Nyuwun Pesugihan – Chapter 3

nyuwun pesugihan chapter 3

Setibanya di rumah, aku langsung ke kamar di ruang tengah. Sementara Risa sedang memandikan Rini toilet yang berada di ruang belakang samping dapur. Aku duduk di tepi ranjang dan masih cukup terguncang. Aku sungguh tidak menyangka kalau Anwar menjadi babi ngepet. Rasa bimbang kembali menyergapku dan membuatku menimbang-nimbang. Sebenarnya aku masih bisa untuk tidak menjadi babi ngepet. Aku juga tidak akan mati konyol selama menjaga rahasia yang tadi diingatkan oleh Anwar. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah ketika aku menahan lapar karena tidak ada makanan, melainkan saat aku mendapati Risa yang murung karena tak tahu harus masak apa lantaran ketiadaan uang belanja, serta Rini yang gizinya tidak tercukupi dengan baik.

Aku sungguh bingung, apakah doa dan ibadahku memang tak ada gunanya? Atau, jangan-jangan jalan keluar berupa pesugihan itu adalah bagian dari ujian hidupku?

“Mas, gimana tadi?”

Aku refleks menoleh ke arah pintu. Suara Risa membuatku terkejut dan keluar dari lamunan kekacauan pikiranku. “Tadi saya sudah ngobrol sama si Anwar,” kataku kemudian.

“Kamu dapat kerjaan, nggak?” Risa melihatku dengan tatapan yang penuh harap. Di depannya ada Rini yang baru selesai mandi dan berbalut handuk.

Sungguh, hilang sudah seluruh kekesalanku terhadap Risa. Kini semua itu digantikan oleh rasa kasihan. Aku jadi tidak tega melihat air muka Risa yang tampak kuat dan jengkel, tapi sebenarnya aku bisa bisa mendapati kesedihan mendalam di sana. “Nggak ada kerjaan buat saya, Ris, tapi si Anwar mau ngajak saya berbisnis,” kataku yang entah bagaimana bisa-bisanya menyampaikan hal itu.

Risa tersenyum lega. “Baguslah kalau begitu. Kalau kamu ikut binis sama dia, mungkin nanti kamu bisa juga punya lahan usaha seperti kedai kopi miliknya,” sahutnya kemudian dengan wajah memancarkan harapan akan perubahan hidup yang lebih baik.

“Kalau begitu nanti malam saya akan menemui dia lagi.” Aku tersenyum seraya berdiri. “Sekarang saya mau mandi dulu.” Aku berlalu ke kamar mandi.

Setelah membersihkan diri, aku kembali ke kamar. Aku mendekati lemari pakaian untuk mengambil baju dan celana. Aku yang berbalut handuk hendak membuka daun lemari. Namun, tiba-tiba saja aku tersentak dan berteriak kaget. Pasalnya, aku melihat pantulan cermin lemari baju bukanlah diriku. Aku seolah-olah berubah menjadi manusia babi, di mana seluruh tubuhku berbulu hitam kasar dengan perut buncit. Wajahku pun berbeda, kini hidungku menjadi lemper, dan bermoncong panjang.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis, novelis, script writer, ghost writer, editor. Traveler, bermusik.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi