak!” kata Sekar dengan tetap menunjuk ke arah lahan kosong di pinggir jalan.

Aku menggeleng dengan yakin. Keanehan Sekar sejujurnya membuatku nyaliku sedikit ciut. Aku, tipikal orang yang tak percaya tahayul pun, mulai dihampiri perasaan ngeri. Mungkinkah Sekar melihat hantu? 

Namun, aku segera menepis pikiran itu. Bagiku, hantu itu tak ada. Selama Sekar masih menapak pada tanah, maka ia adalah manusia. Mungkin penumpangku satu ini cukup nyentrik. Makanya, ia kerap bertindak ganjil.

“Udah, nggak ada apa-apa mba Sekar. Ayo naik motor lagi. Saya antarkan ke tempat tujuan,” kataku dengan harapan ia sadar dari ketermenungannya.

Sekar nggak menjawab. Menatapku sebentar dan masih dengan senyum yang tak bisa kusebut manis. Senyuman misterius yang mengandung kengerian sekaligus. Meskipun tak berkata apa-apa, Sekar naik kembali ke atas motor. Enggan berlama-lama, aku langsung memacu lagi motor menuju titik pengantaran.

Ketika Sekar meminta rute jalan yang memutar, aku tahu kalau perjalanan yang membutuhkan waktu 15 menitan, bisa jadi molor sampai 30 menit lebih. Kupikir sih, setengah sepuluh malam aku sudah menyelesaikan orderan. Setelah itu, aku bisa berburu orderan lain sebelum menjelang tengah malam. Sayangnya dugaanku salah. Perjalanan justru terasa amat lama.

Pukul 22.00 WIB. Aku melirik jam di ponsel dengan mata membelalak. Gila! batinku. Perjalanan ini seharusnya tak memakan waktu lebih dari setengah jam. Jika dipikir-pikir, aku sudah sampai di tempat. Sementara itu, aku malah masih di Jalan Soekarno Hatta. Aneh.

****

Sulit cari alamat rumah pacar Sekar | Illustration by Hipwee

“Mbak Sekar, benar ini jalannya kan?” tanyaku memastikan.

“Benar, Pak. Ikuti maps aja, Pak, nanti ketemu kok rumah pacar saya,” kata Sekar. Setiap kali menyebut kata ‘pacar’, nada suaranya berubah. Terdengar melengking dan… centil.

Aku mencermati lagi arahan jalan di maps. Walaupun sudah berkali-kali melihatnya, aku yakin sudah mengikuti rte dengan tepat. Namun, aku belum juga menemukan rumah pacar Sekar. Dari tadi aku cuma mutar-mutar di gang yang sama. Berkali-kali melewati toko kelontong dengan patung burung di sampingnya dan bengkel motor yang telah lama ditutup.

“Mbak Sekar, ini kok nggak sampai-sampai, ya?” tanyaku lagi.

“Ah, masa sih, Pak?” Sekar malah balik bertanya. Kali ini, ia bertanya dengan selingan tawa kecil yang sedikit menggoda.

“Betul, Mbak. Kita lo sudah melewati gang ini tadi. Alamat pacar Mbak Sekar sudah benar?”

Aku menuntut kejelasan. Sejujurnya, aku sudah sangat lelah. Perjalanan ini telah menguras energiku. Sejak awal menjemput Sekar, aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk sekadar menemukan alamatnya. Tak kubayangkan, mencari alamat pacarnya pun sesulit ini. Rasa lelah ini akhirnya bercampur dengan kesal.

“Betul kok, Pak,” jawab Sekar, masih dengan tawa kecil.

Aku yang semula menahan sabar, akhirnya menghela napas. Aku yakin, wajahku sudah masam. Kulihat dari kaca spion, Sekar masih duduk tenang di boncengan. Bahkan, ia sempat bersenandung ringan dengan senyum tipis yang nggak hilang-hilang. Sepertinya, ia benar-benar sedang kasmaran. Aku tahu dia senang karena bakal bertemu sang pacar, tapi aku juga patut kesal kalau ia cuma bisa senyum. Ia tampak nggak peduli, meski aku sudah pusing mencari alamat yang ia tuju.

“Jangan kesal gitu dong, Pak,” ucap Sekar.

Aku memilih tak menanggapi dan fokus mengotak-atik aplikasi maps. Mungkin aplikasi maps-ku sedang gangguan. Tapi, titik aplikasi maps-ku sama seperti semula. Titik pengantaran berhenti di gang ini, tapi Sekar bilang daerah ini bukan lokasi rumah pacarnya.

“Mba Sekar, rumah pacarnya yang sebelah mana?” tanyaku lagi.

“Loh, kita udah sampai kok, Pak,” kata Sekar.

“Hah?” Jelas saja, aku kaget.

“Iya, udah sampai nih.” Sekar turun dari bocengan. “Makanya, tadi saya bilang bapak nggak usah kesal.”

Aku makin tak paham dengan ucapan Sekar. Posisi kami masih di pinggir jalan di sebuah gang. Sesuai aplikasi maps, ini memang titik pengantaran, tapi seperti kata Sekar, rumah pacarnya nggak di sini. Lantas, bagaimana bisa ia tiba-tiba mengatakan kami sudah sampai di tempat tujuan?

“Bagaimana bisa mbak Sekar?” Aku masih terus mendesak jawaban yang masuk akal.

“Coba deh lihat ke bawah, Pak Joko,” tutur Sekar.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini