Minta Ganti HP Baru, Bocah ini Setujui Kontrak dengan Orang Tua. “Terms and Condition”-nya Bisa Ditiru!

Perjanjian untuk beli HP baru buat anak

Di zaman digital seperti saat ini, rasanya hampir semua orang membutuhkan gawai. Bukan cuma kaum muda, tapi juga orang tua bahkan anak-anak. Karena nggak bisa dimungkiri bahwa gawai memang mempermudah berbagai lini kehidupan kita selama itu dipergunakan dengan benar dan sesuai. Anak-anak zaman sekarang pun sepertinya sudah melek teknologi, sehingga mereka juga membutuhkan gawai ini.

Advertisement

Tapi namanya juga anak-anak, penggunaan gawai mereka harus tetap diawasi, agar nggak menimbulkan hal-hal yang disesali di kemudian hari. Nggak ada salahnya untuk memberikan mereka smartphone selama hal tersebut nggak membawa dampak negatif. Nah, kalau ada anak atau adikmu yang pengen punya ponsel pintar tapi nggak pengen dia menggunakannya secara berlebihan, kamu bisa menerapkan hal yang satu ini. Permintaan mereka boleh saja dituruti, tapi harus diiringi dengan tanggung jawab dari mereka sendiri.

Seorang gadis berusia 10 tahun meminta kepada orang tuanya iPhone baru. Namun orang tuanya nggak pengen ngasih secara “cuma-cuma”

ingin punya HP baru via www.worldofbuzz.com

Dilansir dari laman worldofbuzz, seorang pengguna Twitter bernama Farha menceritakan bahwa sang adik yang bernama Yasmine meminta iPhone baru kepada orang tua mereka. Gadis yang masih berusia 10 tahun itu meminta HP-nya diganti. Sebenarnya orang tua Yasmine nggak mempermasalahkan permintaan anaknya. Tapi mereka nggak mau memberi secara “cuma-cuma”. Oleh karena itu, untuk mendapatkan HP baru yang diinginkan, Yasmine harus menyetujui surat perjanjian atau kontrak yang dibikin oleh orang tua dan kakaknya.

Kedua orang tuanya pun memberikan “surat perjanjian” atau kontrak kepada Yasmine yang berisi syarat dan ketentuan yang harus ditandatangani dan ditepatinya

menyetujui kontrak via www.worldofbuzz.com

Kontrak tersebut tentu nggak dibikin asal-asalan. Bahkan isinya sudah direvisi dua kali karena pengen peraturan atau ketentuan tersebut masuk akal dan bisa ditepati oleh sang anak. Yasmine pun membaca dengan penuh saksama isi dari kontrak tersebut untuk diterapkan selama satu tahun ke depan. Setelah merasa sanggup untuk menepati segala isinya, Yasmine pun menandatangani kontrak tersebut. Jika dia melanggar salah satunya, maka iPhone tersebut harus dikembalikan pada ayahnya. Isinya antara lain:

Advertisement
  1. Salat awal waktu
  2. Isi ulang baterai HP sampai penuh lalu langsung dicabut
  3. Jangan biarkan baterai HP sampai habis karena bisa mengurangi performanya
  4. Tidak boleh menggunakan HP ayah atau ibu
  5. Jangan pernah membawa HP ke toilet
  6. Tidak boleh membawa HP ke sekolah
  7. Tidak boleh menggunakan HP di meja makan
  8. Minta izin terlebih dahulu sebelum mengunduh aplikasi apa pun
  9. Bertanggung jawab terhadap penggunaan kuota. Jika habis, tidak boleh meminta kuota tambahan kecuali diberi
  10. Baca Quran setiap hari atau minimal enam kali dalam seminggu
  11. Tidak boleh menelepon teman saat keluar/bepergian dengan keluarga
  12. Jangan lupa bayar SPP

Orang tuanya menyadari bahwa anaknya lahir di zaman digital. Jadi daripada menolak keinginannya, lebih baik diwujudkan, tapi diiringi dengan tanggung jawab seperti ini

diajar bertanggung jawab sejak dini via www.worldofbuzz.com

Jika dilihat isi perjanjiannya, tentu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan anak seusia Yasmine. Apa yang dilakukan oleh orang tuanya ini semata-mata demi mengajari anaknya untuk bertanggung jawab sejak dini. Apalagi dengan barang yang mereka minta. Ponsel pintar yang diminta tentu harganya nggak murah, jadi dia harus bisa bertanggung jawab selama pemakaian satu tahun ke depan. Selain itu, jika dilihat dari isi kontraknya, sebenarnya orang tuanya juga pengen sekaligus mendisiplinkan anaknya. Jadi kontrak ini semacam win win solution: sang anak mendapatkan apa yang diinginkannya, orang tua juga bisa mendidik dan mendisiplinkan anaknya.

Nah, permintaan anak-anak untuk gadget akhir-akhir ini memang semakin banyak. Bahkan ada yang menangis dan mengancam nggak mau sekolah jika nggak dibelikan. Oleh karena itu, mungkin hal ini bisa jadi salah satu jalan keluarnya. Memberikan kontrak atau surat perjanjian jika mereka menginginkan HP. Soal jenis atau harga, tentu dikembalikan kepada kemampuan orang tua dan kebutuhan si anak.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE