Nyuwun Pesugihan – Chapter 4

nyuwun pesugihan chapter 4

Aku seperti menjebak diriku sendiri. Entah kenapa, semenjak mengisap rokok kemenyan yang kata Anwar sudah dimantrai, aku jadi enggan beribadah. Aku lebih banyak merenung dan setiap mau melakukan sesuatu aku tak lagi membaca basmallah. Selain itu, aku pun tidak memahami betul, kenapa bisa-bisanya aku seperti menurut saja dengan semua ucapan Anwar. Berkali-kali aku memikirkan itu, berkali-kali pula aku semakin bingung. Apakah karena sejak saat itu aku telah terikat tali jeratan setan?

Dari kediaman Mbah Murwo, aku langsung minta diantarkan pulang oleh Anwar. Sebelum sampai di rumah, Anwar mengajakku ke supermarket untuk membelikan kebutuhan sehari-hari. Awalnya aku menolak karena merasa tak enak, tapi Anwar memaksa dan akhirnya aku menurut. Lagi pula, persediaan beras memang sudah tinggal satu liter.

Aku lantas masuk ke kontrakan tanpa mengucap salam. Pintu tidak dikunci. Aku mendapati Risa yang sedang duduk beralasan tikar dan tengah menonton televisi di ruang depan. Sementara Rini pasti sudah tidur di kamar.

“Kamu bawa apaan, Mas?” Risa melihat dua kantong plastik putih yang aku tenteng. Aku duduk di sebelahnya seraya menaruh dua kantong itu di tikar di depannya. “Ini ada sembako dari Anwar. Dia juga menitip salam buat kamu.”

Risa memeriksa bawaanku itu. Dilihatnya beras, minyak goreng, gula, kopi, teh, mi instan, sarden, bahkan telur pun ada. 

“Wahhh … banyak banget.” 

Kedua matanya tampak berbinar ceria. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya sebahagia itu. Seketika hatiku makin perih. Tiba-tiba aku ingin menangis di pelukannya, tapi aku tahan keinginan itu mati-matian. Bagaimanapun aku harus lebih kuat di depan Risa.

“Besok saya diajak Anwar ke luar kota untuk beberapa hari, jadi Anwar membelikan kita sembako agar sepeninggal saya, kamu nggak kekurangan,” jelasku kemudian.

Alhamdulillah.” Risa tersenyum semringah.

Aku terkejut Risa mengucapkan rasa syukur itu. “Nggak apa-apa, ‘kan, kalau kamu saya tinggal beberapa hari?”

“Nggak apa-apa, Mas,” sahut Risa cepat. “Kamu ‘kan mau diajak berbinis, jadi kepergiaanmu untuk bekerja. Tentu saja saya izinkan. Saya dan Rini akan menunggumu kembali. Semoga ke depan hidup kita bisa lebih baik.”

“Oh iya, ini ada uang satu juta dari si Anwar buat pegangan kamu selama saya pergi.” Aku menyerahkan uang itu kepada Risa yang terlihat bahagia. 

“Baik banget si Anwar, sampai mikirin ngasih uang segala,” ujar Risa sembari menghitung uang itu.

“Saya pergi paling lama mungkin seminggu.”

“Iya, Mas, gak apa-apa.” Risa menatapku dengan gembira.

Aku tersenyum tipis mendapat harapan besar di wajah Risa. “Kalau begitu saya mau mandi dulu, ya.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis, novelis, script writer, ghost writer, editor. Traveler, bermusik.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi