Nyuwun Pesugihan – Chapter 2

nyuwun pesugihan chapter 2

Aku baru saja selesai salat duha dan masih duduk bersila di atas sajadah. Aku berdoa, kiranya segera bisa keluar dari kesulitan hidup yang tengah mendera. Sementara itu, dalam kekhusyukan, aku mendengar hujan belum juga berhenti sejak turun subuh tadi.

“Mas, bukannya lekas jualan, malah berdoa terus.”

Aku terkejut dengan ucapan Risa. Dia yang tadi sedang menggoreng telur, rupanya kini sudah berada di kamar.

“Salat wajibmu rajin, ditambah salat sunah pula, tapi hidup kita malah makin susah,” cetus Risa dengan nada yang jengkel sekaligus sedih.

Aku mengembuskan napas panjang melalui mulut. Meski aku juga pernah berpikir seperti itu, kali ini aku jadi kesal. “Doa ‘kan bersanding dengan usaha, Ris. Kalau kita sudah berdoa, tapi belum juga berhasil, mungkin ada yang kurang dalam usaha kita. Atau, bisa jadi sebaliknya,” kataku akhirnya mencoba memberi pengertian agar dia bisa lebih bersabar.

“Justru itu, Mas, kamu lekas sarapan, lalu jualan.” Risa duduk di tepi ranjang dengan  air muka yang jengkel.

“Saya mau libur jualan dulu hari ini, Ris,” timpalku sambil melepaskan peci dan melipat sajadah. Aku duduk di sebelah Risa. “Kamu tahu sendiri sudah beberapa hari ini saya merugi. Sekarang saja sedang hujan. Jualan es cendol jarang banget yang beli,” sambungku yang beberapa detik kemudian membuatku menyesal telah mengeluh di depan Risa.

“Katanya hujan berkah, tapi kok malah jadi musibah?” Risa mengusap wajahnya yang tampak lelah.

“Istigfar, Ris. Kamu nggak boleh ngomong begitu.”

Risa malah mencerocos, “Semenjak di-PHK bareng kamu, si Anwar buka kedai kopi di pinggir jalan dekat kelurahan. Kedai kopinya sering ramai kalau malam. Dia terbilang sukses, tuh. Nggak cuma bisa beli rumah, tapi juga punya mobil.”

Perdebatan Doni dan Risa | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Aku tersinggung dan langsung menimpali, “Kenapa kamu malah membanding-bandingkan saya sama si Anwar?”

“Bukan begitu, Mas,” balas Risa dengan cepat. “Kalian ‘kan pernah berkawan baik. Cobalah kamu minta diajak kerja sama dia, atau kamu minta diajari caranya berbisnis. Dia pasti mau membantumu,” lanjutnya menerangkan hal yang sebenarnya pernah aku pikirkan.

Aku yang tadinya disesaki amarah, kini jadi sedih melihat Risa berbicara seperti itu. Aku tahu bahwa aku adalah harapan satu-satunya yang bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Sebagai kepala rumah tangga, sudah seharusnya aku berpikir lebih jernih untuk menemukan jalan lain menuju kesuksesan. Ya, meski itu diawali dengan meminta pekerjaan atau diajari bagaimana memulai usaha dengan baik.

Risa kembali bicara, tapi kali ini dengan nada yang lembut, “Lebih baik kamu temui si Anwar, Mas. Dengan begitu, libur jualanmu nggak sia-sia.” Risa berhenti sejenak. Dia menatapku lebih lekat. Matanya penuh kesedihan dan harapan. “Kontrakan sudah tiga bulan belum kita bayar. Kemarin Pak Rusdi sudah menagih. Rini juga baru masuk SD dan butuh biaya ini-itu, Mas. Kalau memang kamu malu minta kerjaan sama si Anwar, biarlah saya yang menemuinya. Kalau seandainya Anwar memberi saya kerjaan, kamu harus mengizinkan saya bekerja. Kamu—”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis, novelis, script writer, ghost writer, editor. Traveler, bermusik.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi