Review Ngeri-Ngeri Sedap, Film Komedi Keluarga Batak yang Sarat Pesan Moral

8.5/10

Secara keselurugan, Ngeri-Ngeri Sedap sangat cocok disaksikan untuk semua kalangan, terutama bagi para perantau yang rindu dengan kampung halaman

Permasalahan keluarga memang menjadi topik yang akan selalu relevan diangkat menjadi sebuah film. Perbedaan pendapat antara anak dan orang tua, permasalahan anak-anak rantau di keluarga, hingga persoalan adat memberikan gambaran nyata tentang dinamika sebuah keluarga di Indonesia.

Advertisement

Lewat keresahan itulah, Bene Dion Rajagukguk menghadirkan sebuah drama keluarga berlatar suku Batak lewat film Ngeri-Ngeri Sedap. Film ini diadaptasi dari buku novel karya Bene Dion yang berjudul sama pada tahun 2014. Ngeri-Ngeri Sedap juga menjadi film kedua yang disutradarainya setelah “Ghost Writer” pada tahun 2019.

Film Ngeri-Ngeri Sedap ramai diperbincangkan di tanah air sejak penayangannya pada 2 Juni 2022 lalu. Dibintangi oleh aktor kawakan Arswendy Bening Swara, Tika Panggabean, dan sederet aktor dan komedian Boris Bokir, Ghita Bhebhita, Lolox dan Indra Jegel, film ini sukses mendapatkan review positif dari para penonton. Pasalnya, mereka sukses dibuat banjir tawa sekaligus air mata lewat film ini.

Ngeri-Ngeri Sedap berkisah tentang keluarga Batak dan keempat anaknya

Ngeri-Ngeri Sedap berkisah tentang keluarga Batak dan keempat anaknya | Credit: @borisbokir_ via Instangam

Bagi kamu yang belum menonton, Ngeri-Ngeri Sedap bercerita tentang keluarga Batak Pak Domu (Arswendy Bening Swara) dan Mak Domu (Tika Panggabean) yang membesarkan keempat anaknya. Mereka tinggal bersama anak perempuannya yang bernama Sarma (Gita Bhebhita), sementara tiga anak laki-lakinya, yakni Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox) dan Sahat (Indra Jegel) merantau ke Jawa.

Advertisement

Awalnya, keluarga Pak Domu tampak baik-baik saja, sampai ketiga anaknya yang merantau bertahun-tahun tidak kunjung mau pulang. Pak dan Mak Domu pun akhirnya mengambil langkah yang ekstrem untuk memaksa mereka pulang kampung untuk menghadiri acara adat, yaitu dengan pura-pura cerai. Tak disangka, kepura-puraan itu membawa permasalahan keluarga yang lebih kompleks.

Sebelum penayangan, penonton tak berekspektasi lebih dengan film ini. Namun, Ngeri-Ngeri Sedap mampu melebihi ekspektasi penonton dengan cerita yang memikat dan pemain yang meyakinkan. Cerita berlatar Batak yang diangkat dalam film ini bisa dikatakan jarang dihadirkan dalam film di Indonesia, tetapi Bene Dion Rajagukguk mampu menghadirkan suasana Batak yang kental didukung oleh crew dan pemain yang berdarah Batak.

Sukses membawakan perannya masing-masing, tetapi minim komedi

Para tokoh sukses membawakan perannya masing-masin | Credit: @ngeringerisedapmovie via Instagram

Advertisement

Seluruh pemain utama dalam film ini merupakan aktor dan aktris berdarah Batak. Hal itu membuat chemistry mereka sebagai keluarga sukses terbangun. Pak Domu dan Mak Domu terbilang sukses menggambarkan orang tua yang peduli dengan anaknya dengan cara yang berbeda. Sementara itu, keempat aktor dan aktris yang memerankan anak sukses mendalami posisi mereka sebagai anak pertama, anak tengah, anak perempuan, dan anak terakhir dalam keluarga.

Anak pertama yang menjadi penerus silsilah keluarga digambarkan sangat realistis dengan sosok Domu yang memilih bekerja sebagai pegawai BUMN. Namun, ia menghadapi permasalahan karena ingin menikah dengan gadis Sunda yang tak disetujui keluarganya. Selain Domu, sosok Sarma juga sukses digambarkan sebagai anak satu-satunya perempuan dalam keluarga yang tidak mudah memperjuangkan pendapat dan keinginannya.

Bagi penonton yang tidak berdarah Batak, konflik yang dihadirkan dalam film ini tetap dekat dan relevan. Konflik yang diceritakan dalam Ngeri-Ngeri Sedap bukan hanya dari kaca mata orang tua memandang anak, tetapi juga sebaliknya. Film ini juga cukup menggambarkan mengenai hubungan suami istri, posisi mertua, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Kamu mungkin berpikir bahwa film ini penuh dengan komedi karena dibintangi oleh rekan-rekan Bene yang sesama pelawak. Namun, buang jauh-jauh harapan tersebut. Pasalnya, unsur komedi dalam film ini hanya digunakan sebagai pengantar saja supaya penonton terbawa dengan alur cerita tentang konflik keluarga.

Kental dengan suasana Batak dengan mengambil latar Danau Toba

Mengambil latar danau Toba yang memanjakan mata | Credit: @ngeringerisedapmovie via Instagram

Selain karakter para tokoh, bahasa sehari-hari yang digunakan sepanjang film juga menambah kental suasana Batak. Hal itu mengharuskan penonton membaca subtitle jika tidak memahaminya. Ngeri-Ngeri Sedap juga membuat penonton semakin hanyut dengan suasana Batak dengan adanya upacara adat, musik, makanan hingga kain ulos adat Batak.

Situasi pengambilan latar rumah di tepi Danau Toba pun mampu memanjakan mata penonton. Rumah yang didesain klasik pun mampu membuat para perantau rindu dengan kampung halaman. Detail-detail kecil seperti suara hituk pikuk kendaraan hingga suara angin di malam hari pun turut melengkapi gambaran kampung halaman di wilayah Danau Toba.

Secara keselurugan, Ngeri-Ngeri Sedap sangat cocok disaksikan untuk semua kalangan, terutama bagi para perantau yang rindu dengan kampung halaman. Film ini akan relate dengan berbagai masalah keluarga yang hampir selalu dihadapi. Meskipun menyajikan cerita sederhana dan cukup ringan, tetapi penyelesaian masalah film ini cukup rapi dan detail. Kamu akan merasakan emosi sekaligus kehangatan dari hubungan Pak Domu, Mak Domu, dan keempat anaknya.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE