Gudang Warisan Bapak: Chapter 1

Situbondo, 2014

“Zara, kamu harus pulang dulu. Bapak sakit.”

Masih kubaca berulang-ulang pesan singkat dari Kak Sabit. Bahkan saat bus yang membawaku pulang ke Situbondo sudah hampir sampai, tetap saja aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku adalah satu-satunya anak tiri di keluarga, satu-satunya pula yang tidak terlalu dianggap sejak meninggalnya ibu empat tahun lalu. Lantas kenapa saat bapak sakit, semua kakak tiriku bergantian memintaku pulang? Tidak mungkin kalau bapak tiba-tiba ingat pada putri dari perempuan yang ia nikahi lalu ia telantarkan hingga ujung hayat.

“Perempatan Panji!”

Lamunanku terhenti. Kernet bus sudah membuka pintu. Kujejakkan kaki di bumi Situbondo setelah kurang lebih empat tahun tidak pulang ke sini. Tidak banyak berubah. Retakan di gapura merah itu masih sama. Toko obat di seberang jalan juga masih belum mengganti spanduknya yang sudah luntur karena sinar matahari. Yah, aku pergi cuma empat tahun. Waktu yang singkat untuk sebuah kota kecil yang perkembangan pembangunannya tak secepat di ibu kota.

Rumahku masih 500 meter melewati gapura merah itu, terus ke utara sampai pemukiman warga yang berjajar di kanan dan kiri jalan, berakhir menjadi ladang jagung. Rumahku ada di paling ujung. Sedikit terpisah dari rumah-rumah lainnya.

Gudang Warisan Bapak: Chapter 1

Rumah di ujung/ Illustration by Hipwee

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis novel Midnight Restaurant, Midnight Hospital, Post Meridiem dan Timur Trilogi.