Zaman sekarang, jadi influencer kayaknya udah jadi profesi impian. Bayangkan deh, hanya dengan mengunggah konten iklan, memberikan testimoni produk, dan mengenakan barang bermerek tertentu, lalu diunggah di media sosial sendiri aja bisa mendatangkan banyak cuan. Kaya raya dengan cara yang relatif gampang.

Namun, nggak begitu dengan Adji Santosoputro yang sudah terkenal sebagai seorang emotional healer dan sering mengunggah kata-kata sejuk bagi mereka yang dilanda gundah gulana. Kalau membaca pernyataan Mas Adjie, masuk akal juga lo. Nggak semua orang terkenal di media sosial itu ingin jadi influencer yang banjir endorse kok. Simak uraian Hipwee Hiburan berikut!

Menjadi influencer dan buzzer dari pihak tertentu itu jelas amat menghasilkan. Tapi belakangan ini Adjie memilih buat menghentikannya

Advertisement

Bukan rahasia lagi kalau jadi influencer dan buzzer bisa jadi cita-cita kekinian. Nggak perlu peras keringat dan kerja seharian, menjual engagement dari follower memang bisa dihargai mahal. Banyak perusahaan dan produk yang membutuhkan exposure melalui selebgram dan selebtwit. Namun meski sempat menjadi influencer dan buzzer, Adji memilih buat menghentikannya. Padahal nggak bisa dimungkiri kalau penghasilannya pun sungguh menjanjikan.

Alasan Adjie juga masuk akal kok. Menjual kepercayaan follower-nya ke produk tertentu itu bikin hubungannya dengan follower nggak sehat

Terharu! via twitter.com

Ketika suatu perusahaan dan produk ingin beriklan, mereka kemudian mencari sasaran dan target market yang sesuai. Sementara itu influencer menunjukkan bagaimana interaksi dan keterikatan akun media sosialnya dengan follower yang cukup menjanjikan. Di titik inilah terjalin kerja sama antara pengiklan dan influencer.

Advertisement

Namun menurut Adjie, konsep menjual follower nggak selamanya berbanding lurus dengan tujuannya sebagai emotional healer. Dia ingin kepercayaan follower tetap ada padanya, tanpa adanya perantara-perantara yang justru memanfaatkannya. Salut sih kalau pemikirannya begini, seneng! Adjie bisa benar-benar jadi sosok yang fokus sama tujuan awalnya buat membantu kesehatan mental lebih banyak orang.

Bagaimana pun, kepercayaan follower itu mahal harganya. Kalau influencer mulai jualan produk, takutnya follower mulai beralih. Influencer pun jadi nggak fokus

Kepercayaan itu priceless. via twitter.com

Bagi Adjie, kepercayaan follower lebih mahal dari honor jadi influencer sekalipun. Nggak kebeli deh pokoknya. Tapi bukan berarti dia menyalahkan orang lain yang ingin jadi influencer dan turut mengiklankan produk. Keputusan untuk menjadi sosok yang seperti apa di media sosial kembali pada pilihan masing-masing kok. Beberapa juga nggak sembarangan mengiklankan produk, tapi pilih-pilih mana yang menurut mereka layak.

Keterikatan antara figur media sosial dengan follower-nya memang baiknya saling percaya. Kalau sama-sama memaklumi kan enak jadinya

Contoh unggahan mengandung konten iklan. via hiburan.dreamers.id

Kembali lagi ke diri kita masing-masing. Apakah unggahan figur media sosial yang kita ikuti masih menghasilkan konten sesuai yang kita harapkan atau justru kebanyakan cuma iklan. Tanpa perlu menyalahkan siapa pun, unfollow adalah satu langkah mudah kok. Sebaliknya kalau kita memag benar-benar ngefans, nggak ada juga yang melarang untuk terus mengikutinya sebanyak apa pun endorsement yang mereka lakukan.

Semoga uraian dari Adjie bisa ngasih kita banyak pencerahan, terutama dalam dunia permediasosialan yang nggak ada habisnya ini. Ingat, follow seseorang untuk mnegikuti kontennya, unfollow seseorang juga untuk menghindari konten yang menurutmu nggak perlu. Selain itu, nggak perlu saling menyalahkan pilihan orang lain itulah yang terpenting.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya